Mohon tunggu...
Alif NawapancaBudianto
Alif NawapancaBudianto Mohon Tunggu... Kerja Keras

A civil servant

Selanjutnya

Tutup

Wisata

10 Bali Baru, Kans dan Problema

28 Maret 2020   18:35 Diperbarui: 28 Maret 2020   18:55 6 0 0 Mohon Tunggu...

Setidaknya masyarakat sudah lelah mencermati televisi yang berdiskusi tentang korupsi sehari-hari. Harga kenaikan sembako kanan-kiri di seluruh penjuru negeri ini telah meredupkan api di dapur istri. Hutang semakin berkembang, ekonomi semakin sunyi, pemuda-pemudi yang lahir dari skripsi kini menjadi pencari penumpang di sudut-sudut cinema XXI, masih bersyukur pencari penumpang, lantas bagaimana yang hanya tengkurap di rumah sambil mendengar RRI tentang susahnya mencari sesuap nasi sembari menunggu panggilan direksi terhadap map yang sudah terkirim bulan ini. apalagi harus berniat menghidupi anak istri. Sungguh kasihan negeri ini.

Segelintir  itulah yang harus ditanggulangi ditengah “alasan” ketidakpastian ekonomi global  saat ini dan susahnya mendulang investasi hingga terbukti enggannya cina merelokasi perusahaannya di ibu pertiwi. Maka, salah satu cara adalah apalagi kalau bukan maksimalkan anugerah tuhan tentang kekayaan dan keindahan alam negeri ini dengan balutan wisata terkini yang dikawinkan dengan kemajuan teknologi.

Jika kita bertanya pada pelancong asing, “Have you ever visited indonesia ?” atau “Did You Know Indonesia” jawabnya “Indonesia ? where ?”, tapi jika bertanya “Did you know Bali ?” , maka sebagian besar jawabnya adalah “WOW!, Bali  is the beautiful country”. Ada yang tau sejak kapan bali menjadi Negara ? Ya, Bali ibarat sudah menjadi Negara dalam Negara. Sebagian besar jagad ini menganggap Bali adalah sebuah negara, atau paling baik Bali adalah Ibukota Indonesia bukan Jakarta. Mereka lebih mengenal Bali daripada Indonesia. Harus diakui memang, promosi pariwisata oleh Pemerintah selama ini lebih menonjolkan Bali dibanding wisata lain di Indonesia. Atau jika bukan Bali berarti Jogjakarta, Jakarta, Pulau Komodo, Raja Ampat dan wisata lain yang santer menghiasi telinga kita. Itulah mengapa sampai saat ini Pariwisata Indonesia masih belum di jalannya.

Namun, asa menetralisir semerbak bali kepada seantero pelancong jagad ini sudah mulai muncul. Jokowi yang ingin menghadirkan anak-anak Bali lainnya atau yang disebut Bali Baru telah dicanangkan dengan tema besar “10 Bali Baru”. Tak bias dipungkiri bahwa sumbangan pariwisata bagi devisa negara juga tak melulu sedikit. Menarik untuk ditelisik, perlu kita apresiasi. Namun,  pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana komitmen pemerintah mewujudkan asa itu menjadi nyata dan mampu mengangkat derajat negeri ini via wisata ? Bagaimana kans dan problemanya ? merebut pangsa pasar pelancong mancanegara itu tidaklah mudah.

10 Bali baru itu meliputi  Danau Toba (Sumut), Tanjung Kalayang (Babel), Tanjung Lesung (Jabar), Pulau Seribu (Jakarta), Candi Borobudur (Jateng), Mandalika (NTB), Bromo Tengger Semeru (Jatim), Wakatobi (Sultra), Labuan Bajo (NTT), dan Morotai (Malut). Khawatir kami adalah sejarah mengatakan bahwa negeri ini lihai membuat maha karya tetapi tidak lihai dalam menjaganya. 

Misalnya, Danau Toba yang kian hari ditumbuhi enceng gondok, Borobudur yang konon mulai rapuh ditumbuhi jamur, Goa Batu Cermin di Flores yang terjamah coretan tangan-tangan jahil, Bunaken yang kian hari bertumpuk sampah, Perairan terumbu karang babel yang hampir 50 persen sudah tertindas kapal isap dan tambang konvensional pengeruk timah, atau bahkan kemegahan Stadion GBLA di Bandung yang kenyang dana hingga miliaran rupiah kini menjadi bangunan ilalang tak berdaya. Padahal wisata tidak melulu soal alam, melainkan infrastuktur juga bukan ? Lantas apakah kita sudah siap dengan perlakuan masyarakat kita akan terwujudnya 10 Bali baru mengingat kedewasaan masyarakat yang belum sepenuhnya dewasa ? tak masalah selagi ada asa.

Padahal menurut karyono bahwa Pariwisata adalah keseluruhan kegiatan pemerintah, dunia usaha dan masyarakat untuk mengatur, mengurus dan melayani kebutuhan wisatawan. (Karyono, 1997:15). Maka, point dari Karyono adalah hendaknya semuanya bersinergi. Global Sustainable Tourism Council (GSTC), sebagai badan akreditasi internasional untuk sertifikasi pariwisata, juga mempertimbangkan tiga aspek utama yaitu aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi. Nah, jika lingkungan dan social di sekitar 10 Bali Baru tersebut belum terdidik dengan baik, lantas bagaimana bias berbicara untuk meningkatkan ekonomi ? alih-alih meningkat justru habis bangun modal di depan namun gagal mengembangkan.

Warga kita warga yang ramah ? Mitos atau fakta?

Warga kita ramah pada kenyataannya adalah ketika berhadapan dengan turis asing. Mengapa demikian ? karena kita merasa “heran/asing/kagum/unik” ketika bertemu turis asing dengan warna rambut pirangnya, hidung mancungnya, kulit merahnya jauh berbeda dengan kita. Seakan mereka adalah orang kaya dan dari planet mana mereka ? Tapi tidak untuk sesama turis domestik. 

Kita seakan acuh, siapa anda siapa saya, hidup anda hidup saya, dari abang sampai pace, dari kaka sampai ade, seakan semua biasa saja. Bahkan justru akhir-akhir ini kita melihat saudara kita Papua yang terdiskriminasi ditengah etnis jawa. Bak ada sebuah perlakuan ibu tiri antara warga kita dengan turis asing dan domestic. Stigma itu lah yang harus diperbaiki mulai dari sekarang. Budaya adu domba, fitnah, intoleran, perbedaan suku, budaya, ras utamanya sesame warga kita sendiri masih memiliki skor yang cukup tinggi. Ingat kita ini satu kandung ibu pertiwi

Campur tangan Pemerintah Daerah

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN