Mohon tunggu...
Anandre Forastero
Anandre Forastero Mohon Tunggu... Penulis rasa dan pikiran

Psikolog

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Fenomena Upload - Viral - Sorry di Social Media

15 Mei 2020   14:55 Diperbarui: 18 Mei 2020   15:06 46 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Fenomena Upload - Viral - Sorry di Social Media
Pikiran sempit yang menggelitik (ilustrasi dari https://alfatihklaten.com/sempit-pikiran/ )

Akhir-akhir ini agaknya menjadi momen yang membingungkan untuk kita semua. Bagi kita yang berusaha terus update informasi terbaru terkait covid-19, alih-alih mendapatkan berita bahagia, kita justru menemukan berita-berita yang membuat kita garuk-garuk kepala sambil bertanya, “kok bisa sih?

Masih ‘panas’ banget di timeline media sosial kita, bagaimana masyarakat Indonesia mendadak bersatu padu mencemooh tindakan seorang pria, yang mengklaim dirinya adalah (katanya) youtuber, melakukan prank terhadap waria. Bagi yang belum tau, prank yang dilakukan adalah memberikan ‘makanan’ , yang ternyata adalah sampah. Jujur, saya tidak hanya membaca beritanya tapi berusaha untuk memahami perbuatannya. Semakin saya coba memahami, semakin saya dibuat bingung. Muncul pertanyaan paling mendasar, “Kok bisa sih?”. Saya sungguh penasaran bagaimana struktur berpikir yang ia buat sehingga ia memutuskan, “oke next content yang mau kulakukan adalah prank kasih makanan sampah ke waria ah!”. 

Belum usai tentang isu tersebut, kita diusik dengan berita seorang public figure yang jumlah followers-nya mencapai angka ribuan hingga jutaan, dengan yakin dan percaya diri mengatakan bahwa virus Covid-19 adalah hal yang tidak perlu ditakuti. Bahkan, muncul statement “gak perlu pakai masker” dari mulut mereka untuk mempertajam keyakinannya. Di tengah kondisi seperti ini, dimana para relawan, pejuang di garda terdepan sedang mempertaruhkan nyawa, tiba-tiba seorang (atau banyak) public figure dengan mudahnya mengatakan bahwa situasi pandemi Covid-19 ini bukanlah hal yang perlu ditanggapi serius.  

Saya berpikir, "Bagaimana ya perasaan keluarga korban meninggal akibat Covid-19 ketika mendengar statement-statement seperti itu”. Dan sekali lagi, saya penasaran bagaimana alur berpikir orang-orang seperti ini ya? Dimana letak empatinya?

Saya coba sedikit sharing untuk membahas dua hal yang menarik untuk sama-sama kita pelajari dan renungkan.

1. Gerakan menyepelekan Covid-19

Bagaimana pendapat anda ketika mendengar statement,

 “Gak usah takut virus Corona! Toh takdir ada di tangan Tuhan. Kalau memang waktunya mati ya pasti bakal mati kok” 

Perlu saya tekankan bahwa bukan hak saya untuk menghakimi belief dari orang lain. Tapi, sesederhana bahwa saya bingung ketika ada seseorang yang bisa membuat kesimpulan seperti itu. Jika benar memang Tuhan sudah menggoreskan tinta hidup kita, mulai dari hidup hingga mati, tapi apakah bijak jika kita bertindak tanpa menggunakan akal-logika yang sudah dikaruniakan Tuhan kepada kita?

Muncul pertanyaan sederhana lainnya untuk mereka yang merasa Corona tidak perlu ditanggapi serius., “bagaimana perasaan Tuhanmu melihat hambanya melihat tindakan yang tercela ditengah banyaknya pilihan tindakan bijak lainnya?”. Ya, menggunakan masker saat pandemi dan berusaha menjaga jarak adalah pilihan, begitu pula dengan jalan-jalan keluar tanpa masker dan menyepelekan dampak corona. Semuanya tergantung kebijaksanaan kita, pilihan mana yang lebih baik?

“Ga perlu usaha kayak gimana-gimana, toh ujung-ujungnya kita bakal mati juga kok! Jadi ga perlu takut lah”, katanya dengan suara lantang.

Statement itu sering saya dengar juga. Dengan pola pikir seperti itu, saya berpikir hal yang sedikit menggelitik. “Apa saya tidak perlu mandi tiap hari ya? Toh akhirnya kotor lagi… atau tidak perlu makan rutin karena ujung-ujungnya bakal laper lagi”. Entahlah, mungkin akal saya yang kurang tinggi sehingga belum bisa memahami secara penuh makna dari statement tersebut.


2. Fenomena “Upload-viral-sorry” 

Ya, saya sengaja membuat sebutan itu untuk menggambarkan bagaimana perilaku individu masyarakat yang akhir-akhir ini dapat kita lihat polanya, yaitu “Upload-Viral-Sorry”. Mereka dengan berbagai macam motif membuat konten, mengupload di media sosial, mendapat respon yang tidak sesuai harapannya (atau jangan-jangan memang sengaja minta di-bully ya? Hmm.. menarik), kemudian melakukan klarifikasi dengan mengupload konten permintaan maaf. Yang menarik, permintaan maaf itu bisa dilakukan atas kesadaran pribadi, atau atas dasar terpaksa karena terancam mendekam di jeruji besi. Fenomena “upload-viral-sorry” ini tampaknya menjadi tren baru yang membuat masyarakat jadi dag-dig-dug menunggu siapa lagi yang mau masuk ke siklus ini. Pelakunya bisa orang awam yang tidak sengaja di-record oleh orang lain, lalu viral kemudian melakukan klarifikasi atau bisa juga seorang public figure yang melakukannya. Tapi menurut saya tidak selamanya hal ini membawa hal negatif. Sebaliknya, Bagi “kaum ghibah” tentu fenomena ini akan menambah topik hujatan yang menambah kebahagiaan mereka.

Fenomena-fenomena tadi selalu menarik dibahas karena akan selalu ada pembenaran dari satu pihak ke pihak lain. Dan bukan masalah benar atau salah, tapi saya lebih tertarik membahas “kok bisa?”. Saya percaya bahwa ada satu pegangan mindset hidup yang bisa kita pegang bersama-sama khususnya di situasi saat ini dimana kita penuh ketakutan, kekhawatiran dan kecemasan.

Sebuah Mindset sederhana yang jika kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari akan membantu kontrol diri kita ketika diri kita ‘keluar jalur’,

“Apabila anda merasa benar, belum tentu orang lain salah. Belajarlah memahami orang lain”

Jangan-jangan saat ini bukan kota yang perlu di-lockdown, tapi pikiran sempit kita yang justru merugikan orang di sekitar kita.

Semoga kita selalu sehat, bahagia dan bersyukur. 

Salam.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x