Mohon tunggu...
Alip Yog Kunandar
Alip Yog Kunandar Mohon Tunggu... Bukan Pemikir, Meski Banyak yang Dipikirin

Dosen Ilmu Komunikasi UIN Jogja, yang lebih senang diskusi di warung kopi. Menulis karena hobi, syukur-syukur jadi profesi buat nambah-nambah gizi. Buku: Memahami Propaganda; Metode, Praktik, dan Analisis (Kanisius, 2017) Soon: Hoax dan Dimensi-Dimensi Kebohongan dalam Komunikasi.

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Sisterhood FC, Klub Sepak Bola Muslimah Pertama di Inggris

13 Maret 2021   21:14 Diperbarui: 13 Maret 2021   21:17 191 34 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sisterhood FC, Klub Sepak Bola Muslimah Pertama di Inggris
Yasmin Abdullahi (Tanda X) dan sebagian pemain Sisterhood FC. (Sumber foto: instagram.com/sisterhoodf.c)

Saat berusia sembilan tahun, Yasmin Abdullahi dibawa pindah ke Inggris oleh orangtuanya. Mereka meninggalkan kampung halamannya di Somalia yang didera banyak masalah, dari konflik sosial, perang sudara, hingga bencana kelaparan yang mengintai setiap saat.

Tiba di London, mereka tinggal di sebuah rumah susun. Yasmin bersekolah tak jauh dari tempat tinggalnya itu. Di sekolahnya, Yasmin menyukai pelajaran olahraga, apapun. Tapi guru olahraganya, terpesona dengan kemampuan Yasmin yang secara alami pandai memainkan bola, terampil menggiring bola, dan cepat.

Memasuki sekolah menengah, Yasmin yang sering bermain sepak bola bersama kakaknya, Muhammad Abdullahi dan anak laki-laki lain di sekitar tempat tinggalnya. Ia juga ikut memperkuat tim sepak bola sekolahnya, dan beberapa kali ikut pertandingan antarsekolah.

Bakatnya terendus oleh akademi sepak bola wanita Charlton Athletic, salah satu klub sepak bola yang cukup sukses di Inggris. Yasmin sempat bergabung dan ikut berlatih. Sayangnya, mimpinya untuk melanjutkan karir sebagai pemain sepak bola wanita harus kandas.

Orangtuanya tak setuju. Sangat banyak pertimbangannya, terutama soal keyakinan. Sebagai Muslim yang taat, keluarga Abdullahi keberatan jika anaknya menjadi atlit sepak bola, terutama soal pakaian dan lainnya. Belum lagi, pandangan sinis terhadap mereka yang minoritas --berkulit hitam dan muslim---masih cukup kental.

Yasmin sendiri menyadari hal itu. Ia tahu, sejak 2014, FIFA sudah mencabut larangan pemain menggunakan jilbab di arena sepak bola. Tapi itu hanya di negara-negara dimana Muslim adalah mayoritas. Di Inggris? Larangan itu tak pernah ada juga, tapi klub-klub lah yang keberatan dengan berbagai alasan.

Meski angannya untuk bermain professional sudah dilupakannya, semangat bermain sepak bola Yasmin tak pernah kendor. Saat ia masuk jurusan pendidikan di Goldsmith University London, Yasmin kembali bergabung dengan tim sepak bola kampusnya.

Tak ada larangan untuknya. Yasmin memang tidak mengenakan jilbab penuh, tapi tentu saja ia tak bisa memakai celana pendek dan kaos lengan pendek saat bermain.

Di kampusnya, ada komunitas Muslim yang sering mengadakan pertemuan, yang makin intens ketika bulan Ramadhan tiba. Ketika kawan-kawannya tahu bahwa ia masih bermain bola, semua kaget. Semua bertanya, bagaimana bisa ia melakukannya.

Dari situlah ia mendapatkan banyak cerita bahwa sebetulnya banyak perempuan muslim lainnya yang ingin berolahraga, termasuk bermain sepak bola, tetapi terhalang banyak hal. Yasmin pun terinspirasi untuk membentuk sebuah tim sepak bola yang anggotanya semuanya muslimah, entah itu yang mengenakan jilbab ataupun tidak.

Bersama kawannya, Fathiya, ia mulai mengajak perempuan-perempuan muslim di kampusnya untuk ikut berlatih. "Setiap ada perempuan muslim, pasti kami dekati untuk kami ajak berlatih," kata Yasmin kepada bbc.com. Yasmin mengatakan, mulanya banyak yang ragu, selain itu sudah banyak di antara mereka yang melupakan olahraga karena persoalan pakaian yang menyulitkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN