Mohon tunggu...
Akhmad Sujadi
Akhmad Sujadi Mohon Tunggu... Menulis Untuk Indonesia Yang Lebih Baik
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Bukan Pekerja Kantoran

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Pilkada Purbalingga Relawan Versus Struktural

14 Agustus 2020   17:56 Diperbarui: 15 Agustus 2020   09:27 12 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pilkada Purbalingga Relawan Versus Struktural
Baliho calon bupati Purbalingga (dokpri)

Bukan rahasia bila seorang petahana maju dalam Pilkada, ia akan  memanfaatkan struktural pemerintahan. Para punggawa di lingkungkungan Kepala Dinas, Camat,  Lurah, hingga Kadus, bahkan RT  menjadi mesin politik untuk kemenangan petahana. Tak peduli latar belakang partainya, akan melakukan itu.

Lebih dari sebulan lalu, para Kadis, Camat, Lurah dan Kadus dipanggil satu persatu dibujuk rayu untuk merayu pemilih. Caranya Kadis membuat list, nama pejabat hingga karyawan akar rumput. Bila ada tanda-tanda seseorang membelot dia akan dipanggil Kadisnya, atasanya.

Memang Kadis sebagai ASN, secara undang-undang Pemilu tidak boleh aktif ke masyarakat, namun nyatanya mereka sulit mengelak,  jalur struktural digunakan sebagai penggerak. Beberapa ASN di Purbalingga bahkan terkena sanksi dari KPU Jateng karena keberpihakan kepada petahana.


Langkah ini pernah ditempuh ketika Golkar berkuasa dimasa Orde Baru.Pada masa itu saya sebagai PNS dinas di Sidareja, Cilacap. Saya juga menjadi penggerak.

Cara Orde Baru yang dulu dicaci kini hidup kembali dalam Pilkada. Mirip sama persis dengan  cara  menggalang masa pemilih melalui PNS dan struktural Camat, Kades hingga Kadus.

Mereka ada tugas ganda, pelayanan masyarakat, juga pelayan politik dalam Pilkada. Bahkan dengan cara merayu paksa. Mereka militan. Seseorang yang dicurigai membelot dia akan dipanggil, lalu ditanya-tanya "sebelum berbicara ya, seseorang akan diawasi, hingga  dicari salahnya."

Menjelang Pilkada hampir seluruh desa  mendapatkan proyek di desa-desa sebagai sarana merayu paksa dengan pesan pilih petahana.

Seorang sahabat yang jelas memilih petahana membocorkan rahasia dan bertutur,  "Di daerah Kecamatan Mrebet ada sekelompok warga semula mau pilih pasangan lain, lalu dirayu. Kamu butuh jalan? Kami bangun, suara buat petahana ya, mereka pun ikut petahana," terangnya.  

Petahana Purbalingga didukung tim berpengalaman. Dinasti Bupati Triyono Budi Sasongko yang dilanjut putri mahkota, Dyah Hayuning Pratiwi yang disapa Tiwi, berpasangan dengan Sudono dari Golkar, Tiwi akan melanjutkan politik dinasti.

Politik Dinasti karena keluarga ini sudah berkuasa 15 tahun. Pak Triyono 10 tahun, 2000-2005 dan 2005-2010,  Tiwi 5 tahun  termasuk sebagai wakil bupati berpasangan dengan Tasdi.

 Bila Tiwi-Dono dapat  menang dalam  Pilkada, berarti para ASN, Camat,  Kades sebagai garda  depan  Tiwi-Dono akan mencatatkan diri dalam demokrasi. Mereka mengarahkan pemilih  melanggengkan dinasti  politik di Purbalingga.

Dengan demikian keluarga Pak  Triyono akan kembali berkuasa. Hal ini akan mencatatkan sejarah, menjadi penguasa terlama di Purbalingga. Lebih dari 15 tahun.

Berbeda dengan petahana, di kubu Oji-Zaini yang tidak memiliki basis struktural, mereka mengandalkan relawan untuk menggalang masa non ASN, non Camat, non Kades dan keluarganya  untuk melawan kekuatan petahana.

Kubu petahana sudah sangat berpengalaman dalam pemenangan Pilkada. PDIP dan Golkar memiliki  kader strategis yang mengatur, kapan menyerang, dari posisi mana,  strategi sudah dikerjakan dengan baik oleh tim yang sangat kuat.

Meski begitu relawan tidak boleh patah  arang. Semangat memenangkan Oji-Zaini harus terus tertanam dalam jiwa. Masuki semua celah, setiap kesempatan.

 Relawan, tentu berharap ada kekuatan misterius dari Allah Yang Maha Kuasa dalam membantu perjuangan. Salam damai, kompak untuk rakyat.***

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x