Mohon tunggu...
Alimudin Garbiz
Alimudin Garbiz Mohon Tunggu... profesional -

Failurer,  Anak Jalanan, untuk Hidup Lebih Baik, Indah dan Menantang, Tahun ini merupakan tahun menulis, Insya Allah......!

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Mistisisme dalam Kehidupan Masyarakat

15 Februari 2013   03:48 Diperbarui: 24 Juni 2015   18:17 12468
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Mistisisme dalam Kehidupan Masyarakat (Studi terhadap Kebiasaan Masyarakat Bertanya pada Seseorang tentang Kehidupannya di Kabupaten Garut)

PENDAHULUAN

Saat ini kita dihadapkan pada kenyataan bahwa berbagai segi kehidupan mengalami kemajuan yang pesat. Hal ini tentu saja karena adanya modernisasi melalui kemajuan dan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Secara sederhana kita berpikir bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi akan meningkatkan derajat pemikiran dan tindakan masyarakat yang rasional dan modern. Dalam kenyataannya, di tengah perubahan besar yang terjadi. Masyarakat kita mengalami kesenjangan antara yang mengikuti modernisasi dengan yang terseok-seok terbawa arus perubahan yang perkembangan sudah perdetik ini.

Ciri-ciri utama yang melatarbelakangi sistem atau model dari suatu masyarakat modern, adalah derajat rasionalitas yang tinggi dalam arti bahwa kegiatan-kegiatan dalam masyarakat demikian terselenggara berdasarkan nilai-nilai dan dalam pola-pola yang objektif (impersonal) dan efektif (utilitarian), ketimbang yang sifatnya primordial, seremonial atau tradisional. Derajat rasionalitas yang tinggi itu digerakkan oleh perkembangan-perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan dan teknologi seringkali disebut sebagai kekuatan pendorong (driving force) bagi proses modernisasi.Dengan derajat rasionalitas yang tinggi itu, maka berkembang antara lain ciri-ciri yang kurang lebih berlaku umum yaitu tindakan-tindakan sosial, orientasi terhadap perubahan dan berkembangnya organisasi dan diferensiasi

Akan tetapi, sebuah pertanyaan mendasar adalah apakah kemajuan zaman dan ilmu pengetahun dan teknologi selalu sinergis dengan kemajuan masyarakatnya? Apakah juga Nilai-nilai dan kepercayaan yang ada di masyarakat harus selalu mengikuti perkembangan zaman tersebut ? Dimana relevansi agama dalam menghadapi perkembangan zaman melalui proses modernisasi di segala bidang kehidupan bisa menyebabkan masyarakatnya maju dan tidak terbelakang?

Zaman adalah satu hal yang selalu menjadi tantangan bagi sebuah pemikiran (filsafat, ideologi), ilmu pengetahuan, ataupun agama. Dengan berkembangnya zaman, banyak pemikiran-pemikiran manusia gugur. Ini berlaku pula terhadap hal-hal lain yang disebut diatas.

Bagaimana umat dikelola ? di pedesaan peranan ulama lokal dalam organisasi sosial umat tak dapat disangkal. Kyai-Kyai di pedesaan Jawa adalah foci dalam kegiatan-kegiatan keagamaan. Pengaruh Kyai sering melampaui masalah-masalah yang menyangkut urusan agama. Di daerah-daerah yang yang kebudayaan agamanya dominan, para Kyai bertindak sebagai konselor (pembimbing). Dalam beberapa kasus, mereka diharapkan berperan sebagai dukun dan peramal. Banyak diantara para Kyai menjadi guru tarekat atau persaudaraan sufi.

Dalam konteks inilah mistisisme berkembang dan bertahan di masyarakat. Tentu dengan segala pernak perniknya. Menurut asal katanya, kata mistik berasal dari bahasa Yunanimystikos yang artinya rahasia (geheim), serba rahasia (geheimzinnig), tersembunyi (verborgen), gelap (donker) atau terselubung dalam kekelaman (in het duister gehuld).

Berdasarkan arti tersebut mistik sebagai sebuah paham yaitu paham mistik atau mistisisme merupakan paham yang memberikan ajaran yang serba mistis (misal ajarannya berbentuk rahasia atau ajarannya serba rahasia, tersembunyi, gelap atau terselubung dalam kekelaman) sehingga hanya dikenal, diketahui atau dipahami oleh orang-orang tertentu saja, terutama sekali penganutnya.

Salah satuyang menarik dari kajian mistis adalah tentang paranormal. Paranormal sebenarnya berarti sesuatu yang tidak dapat dijelaskan secara ilmiah, atau dapat pula disebut seseorang yang mempunyai kemampuan untuk memahami, mengetahui serta mempercayai hal-hal yang tidak dapat dijelaskan secara ilmiah. Istilah supranatural memang lebih identik maknanya dengan paranormal. Yakni sebuah istilah yang berarti tidak dapat dijelaskan secara ilmiah dan rasional. “Kedua istilah tersebut merupakan serapan dari bahasa Inggris yaitu supernatural dan paranormal,”. Dalam dunia barat, setidaknya ada tiga sebutan yang memiliki makna konotasi yang berbeda untuk konteks yang mirip dengan dukun, paranormal dan praktisi supranatural tersebut. “Tiga istilah tersebut adalah witch atau tukang sihir, psychic atau cenayang dan voodoo, dukun ilmu hitam,

Pananyaan merupakan bahasa “orang sunda” yang biasanya disebut pula“orang pintar”. Pengusaha biasanya menggunakan bahasa lamun usaha kudu make ‘samara” teu make samara mah katinggaleun. Agama seringkali menjadi salah satu jalan keluar dari berbagai persoalan tersebut. Walau begitu, tak sedikit pula yang bertentangan jalan keluar yang “dianggap” bertentangan dengan ajaran agama itu sendiri. Fenomena pananyaan adalah sebuah fakta sosial yang real terjadi di masyarakat. Sebagai contoh, dari mulai pemilihan kepala desa, pencalonan anggota dewan, bupati, gubernur dan presiden tak bisa dilepaskan dari hal tersebut.

Penulis berusaha mempelajari fakta sosial tersebut, adapun pembahasan tidak memasuki wilayah benar atau tidaknya perilaku paranormal tersebut, dalam pengertian penulis tidak memasuki wilayah kajian teologi dari panayaan atau paranormal tersebut. Akan tetapi hanya mencoba melalui kajian sosiologi serta fenomenologi dari adanya kenyataan yang terjadi sebagai sebuah gambaran nyata fenomena tersebut.

Tertarik dengan kenyataan inilah penulis mencoba menelitinya dengan memberikan judul penelitian: “Mistisisme dalam Pandangan Hidup Masyarakat (Studi terhadap Kebiasaan Masyarakat Bertanya pada Seseorang dalam Menentukan Kehidupannya di kabupaten Garut) ”.

Pengertian Mistisisme

Mistisisme, dalam bahasa Inggris mysticism, bahasa Yunani mysterion, dari mystes (orang yang mencari rahasia-rahasia kenyataan) atau myein (menutup mata sendiri). Istilah ini berasal dari agama-agama misteri Yunani yang para calon pemeluknya diberi nama mystes.

Mistisisme adalah kepercayaan bahwa kebenaran tertinggi tentang realitas hanya dapat diperoleh melalui pengalaman intuitif suprarasional, bahkan spiritual, dan bukan melalui akal (rasio atau reason) logis belaka.

Berdasarkan arti tersebut mistik sebagai sebuah paham yaitu paham mistik atau mistisisme merupakan paham yang memberikan ajaran yang serba mistis (misal ajarannya berbentuk rahasia atau ajarannya serba rahasia, tersembunyi, gelap atau terselubung dalam kekelaman) sehingga hanya dikenal, diketahui atau dipahami oleh orang-orang tertentu saja, terutama sekali penganutnya.

Beberapa pendapat tentang paham mistik atau mistisisme :

1.Kepercayaan tentang adanya kontak antara manusia bumi (aardse mens) dan tuhan (Dr. C.B. Van Haeringen, Nederlands Woordenboek, 1948).

2.Kepercayaan tentang persatuan mesra (innige vereneging) ruh manusia (ziel) dengan Tuhan (Dr. C.B. Van Haeringen, Nederlands Woordenboek, 1948).

3.Kepercayaan kepada suatu kemungkinan terjadinya persatuan langsung (onmiddelijke vereneging) manusia dengan Dzat Ketuhanan (goddelijke wezen) dan perjuangan bergairah kepada persatuan itu (Algemeene Kunstwoordentolk, J. Kramers. Jz).

4.Kepercayaan kepada hal-hal yang rahasia (geheimnissen) dan hal-hal yang tersembunyi (verborgenheden). (J. Kramers. Jz).

5.Kecenderungan hati (neiging) kepada kepercayaan yang menakjubkan (wondergeloof) atau kepada ilmu yang rahasia (geheime wetenschap). (Algemeene Kunstwoordentolk, J. Kramers. Jz).

