Mohon tunggu...
Aji NajiullahThaib
Aji NajiullahThaib Mohon Tunggu... Pekerja Seni

Hanya seorang kakek yang hobi menulis

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Frustasi karena Mempertahankan Jabatan

30 Mei 2021   11:07 Diperbarui: 30 Mei 2021   11:27 130 10 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Frustasi karena Mempertahankan Jabatan
Foto: Mediaindonesia.com

Saya teringat ucapan almarhum Gus Dur yang sangat inspiratif, "Orang yang masih terganggu dengan hinaan dan pujian, adalah hamba yang amatiran."

Sepintas kata-kata di atas terkesan kocak, tapi kalau dicermati lebih dalam maknanya sangatlah dalam. Hinaan dan pujian itu adalah ujian keimanan, tidak perlu merasa rendah karena di hina, dan tidak perlu melambung karena disanjung.

Kita merasa terhina karena merasa terhormat, merasa tersanjung karena tidak memiliki kepercayaan diri. Sehingga tidak siap secara mental ketika menghadapi hinaan dan sanjungan.

Ada yang begitu kelimpungan ketika kehilangan Jabatan. Bahkan ada yang sampai frustasi. Kenapa mesti takut kehilangan Jabatan? Padahal Jabatan itu adalah amanah yang di titipkan-Nya, yang setiap saat bisa dicabutnya tanpa bisa kita pertahankan.

Apakah dengan kehilangan jabatan kita akan terhina? Jelas tidak, kalau kita mengimani bahwa jabatan itu hanyalah titipan Tuhan. Faktor utama seseorang kehilangan jabatan itu adalah, karena tidak ada lagi kepercayaan dari Sang Pemberi Amanah.

Kalau kita mengimani itu, tidak akan ada lagi persoalan yang harus dipermasalahkan. Secara kasat mata bisa saja terlihat bahwa copotnya jabatan tersebut karena ada rekayasa manusia, tapi di balik semua itu karena ada campur tangan Yang Maha Kuasa.

Tidak perlu seperti cacing kepanasan,  atau frustasi di saat kehilangan jabatan, tanya pada diri sendiri, kesalahan apa yang sudah dilakukan. Tidak perlu mencari pembenaran dengan mengkambinghitamkan orang lain kalau pada akhirnya semakin membuka kesalahan sendiri.

Agak aneh kalau ada orang yang merasa terhina karena kehilangan jabatan, sehingga dia berusaha mencari pembenaran atas kesalahan yang dilakukannya. Seakan-akan dia tidak bisa menerima kenyataan, dan tidak merasa kalau jabatan itu hanyalah titipan.

Orang-orang seperti ini biasanya terbiasa hidup di atas berbagai sanjungan, merasa terhormat dan sangat dibutuhkan. Namun jatuh terpuruk saat kehilangan jabatan, dan berusaha mencari kesalahan orang lain atas kesalahan yang dilakukannya.

Gus Dur juga pernah bilang:

"Tidak ada jabatan di dunia ini yang perlu di pertahankan mati-matian."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN