Mohon tunggu...
Alip Yog Kunandar
Alip Yog Kunandar Mohon Tunggu... Penulis - Bukan Pemikir, Meski Banyak yang Dipikirin

Dosen Ilmu Komunikasi UIN Jogja, yang lebih senang diskusi di warung kopi. Menulis karena hobi, syukur-syukur jadi profesi buat nambah-nambah gizi. Buku: Memahami Propaganda; Metode, Praktik, dan Analisis (Kanisius, 2017) Soon: Hoax dan Dimensi-Dimensi Kebohongan dalam Komunikasi.

Selanjutnya

Tutup

Kurma Pilihan

Kangen Surau di Atas Empang

30 April 2021   06:39 Diperbarui: 30 April 2021   06:41 2055
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kangen surau di atas empang di kampung (sumber: capture Youtube Gema TV)

"Masjid yang sekarang memang enak. Bersih, mewah, megah, mengkilat, harum, terang. Tapi..." kata si Kabayan saat ia barengan pulang tarawih bersama Mang Odon dan Mang Sadut.

"Tapi apa?" tanya Mang Odon.

"Saya merasa ada yang hilang Mang," sambung Kabayan. "Saya lebih suka tajug yang biasa dipake taraweh dulu. Saat kita sering taraweh di tajug almarhum Ki Umun yang di atas empang itu..."

"Soal itu mah sama Yan. Saya juga suka sama tajug itu. Tempatnya enak, di atas empang, adem. Tapi kalau musim hujan kan susah. Jalannya kecil di atas pematang, licin. Salah-salah bisa nyemplung ke empang atau sawah. Sering juga pakean kita keburu kotor sebelum solat..." kata Mang Odon.

Dulu di Cibangkonol memang ada sebuah tajug (surau/mushala/masjid kecil) yang didirikan di atas kolam ikan milik Ki Umun. Bangunannya sederhana, lantai kayu, dindingnya dari bilik alias anyaman bambu. Untuk mencapai ke sana, warga harus melintasi pematang sawah dulu yang licin di musim hujan, dan gelap kalau malam tiba. Orang harus bawa obor atau senter kalau mau ke sana malam-malam.

Tajug itu sebetulnya hanya untuk shalat para pekerja sawah di siang hari, sekalian beristirahat. Tapi ketika makin banyak rumah di sekitarnya, lama-kelamaan juga dipakai untuk shalat maghrib, isya, dan subuh juga. Bahkan di bulan puasa, tajug itu juga dipakai untuk shalat tarawih dengan jumlah jamaah yang terbatas. Ki Umun sendiri yang menjadi imamnya. Hanya shalat jumat saja yang tak diselenggarakan di situ.

Ketika warga semakin banyak, didirikanlah sebuah masjid baru hasil gotong-royong warga dan sumbangan dari donatur. Masjid baru ini letaknya di darat, alias nggak di atas empang lagi. Lantai ubin, dinding bata, dan serba terang karena ada aliran listrik pula.

Nah, saat itulah tajug di atas empang Ki Umun itu mulai ditinggalkan. Sampai akhirnya ketika Ki Umun meninggal, empangnya dijual oleh ahli warisnya. Oleh pembelinya, tajug-nya yang sudah tidak terawat dirubuhkan. Bukan apa-apa, karena memang sudah tidak dipakai lagi dan bangunannya membahayakan kalau dibiarkan.

"Sebetulnya kalau soal itu mah gampang, jalannya tinggal dibenerin, ya ditembok lah minimal biar nggak jeblok kalau musim hujan. Dilebarin dikit. Terus lantainya mungkin diperkuat, dicor, nggak pake lantai papan lagi..." Mang Sadut ikut nimbrung. Mereka memang dulu jamaah setia tajug itu, anak-anak baru bahkan banyak yang tak tahu soal tajug itu.

"Masalahnya kan nggak bisa diperluas bangunannya. Kalau diperluas seluas empangnya, bukan lagi tajug di atas empang, tapi tajug nutupin empang!" kata Mang Odon lagi. "Nggak mungkin juga kan dibuat dua tingkat, pondasinya nggak bakalan kuat!"

"Tapi harusnya dulu jangan dibongkar ya. Minimal kalau nggak dipake lagi taraweh, ya tetap buat solat siang, lohor atau asar seperti sebelumnya..." kata Mang Sadut lagi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kurma Selengkapnya
Lihat Kurma Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun