Mohon tunggu...
Faisol
Faisol Mohon Tunggu... Lahir di Jember - Jawa Timur, Anak ke 2 dari enam bersaudara.

Faisol, lahir di Jember jawa- timur. Pekerjaan Menjadi kuli tinta dan berupaya menerjemahkan ayat-ayat Ilahiah dalam realitas kosmos untuk menjadi serangkaian kalimat yang bisa dipahami, dimengerti dan semoga bisa menjadi inspirasi bagi yang membacanya. Bergerak di Yayasan Raudlotul Muhlisin dalam Bidang Sosial, Keagamaan, Dan Kemanusiaan.

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Ingat Tradisi Salam Tempel, Kenangan Indah yang tak Terlupakan

9 Mei 2021   14:56 Diperbarui: 9 Mei 2021   15:00 56 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ingat Tradisi Salam Tempel, Kenangan Indah yang tak Terlupakan
Ilustrasi: www.tempo.co

Entah kapan dan dari mana tradisi salam tempel ini dimulai, tetapi sepengetahuan dan yang pernah di rasakan juga bahwa salam tempel ini merupakan warisan secara turun tumurun sampai detik ini, dengan model atau cara yang berbeda-bedan tetapi hakekatnya tetap adalah salam tempel.

Momen hari raya idul Fitri ini, menjadi hari yang sangat menyenangkan, terutama bagi anak-anak yang masih Bocil. Anak yang masih Bocil dengan pakaian baru, sandal atau sepatu baru, pokoknya serba baru. Disamping itu pula si Bocil ini juga sangat senang ketika diajak untuk bersilaturrahmi ke sanak keluarga, karena pastinya akan ada salam tempel, ketika sudah hendak pulang.

Salam tempel ini sudah sejak puluhan tahun yang lalu, atau mungkin sudah lebih dari setengah abad mungkin, tradisi ini berlangsung setiap tahun di momen peayaan hari lebaran. Masih teringat jelas dalam ingatan, dimana ketika ummi, panggilan saya pada ibu, menyuruh untuk mengantarkan makanan kepada saudara dan sanak famili, senangnya sudah minta ampun, karena dipikiran sudah muncul, "pasti pulangnya, nanti akan di kasih uang/amplop berisi uang". Begitulah pengharapan ketika masih anak-anak yang ada di pikiran hanya untuk beli jajan dan mainan.

Mengharap sesuatu milik orang lain, sesungguhnya kurang baik, namun begitulah pikiran anak-anak yang masih polos, dan hal tersebut menjadi lumrah, karena kebiasaan yang sudah dilaksanakan secara rutin tiap tahun, dan juga sudah berjalan puluhan tahun lamanya.

Barangkali kondisi di era tahun 90-an dengan era sekarang sudah terjadi perbedaan, namun sekilas penulis melihat tradisi salam tempel tersebut sudah termodifikasi sedemikian rupa,.salah satunya dengan adanya amplop yang dilihatnya ada tulisan "Minal Aidzin Wal faidzin' mohon maaf lahir dan batin", dan masih banyak lagi yang beragam dari itu, tetapi intinya adalah salam ucapan hari raya idul Fitri.

Di jaman dulu, salam tempel tanpa amplop, langsung saja di kasih, tapi klo saya dulu, langsung dimasukkan kedalam saku, karena saya ada seorang yang pemalu, ketika dikasih sesuatu sama saudara.

Jika teringat hal tersebut, rasanya geli, lucu, tapi ya itulah realitas yang tidak bisa dipungkiri, bahwa tradisi tersebut, merupakan tradisi yang sangat baik, dan tentunya salam tempel tersebut sebagai sebuah apresiasi baik kepada anak-anak, maupun pada orang tua yang sudah sepuh, atau mungkin bisa saja salam tempel pada guru ngaji, yang telah berjasa pada kehidupan kita.

Salam tempel pada anak-anak, momen indahnya berbagi di hari yang Fitri, ikhtiar mensucikan hati, dengan saling memaafkan.

VIDEO PILIHAN