Mohon tunggu...
FIRITRI
FIRITRI Mohon Tunggu... Administrasi - Penulis, Penulis Mojokerto, Blogger dan Pembawa Acara yang tertarik dalam Human Interest, Budaya serta Lingkungan

Penulis, Penulis Mojokerto, Blogger dan Pembawa Acara yang tertarik dalam Human Interest, Budaya serta Lingkungan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Dharr, Petasan, Mercon, dan Lebaran

26 Mei 2020   08:18 Diperbarui: 26 Mei 2020   08:19 99
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Begitu gulungan mercon berbagai ukuran siap berkarung karung baru dilanjutkan mengisi obat mercon . Begitu saya sebutnya . Setelah diisi di lubang tengahnya lalu di sambung sumbu selanjutnya dipacek istilah untuk menutup lubang memakai bambu kecil menyisakan gulungan sumbu.

Petasan siap disambung-sambung atau istilahnya rentengi memanjang yang nanti akan disulut selepas solat id. Biasanya di gantung di galah panjang dengan sebutan watang .

Watang ini pokok bambu yang menjulang untuk menggantung petasan juntaian. Paling ujung akan di pasang petasan ukuran paling besar. Disini kami menyebutnya mercon blanggur hahaha... Seperti bom penghabisan...

Kalau saya lebih memilih mercon bumbung (dari bambu) atau mercon pendem (menggali tanah dan dikasih kaleng yang dilubangi kemudian dipendem atau dikubur menyisakan lubang).

Metoda nya sama. Dengan mengisi Karbit alias Kalsium Karbida dan dikasih air......akan ada reaksi yang menghasilkan gas asitelin. Gas mudah terbakar bahkan dipakai tukang las ini akan memenuhi kaleng yang dipendam atau bambu.....

Setelah gas banyak tinggal disulut api...

Dhuaaarrr!!! indah sekali suaranya....

Kembali ke urusan ibuk ibuk yang paling dinanti kanak kanak ketika itu adalah weweh. Ini tradisi saling berkirim hantaran nasi beserta kelengkapannya nasi, sayur , lauk pauk dan kue kue.

Dengan memakai baju terbaik kami anak anak berlomba mengumpulkan sangu sebanyak banyak . Setiap menghantar wewehan kami tidak akan pulang menunggu sampai tuan rumah memberi uang sangu. Berapapun yang kami terima rasanya senang sekali. Bahkan saya punya dompet kusus berisi uang sangu. 

Ketika itu saya hapal diluar kepala siapa siapa saja yang selalu memberi sangu uang besar. Tahun 80 an untuk ukuran kampung uang 1000 sudah sangat besar heheheh.

Puncak perayaan dimulai dengan malam takbiran. Masjid penuh dengan anak anak berebut saling mengeraskan suara. Dilanjutkan arak arak an membawa obor keliling kampung. Obor kami buat dari potongan bambu diisi minyak tanah . Sumbu memakai kain bekas yang dicelup minyak tanah. Pulang takbir keliling dipastikan muka menghitam karena asab obor hehehe

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun