Mohon tunggu...
Alvi Anugerah
Alvi Anugerah Mohon Tunggu... Administrasi - Menulis jika sedang menggebu-gebu

Humaniora Universal.

Selanjutnya

Tutup

Healthy Artikel Utama

Pelajaran dari 30 Hari Berhenti Merokok

20 Februari 2019   10:43 Diperbarui: 20 Februari 2019   11:32 1046
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Bagi saya, ini cara menarik. Alih-alih menonton kembang api sambil membuat resolusi di tanggal 1 Januari, lebih baik nazar. Kalo resolusi gak ditepati, apa kamu tega menghukum diri kamu sendiri yang nggak menjalani resolusi? Dengan kamu nazar, kamu melibatkan pihak lain demi memperkuat upaya kamu mengubah diri. Gak tanggung-tanggung lagi, yang kamu libatkan adalah Tuhan kamu sendiri. 

Upaya menjalankan nazar ini bukan berarti berjalan tanpa hambatan. Baru saja menginjak hari kedua pelaksanaan, saya mendapatkan goncangan mental yang biasanya saya lampiaskan dengan merokok. 

Wah, berat rasanya. Lagi stres, tapi nggak bisa merokok. Saya sampai googling apa dosa dan hukumnya seseorang yang  melanggar nazar (kamu bisa googling, baca literatur terkait, atau tanya ustaz komplekmu). Ternyata, berat juga. Yaudah, saya tahan aja untuk gak ngerokok, and it works. 

Lalu, bagaimana buat kamu perokok yang ingin berhenti tapi kamu nggak percaya Tuhan?

Coba deh bikin komitmen dengan orang yang kamu takutin (bos, pacar, orangtua) terus minta mereka menghukum kamu kalo kamu melanggar komitmen itu. 

Dan yang paling penting dari semua perlakuan itu ya jujur sama diri sendiri, sih. Jangan sampai "kau yang mulai, kau yang melanggar sendiri.

Kasihtahu Teman-teman Sesama Perokok

source: pixabay.com
source: pixabay.com
Saya sengaja memberitahu para anggota geng sebat saya bahwa saya sedang menjalankan nazar 30 hari tanpa merokok. Reaksi mereka sama: menggoda saya untuk membatalkan nazar.

Tapi yang menarik, 4 dari 5 anggota geng menyarankan saya untuk berhenti merokok total. Miris. Mereka ternyata peduli dengan kesehatan saya, tapi tidak peduli dengan kesehatannya masing-masing, hahaha.

Awalnya, saya mengira akan "menjauhi" teman-teman saya yang merokok selama kurun waktu 30 hari itu karena khawatir setan lewat dan menggoda saya. Nyatanya nggak lho.

Saya masih bisa ngobrol di saat mereka sedang sebat tanpa adanya godaan-godaan ingin ikutan merokok. Itu berarti, istilah roper alias rokok persahabatan tidak valid. Saya masih bisa bersahabat dengan geng sebat tanpa harus ikut mengisap rokok. 

Ajang Bukti Jadi Lelaki Sejati

pixabay.com
pixabay.com
Tidak hanya menjadi lebih sehat, berhenti merokok juga membuat saya jadi hemat. Saya bisa menghabiskan biaya hampir 300 ribu sebulan untuk beli rokok. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun