Mohon tunggu...
Aloisius Johnsis
Aloisius Johnsis Mohon Tunggu...

Aloisius Johnsis aktif menulis di berbagai medium baik daring maupun cetak. Minat utamanya berkisar pada jurnalisme seperti media, menulis, fotografi, dan videografi.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Sepotong Rajutan Mimpi

31 Desember 2018   12:11 Diperbarui: 2 Januari 2019   17:02 0 2 1 Mohon Tunggu...
Sepotong Rajutan Mimpi
Sumber: www.funkidslive.com

Manusia itu hidup dari mimpi. Melalui mimpi dia punya semangat dan harapan untuk mewujudkannya, maka teruslah bermimpi. Setidaknya itu salah satu prinsip hidup yang aku percaya hingga saat ini. Tidak terasa, 2018 sebentar lagi akan mencapai ujungnya. Satu lagi tahun hendak berlalu. Selalu, pada detik-detik akhir baru disadari betapa cepatnya waktu berjalan. Memang bukan hal yang baru, tapi sering kali dianggap lalu.

Sedih, gembira, susah, senang, dukacita, dan sukacita menjadi warna-warni yang memiliki kesan tersendiri dalam panggung pertunjukan bertajuk 'kehidupan'. Memang indah kalau berbeda, sekalipun itu adalah bencana, pasti ada kepedulian, gotong royong, dan toleransi di dalamnya.  

Pagi ini, sambil menyaksikan awan yang sedang disapu angin di kaki Gunung Semeru aku berfikir dan bertanya-tanya, "Gimana 2018 ini? Sudah sampai hari ke-365. Sudah ngapain aja ya?"

Melihat guratan Gunung Semeru yang mulai tampak, aku merasa takjub. Takjub? Ya, rasanya persis seperti saat aku memejamkan mata, mulai menganimasikan mimpi dalam ruang imajinasi tanpa batas. Tersenyum dalam sepi, aku tersadar, mimpi-mimpi itu baru sedikit yang diwujudkan. Bahkan banyak yang belum dimulai. Bukan karena tidak mampu, karena rasanya ketidakmampuan itu hanya sebatas pikiran saja. Lalu karena apa?

Dinginnya pagi gunung berapi tertinggi di pulau Jawa itu menemani aku merenung dan merefleksikan satu tahun perjalanan yang akan segera berakhir. Rasanya nikmat, tapi harus segera kutemukan jawabannya. Banyak kemungkinan, mungkin karena malas, mungkin karena kesibukan, mungkin karena waktu yang sedikit, mungkin karena ide yang tidak muncul, mungkin karena keberanian yang tidak ada, dan sejuta kemungkinan lainnya.

Yup, manusia memang pintar mencari alasan. Sambil menyeruput teh untuk menghangatkan tubuh, aku sepakat dengan mimpi yang sudah dirajut sejak lama, alasan-alasan tersebut tidak boleh terulang lagi tahun depan.

Dalam diam, aku mencoba berbicara dengan Dia sang empunya kehidupan. Mencoba mengucap syukur atas apa yang telah digariskan. "Terima kasih Tuhan, telah memperbolehkan aku merefleksikan hidup, walau hanya sekadar dalam imajinasi dan ruang pikiran. Terima kasih atas perziarahan yang lebih dari hanya perjalanan. Terima kasih atas hal-hal luar biasa yang terjadi dalam hidupku, yang tentunya terjadi atas izinMu," kataku dalam hati.

Rasanya, 2019 harus menjadi tahun yang luar biasa. Tahun penuh kejutan, tahun penuh usaha, kerja keras, kepedulian, dan mimpi tentunya. Tahun yang baik dan penuh berkat bagi aku, kamu, dan kita semua.

Sambil menatap datangnya fajar pertama di tahun yang baru, lembaran baru siap dibuka. Buku siap ditulis dan sejarah siap diukir. Aku mulai merajut kembali potongan-potongan mimpi dan berusaha lebih keras lagi untuk mewujudkannya.

Bagaimana denganmu? Selamat tahun baru kawan!

(AJ)