Selain diperolehnya definisi, pendapat-pendapat tentang paham mistik diatas berdasarkan materi ajarannya juga memberikan adanya pemilahan antara paham mistik keagamaan (terkait dengan tuhan dan ketuhanan) dan paham mistik non-keagamaan (tidak terkait dengan tuhan ataupun ketuhanan).

Ajaran dan Sumber Mistisisme

Selain serba mistis, ajarannya juga serba subyektif tidak obyektif. Tidak ada pedoman dasar yang universal dan yang otentik. Bersumber dari pribadi tokoh utamanya sehingga paham mistik itu tidak sama satu sama lain meski tentang hal yang sama. Sehingga pembahasan dan pengalaman ajarannya tidak mungkin dikendalikan atau dikontrol dalam arti yang semestinya.

Biasanya tokohnya sangat dimuliakan, diagungkan bahkan diberhalakan (dimitoskan, dikultuskan) oleh penganutnya karena dianggap memiliki keistimewaan pribadi yang disebut kharisma. Anggapan adanya keistimewaan ini dapat disebabkan oleh :

1.Pernah melakukan kegiatan yang istimewa.

2.Pernah mengatasi kesulitan, penderitaan, bencana atau bahaya yang mengancam dirinya apalagi masyarakat umum.

3.Masih keturunan atau ada hubungan darah, bekas murid atau kawan dengan atau dari orang yang memiliki kharisma.

4.Pernah meramalkan dengan tepat suatu kejadian besar/penting.

Sedangkan bagaimana sang tokoh itu menerima ajaran atau pengertian tentang paham yang diajarkannya itu biasanya melalui petualangan batin, pengasingan diri, bertapa, bersemedi, bermeditasi, mengheningkan cipta dll dalam bentuk ekstase, vision, inspirasi dll. Jadi ajarannya diperoleh melalui pengalaman pribadi tokoh itu sendiri dan penerimaannya itu tidak mungkin dibuktikannya sendiri kepada orang lain.

Dengan demikian penerimaan ajarannya hampir-hampir hanya berdasarkan kepercayaan belaka, bukan pemikiran. Maka dari itulah di antara kita ada yang menyebutnya paham, ajaran kepercayaan atau aliran kepercayaan (geloofsleer).

2.2.Agama dan Mistisisme

Kata agama berasal dari bahasa Sansekerta dari kata a berarti tidak dan gama berarti kacau. Kedua kata itu jika dihubungkan berarti sesuatu yang tidak kacau. Jadifungsi agama dalam pengertian ini memelihara integritas dari seorang atau sekelompok orang agar hubungannya dengan Tuhan, sesamanya, dan alam sekitarnya tidak kacau.Karena itu menurut Hinduisme, agama sebagai kata benda berfungsi memeliharaintegritas dari seseorang atau sekelompok orang agarhubungannya dengan realitastertinggi, sesama manusia dan alam sekitarnya. Ketidak kacauan itu disebabkan oleh penerapan peraturan agama tentang moralitas,nilai-nilai kehidupan yang perlu dipegang,dimaknai dan diberlakukan.Pengertian itu jugalah yang terdapat dalam kata religion (bahasa Inggris) yang berasal dari kata religio (bahasa Latin), yang berakar pada kata religare yang berartimengikat.

Esensi Agama seperti mitologi adalah animisme (dari bahasa latin, anima, berarti roh)-kepercayaan pada kekuatan pribadi yang hidup dibalik semua benda. Suatu karakteristik yang dimiliki oleh agama, baik besar atau kecil, kuno atau modern adalah kepercayaan pada roh yang berpikir, bertindak dan merasa seperti pribadi manusia.

Geertz menyatakan bahwa religi merupakan pancaran kesungguhan moral. Hal ini sejalan dengan pemikiran Tolstoy yang berpendapat bahwa mistik bersifat tak tertandingi. Di dalamnya menancap iman. Keimanan enyebabkan seseorang hidup dan laku mistik penuh dengan moral luhur.

Mistisisme dijumpai dalam semua agama, baik agama teistik (Islam, kristen dan yahudi) maupun dikalangan mistik nonteistik (misalnya penganut agama buddha). Menurut Prof. Harun Nasution, dalam tulisan Orientalis Barat, mistisisme yang dalam Islam adalah tasawuf disebut sufisme. Sebutan ini tidak dikenal dalam agama-agama lain, melainkan khusus untuk sebutan mistisisme Islam (Harun Nasution, 1973:56).

Sebagaimana halnya mistisisme, tasawuf atau sufisme mempunyai tujuan memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang berada dihadirat Tuhan. Intisarinya adalah kesadaran akan adanya komunikasi atau dialog antara roh manusia dengan tuhan dengan mengasingkan diri dan berkontemplasi (Harun Nasution, 1972:56).

