Aliva Rosdiana
Aliva Rosdiana Dosen

Seorang ibu rumah tangga tulen yang juga beraktivitas mengajar di Unisnu Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Senang menulis, walau baru mengawali di Kompasiana. Kegiatan lainnya merajut (crocheting dan niat belajar knitting), memasak, dan bisnis.

Selanjutnya

Tutup

Wanita Pilihan

Ketika Seorang Ibu Harus Memilih Bekerja di Kantor atau di Rumah

9 Januari 2018   06:54 Diperbarui: 9 Januari 2018   12:06 1385 2 0


Saya yakin, sadar maupun tidak seorang ibu ketika sudah terjun bekerja semenjak masih lajang, lalu kemudian menikah dan memiliki anak merasa dihadapkan pada situasi sulit yaitu bekerja atau mengurus anak di rumah. Sering menjadi perdebatan batin bagi seorang ibu muda mengalami suatu dilema jika dalam keluarga tidak mendapatkan dukungan dalam pengasuhan anak ketika akhirnya harus bekerja. 

Di sisi lain seorang ibu tidak bisa lari dari kodratnya sebagai ibu untuk memberi asi pada bayinya. Mau tidak mau, seorang ibu pekerja harus berperan ganda, yaitu sebagai wanita karir dan juga tetap mengasuh anak. Itulah hebatnya seorang ibu. Ketika ibu memiliki instink keibuan. dia masih mengkhawatirkan keadaan anaknya yang sedang sakit.

Banyak di kalangan masyarakat masih mengagungkan derajat para wanita pekerja dibandingkan wanita yang hanya mengurusi anak dan mengerjakan aktivitas rumah tangga. Padahal dalam Al Quran disebutkan bahwa setiap manusia sesuai jenis kelaminnya bekerja sesuai porsinya. Saya selalu mengatakan pada anak-anak saya bahwa mereka sekolah itu sama dengan bekerja. 

Seorang ayah bekerja untuk mencari upah, anak belajar mencari ilmu, dan seorang ibu bekerja untuk mencari pahala. Walaupun ibu yang sedang bekerja di luar rumah dengan tujuan membantu suami namun sebagai kodratnya tetap ibu juga mengurus anak-anaknya dan mengurus rumah tangga. Di dalam Al Quran jelas disebutkan bahwa wanita harus menjaga pandangannya dari laki-laki dengan menutup aurat dan menjaga hubungannya dengan laki-laki sebagai rekan kerjanya.

Saya seorang ibu dari dua anak laki-laki saya, pernah mengalami dilema berat terhadap pilihan yang saya buat. Ketika saya harus memutuskan bekerja atau tidak selepas lulus kuliah S2, saya selalu merundingkannya dengan suami. Yang sulit adalah memutuskan ketika ada seorang bayi baru lahir dan ketika cita-cita lain sudah di depan mata. Harapannya adalah dengan freshgraduate di genggaman, menjadi dosen muda di universitas ternama adalah harapan ingin membantu sang suami mencari nafkah. 

Dan menurut hemat saya saat itu dengan melamar pekerjaan, maka akan ada waktu tersisa untuk mengasuh si kecil sampai ada saatnya dipanggil untuk bekerja. Ketika kita berharap lama panggilan itu datang, justru malah sebaliknya. Dunia saya pun ikut berputar cepat untuk mencari seorang pengasuh. Segala doa selalu kupanjatkan untuk kebaikan bersama. Dan Allah SWT mengabulkan walaupun ketika berangkat kerja hati selalu merasa gundah memikirkan si kecil tinggal dengan pengasuhnya di rumah.

Apakah ini sebuah kesalahan jika ibu bekerja sementara di rumah anak-anaknya yang masih balita tinggal ditemani pengasuhnya? Sehingga banyak yang masih membandingkan sosok ibu yang baik di masa lampau dengan ibu baik di masa sekarang. Mungkin di kota besar paradigm ibu baik di masa lampau sudah pupus dan tergantikan dengan masa sekarang. Saya sebagai seorang ibu dari anak-anak saya sering berusaha bagaimana menyatukan sosok ideal ibu yang baik di masa lalu dengan kehidupan zaman sekarang yang sangat berbeda.

Beberapa pemikiran ibu yang merasa yakin untuk selalu menemani anaknya di rumah dengan harapan adanya penyatuan emosi yang kuat antara seorang ibu dengan anak-anaknya sehingga bisa memantau kapan anak bahagia dan merasakan sedih. Sedangkan seorang ibu berkarir merasa yakin jika anaknya akan baik-baik saja tanpa ibu disampingnya setengah hari di saat ibunya bekerja, dengan harapan anaknya akan lebih mandiri, menyelesaikan persoalannya sendiri, dan memiliki banyak teman. Sehingga banyak ibu pekerja yang sengaja menyekolahkan anak-anak mereka di full day school­ agar waktu yang mereka dapatkan di sekolah sama dengan waktu ibu bekerja sehingga orang tua mereka memiliki waktu untuk menjemput dan menanyakan kegiatan mereka selama di sekolah.

Apakah pandangan ibu berkarir seperti itukah yang saya rasakan? Awalnya iya. Dibalik ke “iya”an itu ada rasa cemas yang menggelayut dengan ketidakyakinan bahwa anak-anak tidak membutuhkan sosok ibunya ketika mereka sudah sampai rumah namun tidak didapati ibu yang menemaninya. Ketika mereka sudah bukan balita lagi dan sudah bersekolah di tingkat sekolah dasar, saya sebagai ibu merasa belum mengenal sepenuhnya karakter seorang anak yang kelihatannya introvert. Berbeda dengan anak lainnya yang lebih banyak bercerita. Apakah ini sebuah kesalahan? Mungkin iya. Sehingga dilemma kembali muncul sama seperti saat mereka masih bayi dan saya harus meninggalkan mereka dengan pengasuh.

Berbagai buku parenting sudah saya baca demi mencari jawaban atas persoalan saya. Dan kemudian saya menemukan buku karangan Susan Chira berjudul Ketika Ibu Harus Memilih dirasa pas untuk mengatasi rasa bersalah saya meninggalkan anak-anak bekerja sementara mereka di rumah sekitar dua hingga tiga jam, kadang lebih. Berkali-kali saya berdiskusi dengan suami apakah saya harus berhenti bekerja dan mengawasi mereka atau saya tetap bekerja. 

Dilemma ini dikarenakan saat saya mendapati keduanya mulai memasuki usia sekolah dan pernah berkata kepada saya jika lebih memilih saya menjemput mereka sekolah lebih awal. Hingga pada akhirnya saya harus menuruti kata hati untuk fokus pada anak dan tidak mempedulikan lainnya kecuali tanggungjawab anak dan pekerjaan. Saya tidak terlalu peduli pada apapun saat itu. Sampai pada akhirnya semuanya kembali tenang.

Dua tahun kemudian masalah yang sama kembali muncul, saya kembali membaca buku parenting untuk mencari solusinya. Masalah pun telah saya temukan bahwa saya tidak boleh terlalu keras menuntut anak-anak untuk belajar. Saya sadar mungkin saya biarkan saja mereka untuk menonton TV dan bermain sepuasnya. Seperti yang dikutip dalam buku Chira bahwa menjadi ibu bukanlah suatu pertandingan sebagai ajang memamerkan anak, dan para ibu tidak usah kehilangan jati dirinya dalam perjalanan membesarkan anaknya. Hal ini menjadi kekhawatiran berlebih terhadap anak akan masa depannya terlalu berlebihan dan saya akan merubahnya.

 Saya tidak boleh terlalu membiarkan mereka karena mereka belum waktunya mandiri. Dan yang paling penting dan selama ini saya abaikan yaitu menjadi ibu yang peka. Peka disini yaitu memahami anak, dan tidak membiarkan anak melakukannya sendiri tanpa pantauan orang tua. Karena mereka belum saatnya. Hingga nanti saatnya mereka siap baru saya bisa melepaskannya. Akan tetapi, apakah sampai akhir hayatnya seorang ibu sanggup melepaskan anaknya dari genggamannya? Saya rasa tidak.

Solusi bagi ibu bekerja dengan tidak melepaskan pengasuhannya terhadap anak-anak adalah terus melakukan pemantauan baik lewat komunikasi jarak jauh maupun lewat pengasuhan orang lain. Jangan biarkan anak-anak kita lepas dari pemantauan karena mereka belum saatnya melangkah sendiri tanpa pegangan. Terus komunikasi dan tetap teguh pada peraturan. Terkadang seorang ibu seperti saya suka lengah dan akhirnya melanggar peraturan. Tegas itu perlu agar anak memahami bahwa baik di rumah maupun dimanapun mereka berada pasti ada peraturannya. Semoga dengan cara seperti ini seorang ibu bekerja tidak akan berpikir bahwa berkarir adalah sebuah kesalahan, karena pada dasarnya sama saja. Entah berkarir atau tidak, seorang ibu tetaplah memiliki kodrat seorang ibu yang mengasuh anaknya dan mengatur rumah tangga.