Mohon tunggu...
Amalia Adhandayani
Amalia Adhandayani Mohon Tunggu... Akademisi.

Mempelajari psikologi dan kepribadian manusia.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan featured

Menelisik Kepribadian Para Pemerkosa

10 Desember 2018   11:46 Diperbarui: 7 Januari 2020   10:26 205 6 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menelisik Kepribadian Para Pemerkosa
Ilustrasi mencari korban pemerkosaan. (KOMPAS.COM/HANDOUT)

Setiap hari, tiada habisnya kasus-kasus perkosaan yang muncul di berbagai media. Pemerkosaan seakan tidak pernah mereda, justru kasusnya semakin meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan ada beberapa media yang khusus menampilkan berita pemerkosaan terkini, yang menggambarkan betapa maraknya kasus ini di Indonesia. 

Lalu, apa sebenarnya motif mereka? Apakah hanya nafsu semata? Atau sebenarnya mereka memang memiliki "kepribadian pemerkosa"?

Motif dan Karakteristik Pemerkosa 

Banyak penelitian di tahun 90-an yang membuktikan bahwa umumnya motif utama pemerkosa adalah karena kekuasaan, perasaan marah dan seks. 

Umumnya, faktor risiko dan karakteristik pemerkosa didominasi oleh laki-laki, berusia muda, memiliki status sosial ekonomi yang rendah, memiliki tingkat pendidikan rendah, memiliki riwayat pekerjaan yang tidak stabil, pernah menjadi pelaku pelecehan seksual dan pernah terlibat dalam tindak kriminal (Gannon et al., 2008). 

Meskipun tidak semua pelaku pemerkosaan berusia muda dan memiliki status sosial ekonomi yang rendah, namun tekanan ekonomi ataupun perasaan  "lemah/tidak berdaya" sebagai laki-laki seringkali mengarahkan seseorang untuk melakukan tindak perkosaan ataupun pelecehan seksual.

sumber: dailypost.ng
sumber: dailypost.ng
Budaya dan Alkohol terhadap Perkosaan

Pemerkosaan seringkali tumbuh subur di budaya patriarki, karena adanya perbedaan peran yang kuat antara pria dan wanita. Maskulinitas yang dianggap lebih tinggi derajatnya dalam budaya ini menguatkan pandangan bahwa pria adalah mahluk yang kuat, berkuasa, dan punya kekuatan yang lebih besar dibanding wanita. 

Selain itu, pemerkosa menjadi lebih agresif secara seksual karena mendukung berbagai mitos pemerkosaan, seperti "Tidak berarti iya" dan "Mereka (perempuan) benar-benar menginginkannya". Umumnya pemerkosa menganggap bahwa sebenarnya bukan mereka yang menginginkan hubungan seksual, melainkan perempuan. 

Adanya kesalahan dalam pola pikir pemerkosa seakan menyudutkan perempuan dan membantu mereka untuk merasionalisasikan tindak perkosaan ini. Perempuan pun seringkali disalahkan karena menjadi korban perkosaan. 

Mereka dianggap "mengundang" para pemerkosa dengan menggunakan pakaian mini atau ketat, meskipun nyatanya pemerkosaan pada perempuan yang menggunakan pakaian rapat dan tertutup sekalipun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN