Mohon tunggu...
Anggani Safrino
Anggani Safrino Mohon Tunggu... MAHASISWA ADMINISTRASI PENDIDIKAN

NAMA : ANGGANI SAFRINO TTL : 20 APRIL 2000 TAPAN saya tinggal di TAPAN kecamatan ranah ampek hulu kabuaten pesisir selatan riwayat pendidikan saya TK asyah tapan SDN 1O TALANG SMPN 1 BASA AMPEK BALAI SMAN 1 BASA AMPEK BALAI Mahasiswa Aktif Program Studi Administrasi Pendidikan FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS JAMBI 2018-SEKARANG

Selanjutnya

Tutup

Ruang Kelas

Digitalisasi dalam Pendidikan

5 Mei 2021   12:26 Diperbarui: 5 Mei 2021   12:32 30 1 0 Mohon Tunggu...

Di era globalisasi ini, perkembangan dunia gital sangat pesat terutama didunia pendidikan karena tidak bisa dipungkiri bahwa kemajuan dunia digital ini akan terus berjalan maju, tentu kita harus mengikutinya dalam hal positif. penggunaan media digital dari internet saja surveinya pada tahun 2016 saja penggunannya sudah meningkat dengan rekor  132,7 juta penggunaan internet dari total 256,2 juta orang dan pengguna internet itu berkisar umur 10-14 tahun dan cukup tinggi pada tahun 2016 yakni sebanyak 768.000 penggunaan.dari ini bisa kita lihat bahwa di indonesia pemakain internet usia anak-anak dan remaja cukup tinggi (Manuel Jeghesta, 2017).

Perkembangan ini memiliki dampak semakin terbuka dan tersebarnya informasi dan pengetahuan dari dan kesuluruhan dunia menembus batas, jarak, ruang dan waktu. teknolgi telah mempengaruhi dan mengubah manusia dalam kehidupannya sehari-hari, sehingga jika kita tidak dapat menguasai teknologi maka akan terlambat dalam menguasai informasi dan akan semakin tertinggal dari negara maju.informasi  memiliki peran penting dan nyata pada era masyarakat informasi atau masyarakat pengetahuan. dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi itu pendidikan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat (suhendra, 2005)

                Berbicara digitalisi tentu tidak terlepas dari aplikasi-aplikasi teknologi yang kita kenal, dan kita sebut media sosial, dimana media sosial ini dipergunakan oleh human/manusia sebagai srana penunjung activity/aktivitas mereka sehari-hari, baik dalam berkomunikasi, mencari informasi, atau bahkan sekedar hiburan saja.

            Nah pertayaannya apakah media sosial buruk bagi pendidikan, menurut saya tidak buruk media sosial untuk pendidikan, mengapa? Karena pendidikan menurut saya memiliki sifat yang dinamis, dapat berubah-ubah, dan memiliki karakter tergantung kepada peserta didiknya, setiap peserta didik pasti memiliki karakter yang berbeda, dan memiliki cara pendidikan mereka masing yang disebut fasion, atau bakat mereka. Nah melalui media sosial ini lah mereka dapat mencari informasi bertukar informasi sesuai fashion mereka masing-masing, mereka bisa mengexplore semua yang mereka cari di media sosial.

            Pendidikan juga butuh untuk di ekpots sebagai media pengenal kepada masyarakat bahwa sebuah instasi atau lembaga pendidikan itu ada dan pengguna media sosial bisa tahu informasi dari lembaga pendidikan tersebut, seperti nama lembaga, alamat dan jurusan yang ada di lembaga pendidikan tersebut, contohnya saja seperti universitas jambi, ketika di cari di google universitas jambi akan muncul dengan segundang informasi, mulai dari informasi masuk kuliah, jurusan, sampai ke baiya kuliah, tentu ini akan memudahkan para orang-orang mendapatkan informasi tampa datang langsung ke jambi.

            Berbicara gawai baik tidak penggunaan gawai atau gagjet ini bagi siswa, saya berpandanga dalam kelas pendidikan tingkat SMP/SMA merut saya ini merupakan trobosan baru dalam mengizinkan siswa SMP/SMA mengunakan gawai sebagai media pendukung dalam belajar, mereka dapat mengakses informasi-informasi yang actual dan factual ketika meraka dalam mencari tugas dan informasi yang diberikan guru. Tetapi ini harus dibatasi dengan pengawasan guru jika disekolah untuk menjamin mereka benar-benar belajar dan mangakses sumber-sumber pelajaran yang telah di tetapakan bukan membuka aplikasi lain, seperti game, dan lain sebagainya.

            Dimana telah dijelaskan tadi di awal bahwa pemaikai gatget ini banyak terhadap anak remaja yang berumur 10-14 tahun. nah disini lah PR bagi orang tua dalam perlunya mengontrol anak-anak mereka untuk pengunaan gaget ini agar mereka tidak terpengaruh dan kecanduan gaget atau kecanduan bermain game online apalagi judi online, kan ini akan sangat berpengaruh buruk bagi anak-anak mereka.

            Dirumah saya pemakai gawai hampir 16 jam dan pemakaian gaya itu hanya di gunakan oleh saya dan adik saya yang berumur 12 tahun dan 16 tahun mereka mengunakan gawai bergantian dan saya memiliki gawai sendiri. Mereka lebih banyak mengkases game dan vidio-vidio di medsos baik. Karna adek saya yang berumur 16 tahun ini mondok jadi dia tidak mengunakan hp saat di pondok, ketika dirumah dia kembali mengunakan hp, tapi sedikit berkurang, hanya sekedar melepas waktu luangnya saja.

            Ketika saya masih SMA dulu pihak sekolah selalu melarang saya dan teman-teman lainya membawa gawai kesekolah karena akan mengangu saat belajar di kelas, dan sekolah selalu melakukan razia gawai. Tapi dengan kebiajakan dan di masa pandemi serta di masa era globalisasi ini tentu, gawai tidak lepas dari kehidupan kita sehari, nah lalu bagaimana kebijakn sekolah untuk mengatur siswa dalam pemakain gawai disekolah menurut saya kembali kepada kepala sekolah dan guru, dalam mengunakan media gawai dalam pembelajran di sekolah.

SUMBER

Manuel Jeghesta. (2017). pengguna internet terbanyak di indonesia anak umur 10-14 tahun.

suhendra, A. (2005). mobile agent untuk manajemen jaringan komputer. universitas petra.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x