Mohon tunggu...
Alfan Tiara Hilmi
Alfan Tiara Hilmi Mohon Tunggu... Karyawan Swasta -

...

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Cerita Saidam 19 Tahun Kayuh Becak di Jakarta

20 Februari 2018   21:31 Diperbarui: 21 Februari 2018   08:54 924
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Saidam (47 tahun) mengaku menjalani profesi sebagai tukang becak di Jakarta sejak 1999. Penumpang setianya mayoritas ibu-ibu keturunan tionghoa yang membawa barang-barang belanjaan di wilayah Pasar Pejagalan, Jakarta Barat. Saidam biasa membawa mereka pulang ke wilayah Jalan Pengukiran yang jaraknya sekitar 700 meter.

19 tahun mengayuh becak, berbagai pengalaman pahit sudah ia rasakan. Misalnya saat becaknya diangkut paksa petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di era Mantan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo (Foke) dan Djarot Saiful Hidayat.

Pada 2017, ketika Djarot baru menjabat menjadi Gubernur DKI Jakarta, becak Saidam pernah diboyong paksa petugas Satpol PP di bawah jalan layang Pasar Pagi, pada 19.30. Hujan mengguyur ibu kota malam itu. Saidam yang sedang enak berteduh terkejut setengah mati melihat petugas Satpol PP tiba-tiba mengangkut becaknya ke mobil bak.

"Terus tiba-tiba datang lebih dari satu mobil Satpol PP. Tangan saya dipegang dan becak langsung diangkut. Saya tidak bisa apa-apa," kata dia saat ditemui di kolong jembatan Bandengan Utara III, Jakarta Barat, Jumat 26 Januari 2018.

Beda cerita ketika ia berhadapan dengan petugas Satpol PP di zaman pemerintahan Fauzi Bowo. Saat itu ia sempat berusaha melarikan diri dari kejaran petugas. Becaknya ia kayuh sekencang mungkin.

Namun sayang upayanya kandas. Petugas Satpol PP dengan mobil baknya dengan mudah menjangkau Saidam. Mereka pun akhirnya membawa becak Saidam yang sudah menjadi sumber mencari nafkahnya itu. Padahal saat itu ia sedang bertugas mengangkut penumpang di daerah Petak Sembilan, Jakarta Barat.

Saidam juga sempat merasakan kucing-kucingan dengan petugas di era Mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso.  Ketika itu pada 2001 Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pernah melakukan operasi "penggarukan" becak secara serentak.

"Saat ada garukan zaman Sutiyoso, becak saya bawa pulang ke Tangerang. Selang satu tahun saya balik lagi ke Jakarta," kata dia.

Saidam terpaksa membeli yang baru setiap becaknya diangkut petugas. Ia mengaku harus mengeluarkan uang sebesar Rp 500 ribu untuk membeli satu becak. Becaknya sengaja tidak dipasang penutup terpal untuk penumpang. Karena menurutnya, becak yang diberi tutup untuk penumpang mudah dilihat oleh petugas Satpol PP.

Dari mengayuh becak, Saidam mengaku mampu mengantongi uang rata-rata Rp 50 ribu setiap harinya. Menurutnya pemasukan sebesar itu belum cukup untuk menghidupi tiga orang anaknya. Apalagi istrinya hanya menjadi ibu rumah tangga di Jayanti, Tangerang.

"Tidak cukup buat hidup. Belum buat makan, jajan anak, uang sekolah. Apalagi sekarang ada ojek online," keluhnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun