Mohon tunggu...
Amelia Ratih Amanda
Amelia Ratih Amanda Mohon Tunggu... Freelancer - Gadih minang-PII Wati

Ribet dan ricuh di tulisan, simpel dan kalem didunia nyata.

Selanjutnya

Tutup

Wisata Pilihan

Batang Tabik: Mandi Pagi Paling Apik

3 Juli 2020   11:46 Diperbarui: 3 Juli 2020   12:14 509 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Batang Tabik: Mandi Pagi Paling Apik
Dok. pribadi

Seperti daerah-daerah kebanyakan di Sumatera Barat, Kabupaten 50 kota juga memiliki pemandian alami yang sangat tersohor.
Batang tabik namanya. Wisatawan seringkali salah menyangka bahwa pemandian alami ini terletak di Kota Payakumbuh. Padahal, sebenarnya Batang Tabik terletak di Nagari Sungai Kamuyang, Kabupaten 50 Kota.

Saya rasa, kesalahan persepsi soal lokasi Batang Tabik ini disebabkan karena gerbang masuk ke pemandian terletak tidak jauh dari tugu perbatasan antara kota Payakumbuh dan Kabupaten 50 Kota.

Nama Batang Tabik ini berasal dari sumber airnya. Kata "tabik" dalam bahasa Minang, berarti "terbit". Air yang terbit dari mata air dalam tanah ini kemudian dibendung sehingga menjadi kolam dan dinamakan Batang Tabik.
Konon, Air di Batang Tabik berasal dari Danau Singkarak yang notabenenya berlokasi cukup jauh dari Batang Tabik.

Biasanya, saya mengunjungi Batang Tabik di Minggu pagi dengan mengendarai sepeda motor. Jarak dari rumah saya ke Batang Tabik sekitar 30 menit perjalanan. Tidak terlalu jauh, bukan?

Sesampai di Batang tabik, apabila pengunjung tidak berpandai-pandai, para penjual tiket masuk biasanya akan meminta biaya retribusi Rp.10.000 per-orang.
Bagi anda yang memiliki kelihaian tawar-menawar, hal ini bukan perkara sulit. Cukup katakan "Ndak 5000 do tu da? Awak biaso 5000 kasiko nyo da." (Nggak 5000 ya bang? Saya biasanya cuma bayar 5000 kalau kesini.)
Biasanya penjual tiket akan mengalah dan menerima uang yang telah disodorkan.

Setelah memasuki area Batang Tabik, saya biasanya langsung memarkirkan motor di area yang telah disediakan pengelola wisata setempat. Sebenarnya, ada dua lokasi parkir di Batang Tabik.
Dahulu saya lebih memilih parkir di belakang, sebab biaya retribusi yang langsung Rp.5000 tanpa proses tawar menawar. Namun, akhir-akhir ini saya lihat sama saja. Penjaga parkir di belakang Batang Tabik juga kerap meminta biaya retribusi lebih kepada pengunjung.
Sehingga, untuk masalah parkir saya tidak terlalu pilah-pilih. Mau di depan atau di belakang, yang penting sepeda motor saya ada yang menjamin keamanannya.

Secara keseluruhan, ada tiga kolam yang berada di kawasan wisata Batang Tabik. Kolam anak-anak, kolam dewasa, dan kolam ibu.

Uniknya, kolam yang diberi nama kolam ibu kebanyakan malah berisi anak-anak muda yang bergerombolan. Termasuk saya sebenarnya, hehe.
Kolam ibu terletak di bagian paling belakang kawasan Batang Tabik, bersebelahan dengan pohon beringin besar yang konon sudah berusia ratusan tahun.
Untuk masuk ke kolam ibu, pengunjung dapat melalui pintu masuk yang hanya muat untuk satu orang. Sehingga, di pintu masuk, kerap terlihat pengunjung yang mengantre dan berjalan membentuk barisan untuk masuk ke area kolam ibu.
Berbeda dengan dua kolam lainnya yang berlantai keramik, kolam ibu masih berlantaikan bebatuan alami.
Air yang jernih membuat lantai kolam yang dipenuhi batu-batu alam dan lumut terlihat jelas. Uniknya lagi, ada batang kayu besar yang terdapat di dasar kolam ibu. Biasanya pengunjung banyak yang berdiri di atas batang kayu ini agar tidak terlalu terbenam ke dalam air. Batang kayu ini juga dapat berpindah-pindah lokasi setiap saatnya. Bisa jadi di pagi hari ia terletak di dekat pintu masuk kolam ibu, siang harinya ia terletak di tengah kolam.
Hal ini bukan karena pengaruh mistis. Batang kayu ini berpindah tak lain dan tak bukan karena ada pengunjung kolam ibu yang iseng mengangkatnya bersama-sama dari dalam air.
Jika kita berenang di Batang Tabik, jangan heran dengan banyaknya ikan yang berenang bebas di kolam ibu. Konon, katanya, ikan-ikan ini adalah ikan larangan yang tidak boleh ditangkap.

Air di Batang Tabik terkenal sangat jernih dan dingin. Hal ini juga menjadi alasan terkuat saya untuk pergi berenang ke Batang Tabik di pagi hari.
Airnya yang dingin dan segar sukses membuat saya 'terbangun'.
Saya rasa, saya lebih cocok menyebut diri saya mandi pagi di Batang Tabik ketimbang berenang di Batang Tabik.

Seusai mandi, saya tak langsung pulang.
Udara yang dingin membuat perut saya keroncongan. Mie rebus dengan telur adalah menu favorit saya di kedai ama yang terletak tepat di bawah pohon beringin besar.
Ada yang memanggil beliau dengan sebutan "Ama" yang berarti mama atau ibu, ada juga yang memanggil "Ante" yang berarti tante.
Pengunjung kedai ama sangat ramai.
Meskipun begitu, ama sangat sigap melayani pesanan orang-orang. Dalam beberapa menit, mie rebus yang masih mengepul terhidang di hadapan para pengunjung.
Selain mie, ama juga menjual makanan yang lain. Seperti karupuak kuah (kerupuk yang diberi mie dan disiram kuah khusus), aneka gorengan, teh manis, kopi, dan lain sebagainya.
Kedai ama juga tempat favorit saya untuk menitipkan handphone, jaket, dan sendal ketika asik berenang ria di kolam ibu.
Sepengetahuan saya, belum ada pengunjung yang protes akibat kehilangan barang ketika menitipkan barang di sini.

Fasilitas di Batang Tabik terbilang lengkap. Ada mushalla, ada puluhan kedai makanan, dan ada pula puluhan kamar ganti.
Kamar ganti adalah fasilitas yang hampir tak pernah saya gunakan. Saya adalah tipikal orang yang pergi dan pulang berenang akan memakai baju yang sama.
Artinya, saya pulang berenang dengan baju basah yang akan kering sendiri ketika di perjalanan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x