Mohon tunggu...
Alex AliAtmadikara
Alex AliAtmadikara Mohon Tunggu... Guru - Riang dan Gembira, suci dalam pikir, perkataan dan perbuatan

Experiential Education Practitioner, Spelunker, cave guide, outdoor trainer, principle of an elementary schooll, fulltime father of three kids

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Guru sebagai Duta Kesadaran akan Keselamatan

26 Oktober 2022   04:22 Diperbarui: 26 Oktober 2022   04:31 87
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Menyimak kasus susur sungai di Sleman yang memakan korban sepuluh siswa SMP 1 Turi, reaksi saya yang pertama adalah marah, mengigil, lemas, dan kesedihan yang sangat. Karena kehilangan jiwa, sepuluh jiwa bukan cuma persoalan statistik, satu saja sudah terlalu berlebihan.

Ini mengingatkan saya pada kejadian 2013 lalu di Yogya juga hanya aktivitasnya saja yang berbeda, kegiatan yang dilakukan saat itu adalah penelusuran gua. Kegiatan yang risikonya boleh dibilang tinggi. 

Kasus gua Serpeng yang memakan 3 korban jiwa, yang sampai kini saya yakin masih berbekas cukup dalam menyimpan trauma dalam diri beberapa teman2 saya.

 Sampai saat ini setiap mendengar berita kecelakaan pada kegiatan alam terbuka, perasaan selalu menjadi emosional, teringat dan membayangkan wajah2 terakhir mereka para korban yang penuh ketakutan, pasrah, tak berdaya menghadapi kematian yang seharusnya mungkin belum waktunya.

Saya tak ingin menyalahkan takdir. Karena pada kasus2 itu seharusnya takdir bisa dipilih. Seharusnya mereka masih bisa pulang dengan bahagia, dengan pengalaman yang mereka peroleh dari kegiatan tersebut, berceloteh pada orangtua mereka masing2 ttg pengalaman mereka. 

Seharusnya orang tua mereka tidak sampai bersedih seperti sekarang, seharusnya mereka bahagia karena melihat anak2 mereka berubah lebih baik setelah pelatihan2 itu, setelah petualangan mereka belajar tentang menemukan beberapa cuil pengalaman dan keterampilan hidup.

Peran guru, pembina, instruktur, pelatih, sebagai orang dewasa, representasi orangtua, representasi individu yang lebih berpengalaman, dalam semua kegiatan pendidikan di sekolah sudah seharusnya menjadi kontrol dan penentu hasil dari tujuan pendidikan. 

Termasuk salahsatunya mengenai kesadaran akan keselamatan (safety awareness) dan berkewajiban membuat prosedur atau sistim pengelolaan risiko (risk management) dalam semua aktivitas, terutama lebih2 pada kegiatan yang memiliki risiko tinggi.

Pemilihan aktivitas, waktu kegiatan, lokasi kegiatan, durasi kegiatan, jumlah peserta, perbandingan rasio peserta dengan pembina atau instruktur sudahkah seimbang? 

Perencanaan kontijensi, rencana respon dalam kondisi darurat, rencana evakuasi jika kondisi darurat, nomor kontak untuk kondisi darurat yang harus dihubungi, kesiapan paramedis atau pertolongan pertama pada kecelakaan, keterampilan teknis pembina, instruktur atau pelatih apakah memadai? 

Rekam medis laporan kesehatan peserta, format laporan kecelakaan (accident report) dan surat ijin mengikuti kegiatan dari orangtua, surat ijin kegiatan dari kepolisian, dan lain sebagainya sudahkah menjadi prioritas pemenuhan dokumentasi berkegiatan oleh para guru, pembina, instruktur atau pelatih saat itu?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun