Jalan Jalan

Ngintir Kalijaga: Tubing di Sungai Kreo

29 Oktober 2014   19:32 Diperbarui: 17 Juni 2015   19:16 372 0 0

Potensi pariwisata di provinsi Jawa Tengah tidak kalah banyak dan menarik dengan provinsi lainya di Indonesia. Kalau kita menengok lebih dalam, banyaknya potensi itu justru membuat peluang dalam pengembangannya. Apalagi saat ini, banyak potensi itu bisa melahirkan peluang bagi pemberdayaan masyarakat secara luas.

Potensi pariwasata yang sudah ada sekarang ini, tinggal mengembangkan dan menggalakkan. Untuk itu, peran semua pihak akan sangat dibutuhkan untuk menjadikan provinsi Jawa Tengah menjadi tujuan wisata yang berpotensi.

Diantara banyaknya obyek wisata di Jawa Tengah, sebut saja wisata minat khusus , seperti arung jeram (rafting), susur goa (cave tubing) dan Tubing. Tubing adalah olahraga air masuk dalam arung jeram namun dalam skala kecil dengan menggunakan ban dalam, sementara cave tubing olahraga air termasuk arung jeram yang dilakukan di goa-goa. Wisata air yang terdapat di Jawa Tengah diantaranya arung jeram disungai seperti di sungai serayu, Wonosobo-Banjarnegara, sungai Elo Magelang, sungai Progo,sungai Progo Atas Magelang, sungai Klawing Purbalingga dan banyak potensi-potensi wisata air lain.

Sebagai pilihan dalam wisata minat khusus air, sekitar Kota Semarang tepatnya di desa Kandri Kecamatan Gunungpati, 13 km dari pusat Kota Semarang terdapat Tubing Sungai Kreo yangdikelola oleh masyarakat Kandri. Awalnya, Tubing di Kreo dirintis oleh komunitas masyarakat Kandri, ini memanfaatkan keindahan sungai Kreo sebagai suatu kegiatan yang diberi nama ‘Ngintir Kalijaga. Salah satu kegiatannya adalah petualangan susur sungai dengan menggunakan ban karet perorangan yang kini dikenal dengan Tubing.

“Mungkin sebagian orang sudah terbiasa dengan istilah water sliding. Wahana ini  banyak dijumpai di obyek wisata buatan yang berhubungan dengan air. Tetapi water sliding yang ada di sungai Kreo, bukan wahana yg dibuat melainkan memanfaatkan yang ada di alam sehingga memberikan suasana yang berbeda,” ujar  Sumardani, penggagas sekaligus pelindung dari ‘Ngintir Kalijaga’ didampingi pemandunya, Rokmat.

Arung jeram Kali Kreo dengan water tubing tentu sangat seru dan menantang. Dengan menggunakan ban dalam yang berisi angin penuh, kita diajak menyusur kali sepanjang 3 km. Banyak pemandangan alami yang menakjubkan disuguhkan sembari kita menikmati sekurangnya 20 jeram yang ada.

“Selain kurang lebih ada 20 jeram, kita juga akan melintasi berbagai kedung seperti Kedung Celeng, Kedung Malang, Batu Cinta, Karang Tumaritis dan juga Kedung Lesung yang di dalamnya berlubang sehingga saat berbahaya jika sampai terjatuh ke dalamnya,” jelasnya seolah cerita tersebut bakal menantang adrenalin kita.

Menurut Dani, selain melintasi bebatuan yang besar pada sisi kanan kiri sungai terdapat kebun-kebun penduduk yang alami kita juga akan disuguhkan cerita-cerita tentang ‘petilasan Sunan Kalijaga yang konon sampai saat terus menerus dijadikan acara yang rutin di desa Wisata Kandri.

Sunan Kalijaga

Yang menarik, sepanjang perjalanan selama kurang lebih dua jam, kita juga bisa menyimak sejarah saat Sunan Kalijaga membawa dua batang kayu jati yang hendak digunakan untuk tiang Masjid Demak melalui sungai ini. Selain itu kita juga akan lebih banyak tahu berbagai kisah Sunan Kalijaga yang memiliki hubungan sejarah erat dengan Kandri dan Kreo ini.

“Makanya kami menamakan paket arung jeram ini dengan Nginthir Kalijaga karena di sinilah dulunya Kanjeng Sunan membawa kayu jati untuk membawa kayu namun juga sebagai nguri-nguri sekaligus napak tilas,” terang Dani.

Dalam usaha membawa kayu jati tersebut, Sunan Kalijaga kesulitan karena derasnya arus pada waktu itu, hingga kayu jati Sunan Kalijaga tidak berjalan mulus tentunya, sempat menyangkut di Kedung Lesung, dan juga mengalami kesulitan mengangkat. Ini akibat beratnya kayu tersebut, bahkan ada tapak kaki di atas salah satu batu sebagai bukti sulitnya mengangkat kayu tersebut, sebelum akhirnya dibantu para kera dari Gua Kreo.

Setelah berhasil mengangkat kayu-kayu, sebagai balasannya atas usaha yang dilakukan oleh monyet-monyet itu, Sunan Kalijaga memberi mereka makanan (bancaan) untuk dimakan bersama dan akhirnya Sunan Kalijaga menyuruh mereka menunggu hutan Kreo sampai saat ini.

Dalam usaha mengelintir itu konon terdapat batu bekas tapak kakinya Sunan kalijaga. Namun menurut Dani, bekas tapak kaki yang dibatu sudah hilang keberadaannya.

Untuk mengarungi jeram-jeram disungai Kreo seperti Jeram Congol dan Jeram Luk Telu memang dibutuhkan adrenalin untuk bisa melewatinya. Ngintir, bisa dimulai di dari pos gedung ceret dengan finish di pos Gedung Dowo dengan jarak sekitar 3 kilometer dengan istirahat sekali ditengah-tengah kemudian kita akan menikmati kelapa segar yang disajikan, serta snack dan jajanan pasar sambil berfoto-foto.

Dani mengungkapkan, paket wisata arung jeram ini memang baru dibuka. Pihaknya terus berusaha untuk melakukan berbagai persiapan terkait pembukaan paket wisata air ini. Tujuannya untuk menambah wisatawan yang dapat dilakukan warga, terutama berkait dengan mulai dibukanya Waduk Jatibarang.

Berbagai survei lokasi telah dilakukan Dani dan teamnya, dengan tujuan untuk menarik pengunjung lebih banyak danbenar-benar bisa menikmati perjalanan. Jumlah jeram serta lokasi menarik yang akan dilintasi juga telah disiapkan. Aneka perlengkapan tambahan sebagai penunjang keamanan seperti ban, jaket pelampung dan helm pengaman juga telah siap digunakan.

“Mendatang, kami juga akan mempersiapkan paket bagi anak-anak sekolah yang tentunya jarak tempuh yang pendek, biaya terjangkau serta perlengkapan yang aman bagi mereka,” papar Dani

Saat ini Tubing Sungai Kreo menyediakan paket Rp 100 ribu/orang dengan fasilitas pemandu (skeeper) makan siang, snack, foto serta pelampung, helm serta keamanan lain yang tentunya akan menambah pengalaman dalam berwisata minat khusus.

“Kini warga Semarang tidak perlu jauh-jauh lagi ke luar kota jika ingin bermain arung jeram, karena di Desa Kandri sudah ada.” ujar Dani. (ma)