Mohon tunggu...
Albar Rahman
Albar Rahman Mohon Tunggu... Mahasiswa - Penulis, peneliti dan Mahasiswa Program Magister Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia

Sehari-hari menghabiskan waktu dengan buku-buku ditemani kopi seduhan sendiri. Menikmati akhir pekan dengan liga inggris, mengamati cineas dengan filem yang dikaryakan. Hal lainnya mencintai dunia sastra, filsafat dan beragam topik menarik dari politik hingga ekonomi.

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Sore Hari di Ruang Tengah

6 November 2022   06:16 Diperbarui: 6 November 2022   07:13 164
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ruang tengah G45Sapce (dokpri)

Sore hari adalah momen paling syahdu melepas semua kepenatan hari. Beda cerita momen kemarin yang baru saja penulis lewatkan bersama kenangan di dalamnya. Alih-alih melepas penat namun rasanya kenangan sore itu menambah spirit diri semkin kuat. 

Kita mulai dari hangatnya mendoan di ruang tengah dengan konsep tata letak tiang layaknya Joglo terbuka di mana sirkulasi udaranya selalu semilir untuk dijadikan saksi bisu sebuah obrolan dan diskusi. Seusaui kegiatan seru bersama beberapa Kompasianer Jogja sore itu di Event KJOG kolaborasi dengan Coworking Space G45. Ada obrolan hangat bersama salah satu komopasianer dan pembicara sore itu pak Arie Liyono. Obrolin dunia kepenulisan dengan segala tantangannya. Sembari mengunyah mendoan obrolan pun makin hangat.

Moment Event KJOG bersama Pak Arie Liyono. dokpri
Moment Event KJOG bersama Pak Arie Liyono. dokpri

Sebelumnya saat Event berlangsung pak Arie mengingatkan sore itu bahwa menulis adalah pekerjaan paling dibutuhkan di masa-masa mendatang. Ditengah arus teknologi yang berkerja begitu cepat, ada ratusan juta pekerjaan hilang begitu saja belakangan ini jika berkaca pada data paparan World Economic Forum. Di ruang tengah itu kami berdiskusi dan menyepakati bahwa menulis adalah pekerjaan yang perlu dipertahankan bahkan harus terus melakukan akselerasi. Penulis juga beranggapan bahawa menulis adalah kerja perdaban yang tidak akan pernah mati sampai kapan pun. 

Pak Kun, kawan diskusi di ruang tengah sore itu menyebutkan bahwa dunia kepenulisan ini sangatlah kompleksitas. Beliau mengawali tentang bagaimana sejarah Blogger artinya transformasi digital dalam dunia buku. Namun ujar beliau bahwa esensi menulis masih saja bertumpu pada buku fisik. Di luar negri negar-negara maju justru yang paling dicari adalah buku cetak, digital buku dan apalah sebutannya itu tidak mengalami masifikasi justru masih kalah jauh dengan masifikasi bacaan meraka pada buku cetak. 

Beliau melanjutkan ini artinya di sana sudah menjadi budaya dan kultur kuat terkait membaca. Akhirnya penulis mendaptkan ruang apresiasi yang tinggi. Bandingkan dengan negri kita, bahkan penulis dianggap "sebelah" mata. Dari proses cetak hingga terbit bahkan masalah pemasaran penulis masih memiliki banyak kendala di sana sini. Ini artinya industri kepenulisan kita masih belum mendalam tegas beliau. 

Sore dan tanpa tersa malam itu menyapa diskusi terus berlanjut . Ragam diskusi tentang dunia kepenulisan itu dari A-Z dan masukan-masukan dari Pak Arie sangatlah berharga. Dari memulai memikirkan adanya hari menulis nasional, hingga perlunya memplopori adanya klinik menulis atau kepenulisan. Jadi obrolan ruang tengah yang tak akan ada habis-habisnya. Pengalaman beliau bersama Pak Kun membuat saya bak tercash full untuk bangkit dan belajar banyak dari dua sosok ini. Pak Arie yang sudah aral melintang dengan dunia marketing dan jadi pembicara di mana-mana berdiskusi ria dengan pak Kun yang sudah mangalami seluk beluk dunia penulis khususnya dunia penerbitan. Dan saya sebagai amtur writer alias penulis pemula menyimak dan mengikuti diskusi sore itu.

Singkatnya, ruang tengah itu sebagai saksi bisu obralan hangat sore membuka mata penulis bahwa ruang untuk menulis selalu ada dan terbuka kapapanpun. Jemari ini bergerak kecil sesekali lincah memberi isyarat kuat bahwa ia menemukan spirit baru untuk terus menulis. Malam pun tiba, mendoan sore itu sudah mulai tak hangat lagi beda dengan obrolan kami yang semakin hangat namun waktu harus memishkan. 

Pak Arie harus bergegas, dan pak Kun juga harus lekas menuju kediaman maka sebuah obrolan di ruang tengah berujung di muara kerinduan. Tentunya akan ada obrolan hangat di ruang tengah berkutnya. Sengat mendoan itu jika berkenan ditemani secangkit kopi dan teh hangat sah-sah saja. Sampai juga di kisah ruang tengah selanjutnya. 

Diakhir pemnulis kutip pepatah arab, laisal firaaki lil firaaki walakinnal firaaqi lissyauki. Arti sederhanya, bukanlah perpisahan itu sebuah perpisahan melainkan perpisahan hanyalah jembatan untuk rindu bertemu. Pepatah ini ingin menyampaikan sebuah pesan perpisahan sesungguhnya berpisah itu sebuah jembatan kerinduan untuk bertemu pada obrolan-obrolan hangat mendatang. sampai jumpa di goresan pena berikutnya. 

Sekali lagi sampai jumpa dan salam literasi. 

Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun