Anggie D. Widowati
Anggie D. Widowati

Penulis Novel: Ibuku(Tidak)Gila, Laras, Langit Merah Jakarta | Psikolog | Mantan Wartawan Jawa Pos, | http://www.anggiedwidowati.com | @anggiedwidowati | Literasi Bintaro (Founder)

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Aborsi

11 Januari 2018   15:18 Diperbarui: 11 Januari 2018   15:21 573 0 0

SERIAL SUZANNA FAMILI

Aku bukan penyuka suasana rumah sakit kecil atau yang lebih pantas disebut klinik ini. Aku sangat membenci aroma lantainya yang dipel dengan pewangi karbol yang menyengat. Atau wajah-wajah lelah para pasien yang antri menunggu. Wajah mereka kuyu dan pucat. Mereka bertarung melawan harap, rasa capai dan biaya yang terkadang menguras kantong. Satu-satunya yang kusuka dari rumah sakit adalah sebuah warung kopi kecil yang berada tak jauh dari klinik itu berada.

Tidak sepantasnya aku berada di sini kalau aku tahu bahwa Rosi menelponku dan memintaku datang ke klinik itu karena sedang mengantarkan keponakannya, Nadira aborsi.

"Ini melanggar hukum, Ros," kataku.

"Hanya 24 jam, setelah ini lupakam untuk selamanya, Zan," ujarnya memohon.

"Jangan berlebihan."

"Plis Suzan, mengertilah, kali ini saja."

Rosi duduk dengan tenang di depanku. Aku menghubungi Dr Tata,  ingin menanyakan beberapa hal, tetapi telepon genggamnya tidak aktif.  Akhirnya aku mencoba menikmati misteri  dihadapanku ini dengan secangkir kopi panas saja.  

Tata, selalu aku jadikan referensi untuk membicarakan apapun yang berkaitan dengan medis. Dan aku senang berbicara masalah kesehatan dengan dokter muda yang selalu bersemangat itu. Tetapi kali ini, dihadapaku adalah seorang perempuan yang sedang berusaha menyelesaikan masalah dengan menentang hukum dan melawan bentang alam.

"Dengan siapa Nadira hamil?" tanyaku.

"Seorang anak punk, seumuran dengannya," katanya sambil menyalakan rokok mild.

"Ibunya dimana sekarang?"

"Kakakku nggak mau ikut campur, sudah nyerah, tetapi aku tadi sudah menelponnya, aku heran anak jaman sekarang susah diatur ya, Zan."

"Memang, orang tua harus pandai-pandai menjaga mereka."

"Aku terpaksa mengambil keputusan ini, kakakku malah membuatku kesal, kalau bukan karena ingat masa kecil Nadira yang begitu manis, aku mendingan tidak ikut campur. Aku kasihan, umurnya belum genap tujuh belas tahun, kenapa mesti mendapat tanggungan anak, karena pacarnya tak mau bertanggungjawab."

Saat ini, Dira, sedang dalam penanganan dokter aborsi. Tentu saja dokter yang melakukan praktek secara ilegal. Karena di Indonesia melakukan pengguguran kandung tidak dibenarkan. Tetapi apa boleh buat. Sekolahnya masih kelas tiga SMU, dan usianya masih sangat muda.

"Kasihan," gumanku.

"Aku pernah bilang pada Kak Febby,  untuk membatasi pergaulan anak gadisnya, batasi jam malamnya, tetapi dia cuek saja, katanya Dira kan sudah dewasa, sudah bisa menjaga dirinya," Rosi berkisah.

"Kak Febby kerja ya, atau di rumah saja?"

"Kerja, dia karirnya sebagai produser televisi sangat gemilang, dia memang cemerlang," ujar Rosi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3