Mohon tunggu...
Alfian Ilham F.
Alfian Ilham F. Mohon Tunggu... Lainnya - Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabaraktuh.

...Akhirnya hanya satu yang ku tahu, yaitu bahwa aku tidak tahu apa-apa. - Socrates

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

(Masih) Ronde 1: Indonesia Vs Covid-19

6 Juli 2021   17:28 Diperbarui: 7 Juli 2021   08:51 140 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
(Masih) Ronde 1: Indonesia Vs Covid-19
Source : poliklitik.com

Harus saya akui, mendengar kabar kematian setiap hari memang berhasil membuat bulu kuduk ini merinding bukan main. Bahkan terdengar jelas dari speaker masjid, bahwa yang meninggal itu disebabkan karena covid-19.

Harus saya akui juga bahwa semenjak kemunculan covid-19 hingga saat ini, sudah sukses membuat pola perilaku masyarakat berubah drastis, dari yang dulu berangkat kerja ke kantor sekarang kerja di rumah, yang dulu berangkat sekolah sekarang juga dirumah.

Bahkan hastag #DiRumahAja masih jadi primadona para netizen dari zaman PSBB sampe PPKM, untung aja nggak kepeleset jadi PPKN. Entar malah belajar TWK hehehe.

Khusus di Indonesia, berubahnya pola perilaku masyarakat ternyata masih belum merata. Bahkan masih banyak ditemui masyarakat yang dablek, belum sadar akan bahaya covid-19. Apalagi dengan kebijakan pemerintah yang serba membingungkan, aturan-aturan soal penanganan covid yang tidak progresif, ditambah masih saja para penguasa ini suka berpolemik. Heran...

Alhasil lonjakan kasus covid-19 di Indonesia mengalami peningkatan. Dilansir dari data Satgas Covid-19 pada tanggal 5 Juli 2021, bahwa angka kasus covid-19 di Indonesia sudah tembus mencapai 2.313.829 kasus, yang mana per-harinya terdapat rata-rata sekitar 25.404 kasus. Tentu ini menjadi prestasi yang tidak membanggakan bagi Indonesia. Pun jika semua ini diibaratkan pertandingan tinju, maka Indonesia sudah hampir di TKO sama covid-19 atas salahnya strategi dan komunikasi antara pelatih (pemerintah) dengan petinjunya (masyarakat).

Lantas... Apa yang menjadi dasar permasalahan tersebut?

Jika diliat dari sudut perilaku masyarakat yang dablek ini. Jawabannya juga bingung, sebab masyarakat dibuat dilematis. Andai jika ia tak bekerja keluar rumah, maka bisa saja besok ia tak makan. Disuruh taat protokol kesehatan (prokes) pas keluar rumah, eee masih juga diabaikan.

Pun jika diliat dari sudut kebijakan pemerintah, mungkin juga dilematis. UU Kekarantinaan Wilayah yang dianggap progresif pun, pelaksanaannya dibuat mandek tak berjalan maksimal. Bidang-bidang seperti Kementerian Keuangan sampe Pemerintah Daerah pun kebingungan. Alih-alih cari solusi, eh malah kontradiksi sama penanangan covid-19. Mulai dari bantuan sosial (bansos) yang dikorupsi, KPK digembosi sama test TWK yang nggak ada substansi , sampe kritik-kritik masyarakat untuk para penguasa yang di represi. Ya Salam...

Belum selesai pula, yang paling sedih disektor Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), yang kerjanya mempromosikan pariwisata. Eh... malah dibully sama netizen, yang katanya "...tuh tempat-tempat wisata aja masih dibuka kok kita semua malah nggak boleh keluar rumah". wkwkwk

Adapun inti dari dasar permasalahan tersebut adalah masih didapati disharmoni antara masyarakat dengan pemerintah. Jika diliat dari penanganan covid-19 negara-negara maju, kita jauh tertinggal. Bahkan menurut ahli, layanan kesehatan di Indonesia diprediksi akan K.O. dalam beberapa minggu kedepan. Padahal kalau mau belajar, nggak usah jauh-jauh ke negara orang, cukup sama masyarakat pedalaman seperti masyarakat adat baduy saja, hidup tentrem - aman sentosa - harmoni dengan alam.

Mungkin benar kata Reza Gunawan (Praktisi Kesehatan Holistik) bahwa "Manusia itu selalu dihadapkan pada sebuah pilihan, tidak peduli apakah itu merusak atau tidak merusak, jika itu bisa membuatnya bertahan hidup. Maka lakukanlah."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN