Lihat ke Halaman Asli

Rijo Tobing

TERVERIFIKASI

Novelis

Filosofi dari Sebuah Mesin Cuci

Diperbarui: 21 April 2023   00:07

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Tidak ada analogi lebih tepat di dunia ini untuk menggambarkan penyaringan dan pemurnian sifat-sifat manusia selain analogi proses kerja mesin cuci.

Beberapa waktu  lalu saya bicara tentang kulkas, pengaturan dan pembersihannya, yang menimbulkan bibit-bibit kontemplasi di dalam diri saya dan menelurkan satu buah tulisan tentang:

1. kapasitas,
2. menunda-nunda urusan, dan
3. belajar melepaskan.


Kemarin malam, setelah memperbaiki mesin cuci yang lagi-lagi ngadat, saya terduduk di depannya, memandangi mesin yang mulai bekerja semenjak semua baju kotor dimasukkan dan tombol 'Play' ditekan.

Begitu banyak pakaian yang harus dicuci.

Begitu banyak kotoran dan beban yang harus ditanggalkan.

Begitu banyak sabun dan air yang dibutuhkan.

Begitu lama waktu dan begitu besar energi yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan pakaian yang bersih dan layak dikenakan.

Melihat pakaian-pakaian itu direndam dengan air sabun, diputar dan saling dibenturkan, diperas dengan kekuatan mesin, berulang kali sampai tidak ada lagi residu deterjen yang tertinggal di dalam serat kain, saya mau tak mau teringat sebuah pepatah ini:

Besi menajamkan besi.
Manusia menajamkan manusia.

Tidak ada manusia yang sempurna, yang ada hanya manusia yang meniti jalan menuju kesempurnaan menurut ideologi dan paham yang dia anut.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline