Mohon tunggu...
puspalmira
puspalmira Mohon Tunggu... Freelancer - A wild mathematician

Invisible and invincible IG: almirassanti

Selanjutnya

Tutup

Trip Artikel Utama

Rekomendasi Agen Bus Pilihan di Phnom Penh

15 Agustus 2019   13:49 Diperbarui: 20 Agustus 2019   17:17 495
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Cerita sebelumnya: "Mutar-mutar Seharian di Phnom Penh, Siapa Takut?"

Selanjutnya, mari kita lanjutkan perjalanan kita... Masih MAIN COURSE

Kampong Chamlong Phnom Penh Areiy Ksatr

Ketika langit mulai bersahabat, saya belum menemukan jalan yang membawa kami keluar dari Sungai Mekong. Kami terus berjalan kaki sampai ke sebuah terminal ferry. Di sini, kapal ferry merupakan salah satu transportasi utama mengingat wilayah negaranya yang dipecah oleh banyak sungai besar. Seperti biasa, ke daerah manapun perjalanannya, saya harus mencicipi semua jenis transportasi yang mereka punya, termasuk kapal-kapal ferry ini.

Suasana bongkar muat dalam kapal ferry | dokpri
Suasana bongkar muat dalam kapal ferry | dokpri
Interior kapal di lantai 2 | dokpri
Interior kapal di lantai 2 | dokpri
Setidaknya terdapat tiga rute perjalanan yang tersedia di Pelabuhan Kampong Chamlong ini. Sebelum memutuskan untuk turun ke pelabuhan, saya harus mengamati berbagai kapal yang hilir mudik. Jika tidak, bisa-bisa saya tersasar ke luar kota karena nama dan rute kapal semuanya tertulis dalam huruf-huruf "cacing" Khmer. Ditambah lagi, tidak ada loket maupun petugas yang informatif. Akhirnya, dengan modal Basmalah, saya membayar karcis sebesar IDR 3.500 untuk menyeberang sungai.

Aslinya sih pejalan kaki nggak perlu bayar. Tapi nggak apa-apa, saya membayar sekalian ingin bertanya-tanya. Ya meskipun nggak dapat jawaban satu pun. Petugas pelabuhannya nggak ada yang bisa bahasa Inggris. Untung bisa balik ke pelabuhan semula.

Samdech Chuon Nath Statue

Menjauh dari sungai, saya menjelajahi berbagai taman kota yang masih bisa dijangkau oleh kedua kaki. Saya harus bisa membidik semua situs yang ada meski kaki rasanya sudah ingin berkhianat. Monumen pertama yang saya lewati adalah monumen seorang Patriark Agung Kamboja bernama Samdech Chuon Nath. 

Tokoh sejarah yang hidup sebelum tahun 70-an ini sangat berjasa dalam proteksi identitas dan sejarah Khmer serta konservasi Bahasa Khmer di Kamboja. Selain menuliskan kamus Bahasa Khmer, beliau juga menciptakan lagu nasional Kamboja, di antaranya berjudul "Nokor Reach" dan "Pong Savada Khmer".

Monumen Bapak Chuon Nath | dokpri
Monumen Bapak Chuon Nath | dokpri
Suasana kota di sekitar monumen | dokpri
Suasana kota di sekitar monumen | dokpri

Independence Monument

Terus ke arah barat, saya menjenguk Monumen Kemerdekaan Kamboja. Jangan bayangkan Tugu Monas yang menjulang tinggi di atas tanah Batavia. Monumen nasional yang saya temui ini tidak terlalu menarik perhatian.

Meski begitu, bangunan sejenis stupa yang berbentuk teratai ini tetap menjadi pusat aktivitas masyarakat pada berbagai perayaan nasional. Berdiri kokoh di tengah bundaran persimpangan jalan, monumen ini dibangun untuk memperingati kemerdekaan Kamboja dari Prancis tahun 1953 silam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun