Lihat ke Halaman Asli

M Syarbani Haira

Berkarya untuk Bangsa

Di Balik Memanasnya Cina Vs Indonesia

Diperbarui: 8 Januari 2020   23:32

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kawasan yang diributkan (Foto: Kompas.com)

Publik Ojo Terkecoh Rekayasa Berita 

Gejolak memanasnya hubungan Republik Indonesia dengan Republik Rakyat China semakin menjadi-jadi. Ratingnya mampu mengimbangi tanah longsor dan banjir di Jakarta, dan penembakan terhadap Jenderal Qasem Soleimani, pimpinan pasukan Garda Revolusi Islam Iran, atas perintah Donal 'Bebek' Trump, Presiden AS. Namun gosip ini mampu mengalahkan kasus Asuransi Jiwasraya, yang menghabiskan uang di atas 13 trilyun rupiah. 

Bermula dari berita masuknya kapal-kapal nelayan China, yang di kawal Coast Guard-nya, memasuki perairan Laut China Selatan, dekat Pulau Natuna. Kejadian ini, di mata publik negeri ini, seolah-olah merupakan sebuah "konflik berat" antara Indonesia dengan China, yang dibayangkan sudah berada diambang pintu perang terbuka.

Oleh karena itu, Menko Kemaritiman, Jenderal Luhut Binsar Pandjaitan, yang semula santun menyikapi perkembangan tersebut, terpaksa berubah style dan gaya bahasanya. Dari yang semula santun menjadi galak. Namun demikian, Menhan RI Jenderal Prabowo Subianto, belum berubah. "China itu Sahabat" ucap rival Jokowi saat Pilpres 2019 lalu.

Sementara Presiden RI, Joko Widodo, cukup faham psikologi publik. Ia tak ingin mengecewakan rakyatnya, maka sikapnya pun tegas, " ... tak ada kompromi dengan China ..." ucapnya. Rakyat pun akhirnya cukup puas dengan presiden yang terkenal suka blusukan ini.

Saya yang tak ngerti-ngerti urusan pertahanan dan hukum laut internasional pun merasa bingung. Di mata saya, dan juga publik luas, nasionalisme kita sedang terancam. Ini jika benar bahwa RRC akan mencaplok Kepulauan Natuna, sebuah Kabupaten di Provinsi Kepulauan Riau itu.

Saya sendiri belum pernah ke pulau itu. Jika sesekali ke Batam atau Singapura, paling saya main ke Tanjung Pinang (Pulau Bintan), untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Pulau Penyengat, ziarah ke maqam sastrawan terkemuka nusantara, Raja Ali Haji

Tetapi saya punya banyak rekan dan sahabat di pulau itu, baik teman saat sama-sama nyantri di Yogya tahun 1980-an, atau rekan-rekan mantan Aktivis PMII dan Kelompok Cipayung Yogyakarta, atau sahabat-sahabat aktivis NU. Melalui media sosial saya selalu sharing info dengan sahabat-sahabat PCNU Kabupaten Natuna, tentang keadaan di sana. 

Selain itu, saya juga punya senior, seperti Ahmad Dachlan (Walikota Batam 2 periode), dan Ghani Lasya, yang pernah menjabat Sekretaris Badan Otorita Batam. Menurut Ghani (kala itu), kawan-kawan di Natuna cukup terpencil dari Indonesia. Butuh waktu 6 jam perjalanan kapal laut dari Batam ke Kepulauan Natuna. 

Rekan-rekan di Pulau Natuna pun juga pernah cerita, betapa kontrasnya wilayah mereka dibanding pulau tetangga, seperti Singapura. Natuna gelap, dan negeri Singa itu terang benderang.

Tapi jangan kaget. Itu dulu. Kini sudah jauh beda. Setidaknya setelah Jokowi memerintah, negara sudah hadir, dan lebih peduli. Tetapi karena kemampuan masih terbatas, maka belum maksimal. Maka itu pula, nelayan nusantara memilih beroperasi di laut Jawa. Dalam kesunyian itulah, maka nelayan dari negara lain, seperti China, Thailand, Vietnam, dan lainnya masuk. Kebetulan di kawasan itu potensi ikannya sangat besar.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline