Mohon tunggu...
Akbar Faizal
Akbar Faizal Mohon Tunggu... Konsultan - Politisi

Ayah dari tiga anak hebat, suami dari seorang istri yang tangguh dan anak dari seorang veteran TNI yang tak pernah menyerah pada seluruh tugas tempurnya.

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Menikmati Kebohongan Hollywood di Rusia

13 Desember 2016   12:20 Diperbarui: 13 Desember 2016   12:42 1094
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Sebenarnya November hingga Januari bukan waktu yang tepat untuk berkunjung ke Rusia. Informasi cuaca menyebut suhu minus 4-7 derajat Celcius. Mendarat di bandara Domodedovo, Moskwa, salju menutupi bandara seukuran Bandara Hasanuddin Makassar ini. Puluhan pesawat termasuk satu Antonov, pesawat raksasa produksi Rusia terlihat seperti onggokan bangkai pesawat berselimut salju.

Ada rasa kecewa sebab membayangkan bandara ini, satu dari tiga bandara di kota Moskwa, seperti film-film produksi Hollywood. Agen rahasia menguping dimana-mana dengan wajah curiga atau lambang-lambang komunisme. Hanya ada patung Lenin dan Yuri Gagarin yang membeku dipinggir jalan. Yang tersisa hanya perempuan petugas Imigrasi yang mengecek passpor saya secara berlebihan dan menghabiskan banyak waktu. Wajah kaku tanpa senyum ini selanjutnya saya temukan pada hampir semua tempat selama seminggu saya di Rusia. Tak ada keramahan seperti halnya wajah beku Lenin yang dibalsem terbaring di sebuah ruangan kecil di Lapangan Merah. Ini memang kunjungan saya yang pertama ke sini.

Rusia sebuah negara yang maju. Mobil-mobil mewah berseliweran dijalan-jalan kota Moskwa yang macet sepanjang hari. Pertumbuhan masyarakat kelas menengah Rusia salah satu yang tertinggi di dunia meski tahun ini pertumbuhan ekonominya minus. Bandingkan dengan kita yang masih diatas 5 persen. Sistem transportasi kota jauh dari kata tertinggal. Kereta bawah tanah Metro bahkan salah satu yang terbaik di dunia dan dirancang untuk melayani kota berpenduduk 10 juta ini hingga ratusan tahun kedepan.

Saat pertemuan dengan Dubes kita di Rusia, Muhammad Wahid Supriadi dan masyarakat Indonesia di Moskwa saya mendapat banyak informasi terkini tentang negara yang kini dipimpin secara otoriter oleh Vladimir Putin namun disukai oleh rakyatnya.

Kepada WNI kita ini saya jelaskan kondisi terkini perpolitikan Indonesia dan secara khusus mengelaborasi perkembangan terkini RUU Kewarganegaraan yang masuk dalam Program Legislasi Nasional 2014-2019 DPR serta berbagai kebijakan pemerintah lainnya. Mulai dari kebijakan bebas visa kepada 169 negara, diaspora hingga ke kasus Ahok. Informasi tentang kewarganegaraan ini sangat mereka tunggu sebab kita punya sejarah kelam saat beberapa orang Indonesia bermasalah dan atau tak bisa kembali ke Indonesia saat peristiwa G30S PKI terjadi. Seorang profesor yang telah menjadi warga negara Rusia namun asli Trenggalek dan hadir saat pertemuan kami di KBRI itu menghabiskan waktu selama 30 tahun stateless sebagai dampak dari peristiwa itu. Dan kasus Archandra Tahar yang kini menjadi wakil menteri ESDM menjadi sorotan mereka. Sejujurnya saya kewalahan menjawab pertanyaan mereka soal ini.

WNI di Rusia tak banyak, hanya sekitar 700-an orang sesuai catatan KBRI. Lebih dari setengahnya adalah mahasiswa —termasuk 150 mahasiswa yang dikirim Pemda Kaltim khusus untuk belajar tentang perkeretaapian— serta puluhan pekerja jasa Spa yang berkembang dibeberapa kota besar Rusia. Kaltim memang sedang membangun kereta api kerjasama dengan Rusia Railways. Nilai investasi pembangunan jalur kereta api Borneo yang menghubungkan antara Kalimantan Tengah - Kalimantan Timur sejauh 900 km itu mencapai Rp 72 triliun dan ditarget selesai dalam lima tahun.

Saya membayangkan Pemda Sulsel juga melakukan hal yang sama karena di Sulsel sedang dibangun kereta Makassar - Parepare, jalur kereta pertama di Pulau Sulawesi. Dalam hal kereta, Rusia sangat maju. Beberapa universitas terkemuka memiliki fakultas atau jurusan yang khusus tentang perkeretaapian. Moscow State university of Railway Engineering, Saint Petersburg Railroda University, Rostov State Transport University, dan Samara State University of Transport.

Saya mencoba berkeliling kota Moskwa dengan kereta bawah tanah mereka yang sangat nyaman berpindah-pindah dari satu stasiun ke stasiun lainnya. Saya juga memilih kereta cepat Zapsan dari Moskwa ke St.Petersburg sejauh 700-an km yang hanya ditempuh selama 4 jam pada kecepatan 250 km/jam. Tak kalah dari Maglev atau Shinkansen.

Ya..saya memang agak kecewa mendapati Moskwa atau St.Peterburg tidak seperti penggambaran film-film Hollywood. Rusia yang kacau balau di siang hari oleh sistem pemerintahan yang gagal dan kelam dimalam hari. Saya memang menyukai film-film Spy sejak kecil. Tak kutemukan apartemen dengan lampu yang meredup kehilangan daya di ruang teenage. Kota ini bermandikan cahaya. Dan pemerintah Rusia tak perlu khawatir kehabisan minyak bumi dari ladang-ladang minyak mereka di Utara untuk memutar turbin listrik mereka. 

“Listrik disini berasal dari pembangkit nuklir yang membuatnya menjadi sangat murah. Saya hanya membayar sekitar Rp 100 ribuan/bulan untuk kebutuhan ribuan watt listrik,” jelas Dasep, orang Cipanas yang sudah 22 tahun di Moskwa sebagai Local Staff. Dari Dasep saya mendapat banyak cerita tentang orang-orang Rusia. 

Beberapa cerita dia jelaskan dalam bahasa Sunda kental kepada seorang anggota rombongan saya yang juga orang Sunda. Lucu. Terbang ke arah utara bola bumi selama 16 jam via Doha, Qatar, dan mendengar celotehan bahasa Sunda ditengah orang-orang Rusia yang kesulitan berbahasa Inggris. Sempurna situasinya sebab tulisan-tulisan yang bertebaran di kota Moskwa dalam bahasa Cirilic. Saya sama sekali tak paham.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun