Mohon tunggu...
Amri Modeong
Amri Modeong Mohon Tunggu... Amri Modeong

Lahir Di Desa Doloduo, Kecamatan Dumoga Barat Kabupaten Bolaang Mongondow, Pekerjaan Wiraswasta

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Mutasi D614G dan Tumit Achilles

22 September 2020   17:33 Diperbarui: 22 September 2020   18:35 28 2 0 Mohon Tunggu...

Dini Hari Pukul 02.40 Cahaya TV menyinari pelupuk mata sembari menghembuskan puluhan bahkan ratusan pertanyaan di batok kepala, kopi hitam selalu memberi ruang argumentasi atas segala kegundahan, di atas meja dia menanti dengan beberapa tegukan, saat semua terlelap siaran televisi merawat candu untuk saya sebagai penikmat, di bawah sadar alat ini terus mempertentangkan ruang batin dan logika, mungkinkah konspirasi atau ini benar-benar sebuah petaka bagi umat manusia, pertentangan yang cukup menyita energi malam itu, meski bertarung membunuh malam bukanlah perkara baru bagi saya, ini lazim dan sudah berlangsung cukup lama, khalayak menyebutnya Insomnia' dari beberapa sumber saya menyimpulkan Insomnia bukan karena asbab asupan gizi atau nutrisi tapi di sebabkan oleh "gangguan kecemasan".

sesekali meneguk kopi sembari memainkan cerutu di antara bibir, namun mata terus menatap layar flat 24 inci yang baru saja di berikan sala satu perusahaan finance di kota ini, sayang ini tidak gratis alias kredit. dari tayangan media saya menyimpulkan bahwa informasi ini akan menambah deretan koleksi Prajurit penakluk malam atau Insomnia, malam itu semakin menarik saat penyiar dengan ayunan tangan dan suara yang lugas seirama dengan konteks berita tentunya, dalam ungkapanya kurang lebih seperti ini "Pemerintah Kembali Memberlakukan PSBB karena sejak pagi kemarin Kasus Positif C-19 terus bertambah menjadi ribuan, saya lupa angka pastinya, dan ada kemungkinan Virus ini bermutasi menjadi D614G ungkap pembawa berita" ini kemudian tidak sekedar menambah kecantikan paras pembawa berita namun memberi pesan bahwa saya tidak sendiri melawan kecemasan.

"D614G" sekilas kedengaranya seperti Plat Nomor Mobil Mewah bagi mereka yang menghuni gedung-gedung simbol arogansi dan kemapanan, iklanpun berlangsung, saya kemudian mengangkat gelas dengan satu tegukan kopi di iringi dengan merdunya suara ayam jantan berkokok seakan memberi isyarat bahwa pertarungan yang nyata baru saja di mulai, kaum Borjuis-kapitalis memulai peperangan di pagi hari dan orang-orang miskin di malam hari. MALAM adalah Lelap bagi mereka yang Mapan namun Cemas bagi kami yang Pas-pasan. nyaris tak ada lelap bagi buruh, petani, pedagang, dan kaum miskin kota, karena di siang hari kami bertarung dengan orang-orang yang berwatak imperium-kapitalis dan di malam hari kami bertarung dengan rasa lapar dan cemas.

"Orang-orang tertentu" mengira bahwa yang mencemaskan adalah virusnya, ini keliru, lebih dari pada itu kecemasan sesunguhnya adalah pembatasan ruang aktifitas, ekonomi, pendidikan, agama dan lain sebagainya, bagi buruh, petani, pedagang bahkan ibu rumah tangga ini adalah ancaman serius. soal kebenaran tentang 'Virus' biarlah menjadi konsumsi bagi mereka yang memiliki interest, karena kebenaran duniawi bagi kami khatam sejak dalam pikiran, bahwa kebenaran tidak lagi tentang apa yang sebenarnya terjadi, kebenaran adalah soal siapa yang memutuskan.

jika situasi ini tidak di kelola dengan lembut dan hati-hati saya hawatir ini akan menjadi "Tumit Achiles" bagi mereka yang telah lama memburu ladang pembenaran.

Sejenak aku beristirahat dan keluar dari medan tempur sembari menjemput Pagi, tepat pukul 5.30. luka tembak dalam ruang batin masi membekas 'Moh. Gally Rambu Anarkhi' 13 Thn, sambil memegangi bahu adiknya 'Mikhayla' sontak kemudian melontarkan pertanyaan dengan bahasa lokal-Manado, 'Pak torang so boleh skolah ini hari.? Artinya ( apakah kami sudah bisa sekolah hari ini ), Jawabku sederhana "Tidak" sambil menghisap sisa cerutu di tangan kananku, kemudian dia bertanya lagi " apa ini gara-gara "Virus Corona".? Lantas aku menjawab 'Bukan" suatu saat kau akan mengerti.

Jadi ingat Pernyataan Sosiolog Amerika (George Ritzer)

"cara pandang tertentu seringkali lebih banyak pengikut, dari paradigma atau cara pandang lainya bukan karena iya benar, tapi karena iya memiliki kekuasaan yang mendukung dan memperluasnya"

Wallahu A'lam Bishawab.

VIDEO PILIHAN