Mohon tunggu...
Akbar Pitopang
Akbar Pitopang Mohon Tunggu... Guru - Berbagi Bukan Menggurui

Mengulik sisi lain dunia pendidikan Indonesia 📖 Omnibus: Cinta Indonesia Setengah dan Jelajah Negeri Sendiri terbitan Bentang Pustaka | Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta | Best Teacher 2022 dan Best In Specific Interest Nominee 2023 | Ketua Bank Sampah Sekolah | Teknisi Asesmen Nasional ANBK | Penggerak Komunitas Belajar Kurikulum Merdeka

Selanjutnya

Tutup

Vox Pop Artikel Utama

Mencari Jalan Aman untuk Study Tour dan Keselamatan Siswa

18 Mei 2024   00:25 Diperbarui: 20 Mei 2024   02:25 708
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kecelakaan bus pariwisata yang membawa rombongan SMK Lingga Kencana Depok. (Dok. Kemenhub)

Kegiatan study tour telah menjadi tradisi yang melekat dalam dunia pendidikan Indonesia. Bukan sekadar rekreasi, kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan pengalaman belajar luar kelas yang lebih kontekstual dan menyenangkan. 

Namun, beberapa waktu lalu, kegiatan ini kembali menjadi sorotan publik setelah insiden kecelakaan yang terjadi di Ciater, Subang yang melibatkan rombongan SMK Lingga Kencana, Depok. Tragedi ini menimbulkan perdebatan hangat mengenai keselamatan dan relevansi study tour di masa mendatang.

Kasus kecelakaan ini mengundang simpati sekaligus kritik dari berbagai pihak. Banyak yang mempertanyakan kesiapan dan tanggung jawab penyelenggara dalam memastikan keamanan siswa selama perjalanan. 

Standar operasional prosedur (SOP) yang seharusnya ketat, kadang-kadang diabaikan demi efisiensi biaya dan waktu. Oleh karena itu, wacana untuk memperketat regulasi terkait kegiatan study tour menjadi semakin mendesak.

Di sisi lain, banyak pendidik dan siswa yang menilai bahwa study tour merupakan bagian dari proses belajar. Melalui kegiatan ini, siswa dapat melihat langsung apa yang mereka pelajari di kelas, memperluas wawasan, dan membangun keterampilan. 

Beberapa contoh sukses dari study tour, seperti kunjungan ke situs sejarah, pabrik wirausaha, atau tempat-tempat wisata edukatif lainnya, membuktikan bahwa kegiatan ini bisa sangat bermanfaat jika direncanakan dan dilaksanakan dengan baik.

Namun, tak dapat dipungkiri bahwa ada juga pihak yang berpendapat bahwa risiko yang ada terlalu besar dibandingkan dengan manfaatnya. Insiden kecelakaan ikut pula menjadi bukti nyata bahwa keselamatan siswa harus menjadi prioritas utama. 

Mereka yang kontra terhadap kegiatan ini cenderung mengusulkan alternatif lain, seperti virtual tour atau kegiatan belajar di lingkungan yang lebih terkontrol dan aman.

Perdebatan ini juga menimbulkan pertanyaan lebih lanjut tentang tanggung jawab sekolah, penyelenggara tur, atau pemerintah? 

Ada desakan agar pemerintah menetapkan regulasi yang lebih ketat dan memastikan bahwa semua pihak yang terlibat dalam kegiatan study tour mematuhi standar keselamatan yang tinggi. 

Termasuk didalamnya mengenai seleksi ketat terhadap transportasi yang digunakan dan pengawasan yang lebih baik selama kegiatan berlangsung.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Vox Pop Selengkapnya
Lihat Vox Pop Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun