Mohon tunggu...
Andrian Habibi
Andrian Habibi Mohon Tunggu... Kemerdekaan Pikiran

Menulis apapun yang aku pikirkan. Dari keresahan atau muncul untuk mengomentari sesuatu. Cek semua akun dengan keynote "Andrian Habibi".

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Santri Bangun Stabilitas Bangsa [IIEE2017]

22 November 2017   13:30 Diperbarui: 22 November 2017   13:33 0 2 1 Mohon Tunggu...
Santri Bangun Stabilitas Bangsa [IIEE2017]
Menteri Agama. (Foto: Pendis Kemenag)

Puluhan pakar keislaman dari luar negeri melihat langsung dan mengkaji Islam di Indonesia. Tahu kenapa? Karena kehidupan beragama umat Islam Indonesia dinilai bisa menjadi contoh ideal bagi negara-negara di dunia. Indonesia terlihat mampu menghadirkan Islam yang moderat, toleran dan demokratis.

Para pakar berkumpul untuk menghadiri dua agenda besar: Konferensi Internasional Tahunan tentang Studi Islam (Annual International Conference on Islamic Studies/AICIS) dan Konferensi International Studi Pesantren (International Conference on Pesantren Studies).

AICIS dan Konferensi International Studi Pesantren merupakan rangkaian acara International Islamic Education Exhibition (IIEE) atau Pameran Pendidikan Islam Internasional 2017 yang dilaksanakan Direktorat Pedidikan Islam Kemenag tanggal 21-24 November 2017 di ICE BSD Serpong, Tangerang Selatan, Banten yang dibuka oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, Selasa 21 November 2017,  malam. 

Agenda tahunan ini digelar untuk memberikan kesempatan kepada para peneliti baik dari dalam maupun luar negeri untuk dapat mempresentasikan hasil-hasil penelitian mereka, sekaligus menjadi media membangun jejaring intelektual antarakademis. Di samping itu, forum ini menjadi wadah bagi para pengkaji Islam untuk sharing ide sekaligus mempertegas watak Islam Indonesia yang moderat dan toleran.

"Semoga forum ini mampu memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan studi-studi keislaman dalam rangka mengembangkan peradaban bangsa," ungkap Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin.

Menteri Agama menilai cinta dan loyal kepada tanah air adalah fitrah kemanusiaan yang diakui dan diapresiasi oleh agama mana pun sehingga tidak sepatutnya agama dan kewarganegaraan dipertentangkan. Sebab,  kewarganegaraan muncul dari loyalitas atas dasar kesamaan tempat tinggal, tanah air tempat seseorang dilahirkan dan dibesarkan.

"Dalam tradisi kaum santri, sangat populer ungkapan hubbul wathan minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman). Meski itu bukan hadis, tetapi makna dan substansinya sejalan dan sangat dianjurkan oleh agama (masyru')," sambung Menag saat menjadi keynotespeech pada forum AICIS.

AICIS 2017 ini mengangkat tema Religion, Identity, and Citizenship: Horizons of Islam and Culture in Indonesia. Menag mengapresiasi tema ini karena dinilai aktual di tengah munculnya berbagai konflik politik di banyak wilayah yang dipicu oleh keragaman identitas; agama, etnik, budaya, dan sebagainya dalam masyarakat. Tidak jarang konflik tersebut berujung pada kekerasan etnik atau kekerasan atas nama agama, seperti yang terjadi di beberapa negara saat ini.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Kamaruddin Amin mengatakan, dalam forum ini akan dibahas bagaimana seharusnya relasi antara agama dan negara dibangun serta bagaimana agama hadir dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Di tengah maraknya gempuran gerakan radikalisme global, kebutuhan pemahaman keagamaan yang moderat itu menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan. Indonesia bisa saja menjadi negara ultra konservatif seperti Saudi, bisa saja menjadi negara sekuler seperti Turki, bisa menjadi negara teokrasi seperti Iran, atau semi teokrasi seperti Pakistan, atau sangat ekstrem seperti Pakistan, tapi itu tidak terjadi karena kita punya benteng lembaga pendidikan Islam yang mengajarkan agama moderat," kata dia.

Selain dua agenda besar ini, IIEE 2017 juga diisi sejumlah agenda, di antaranya Deklarasi Jakarta, Apresiasi Pendidikan Islam (API), Anugrah Guru Madrasah Berpestasi (Gupres), Kompetisi Robotik Madrasah, dan Pentas Dongeng Islami PAI.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x