Ketika seseorang mendengar istilah "Agama Jawa" disebut orang, serta-merta terlintas suatu gambaran tertentu tentang tradisi yang berkembang dalam
komunitas Jawa tertentu yang terbedakan secara jelas dari agama, khususnya Islam, yang juga perkembangan berdampingan dengannya.Artinya, dalam "Agama Jawa" itu terdapat suatu pandangan hidup (world
view) yang terdiri dari sistem kepercayaan, peribadatan, etika, filsafat, seni, dan lain-lain, yang secara keseluruhan disebut dengan "Agama Jawa," dan itu bukan Islam, bukan Kristen atau Katholik, bukan Hindu, juga bukan Budha.

Prof Afif Muhammad menyatakan bahwa Agama Jawa adalah agama yang sarat dengan mistisisme. Ia memiliki sistem kepercayaan tentang mikrokosmos dan makrokosmos, manuggaling kawula-Gusti(monisme), keselarasan hidup dengan alam, dan lain-lain yang sangat khas dan
terbedakan secara jelas dengan Islam. Mistisisme Jawa, selain terlihat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat
Jawa (Niels Mulder, 1980), juga memiliki literatur yang sangat melimpah.

Masih menurut prof Afif Muhammad, Adalah sangat wajar jika Agama Jawa sarat dengan mistisme, sebab di Jawa agama Hindu dan Budha menyisakan banyak sekali warisan, baik dalam bentuk candi-candi maupun literatur-literatur sastra dan suluk Jawa. Dengan demikian,masyarakat Jawa memiliki hubungan yang sangat kuat dengan spiritualisme Hindu dan Budha.

Agaknya, karena itu pula, tasawuf model Syekh Siti Jenar sangat populer di kalangan masyarakat Jawa, bahkan anak-anak pun sangat kenal dengan tokoh
legendaris ini.

Di Jawa juga dikenal adanya Serat Dewa Ruci, Serat Hidayat Jati, Serat Gatoloco, Serat Kebokenongo, Serat Seh Siti Jenar, Serat Suluk Walisongo, Serat
Centini, Serat Cabolek, dan serat-serat lainnya, yang kesemuanya berisi ajaran mistik Jawa.

Di Tatar Sunda, fenomena tersebut hampir tidak ditemukan. Di wilayah ini terdapat sedikit sekali candi-candi yang dapat mengingatkan orang tentang Hindu
dan Budha. Juga, sependek pengetahuan saya, tidak terdapat banyak literatur seperti serat-serat dalam sastra dan suluk Jawa.

2.3.Mistisisme dalam Pandangan Psikologi Agama

Jika dikaji lebih lanjut, mitisisme menurut pandangan psikologi agama, hanya terbatas pada upaya untuk mempelajari gejala-gejala kejiwaan tertentu yang terdapat pada tokoh-tokoh mistik tanpa harus mempermasalahkan agama yang mereka anut. Mistisisme merupakan gejala umum yang terlihat dalam kehidupan tokoh-tokoh mistik, baik yang teistik maupun nonteistik.

Latar Belakang Sejarah Perkembangan Timbulnya Mistisisme:
1. Sejarah Perkembangan Aliran Kepercayaan
Manusia dan masyarakat hidup dalam dua lingkungan, yaitu lingkungan alam dan lingkungan masyarakat. Lingkungan alam meliputi, benda organis dan anorganis yang hidup disekitar manusia dan lingkungan masyarakat adalah masa manusia yang berada disekitarnya. Didorong oleh keinginan untuk mempertahankan hidupnya, maka timbul keinginan mereka untuk mencari jalan agar pengaruh alam itu tidak merugikan dan membinasakan mereka. Berdasarkan kondisi sosial budaya yang mereka miliki dicarilah usaha untuk menguasai alam dengan kekuasaan gaib sejalan dengan kekuatan alam yang bagi mereka merupakan kekuatan gaib. Diciptakanlah mantera-mantera yang dianggap sakti untuk menguasai, menangkal atau membinasakan kekuatan gaib alamiah itu.  Perkembangan itu melibatkan masyarakat umum dan individu yang bersifat umum berkembang menjadi kultus dan individualis berkembang menjadi perdukunan.


2. Hal-Hal yang Termasuk Mistisisme

a.Ilmu Gaib

Yang dimaksud dengan ilmu gaib disini adalah cara-cara dan maksud mengunakan kekuatan-kekuatan  yang diduga ada di alam gaib, yaitu yang tidak dapat diamati oleh rasio dan penngalaman fisik manusia.

HALAMAN :
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun