Mohon tunggu...
AI AYAT SURYATI
AI AYAT SURYATI Mohon Tunggu... Guru - GURU

GURU

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cinta Putih Abu-abu (Pagi yang Tak Biasa)

27 September 2022   21:44 Diperbarui: 27 September 2022   21:54 89 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Pagi itu seperti biasa Andini berangkat kesekolah sendiri berjalan kaki. Berjalan menyusuri jalan kampung yang masih cukup sepi lalu lalang orang berkendara karena baru pukul 05.45 WIB hanya ada beberapa petani sempat berpapasan yang akan bekerja menuju sawah  , Andini  nikmati perjalanan sembari menghirup udara pagi dan pemandangan pesawahan yang berada tepat di samping sepanjang jalanan kampung yang dia lalui. Jalan yang Dia lewati tidak berbeda seperti biasanya tapi.. hari ini ada rasa yang aneh ketika ia berjalan tepat melewati salah satu rumah  hatinya merasa ada yang memperhatikan ketika berjalan seketika Andini berhenti dan menengok kebelakang tapi tidak ada seorangpun yang berjalan. Lalu Andini pun melanjutkan perjalanannya meskipun terbilang masih pagi tapi Andini tidak mau berleha-leha untuk berjalan karena perjalanan masih jauh belum lagi harus naik angkot untuk sampai kesekolah.

Tak terasa perjalanan yang Andini tempuh sudah hampir setengah jalan  menuju tempat angkot biasanya mangkal menunggu penumpang. Lagi-lagi ia merasakan kalau dia sedang diperhatikan oleh seseorang , tapi kali ini dia memilih terus saja melangkah dan ingin segera sampai di pangkalan angkot agar ada seseorang yang bisa membantunya jika sesuatu atau seseorang ada  yang berniat jahat padanya.

Dia sengaja mempercepat langkahnya sehingga suara seseorang akhirnya berhasil menghentikan langkahnya. 

"Hei..Din antosan..(hai..Din tunggu). Suara seseorang memanggil Andini yang langsung menengok kebelakang karena dia mengenal suara itu dengan baik.

"Eh.. Aa..manawi teh te aya Aa di pengker. (eh saya kira tidak ada Kakak dibelakang). Jawab Andini

Ya seseorang yang dia kenal baik , seseorang yang namanya memiliki tempat istimewa di memori  bahkan di hatinya ya..dialah Agus yang sebenarnya jika menurut garis keturunan dari ayahnya  masih mempunyai hubungan kekeluargaan dengannya meskipun sudah sedikit jauh. Seseorang yang dia panggil A agus semata-mata karena memang lebih tua darinya bukan karena memiliki tempat istimewa dihatinya.

"Apa kabar..?tanya Agus sembari menyulurkan tangan dan senyum kepada Andini.

"Alhamdulillah sehat A ...kumaha samulihna? (Alhamdulillah baik bagaimana kabarmu).Jawab Andini sembari menerima uluran tangan Agus mungkin hanya beberapa detik saja kedua tangan itu bertaut karena Andini segera melepas tautan tangan itu dan langsung berbalik karena ada getar menjalar aliran darahnya sehingga dia rasa jantungnya terhentak dan berdebar tak karuan.

" Boleh jalan bareng kebetulan Aa mau jalan santai ke depan olahraga pagi?Agus meminta ijin

"Boleh A kenapa nggak boleh ini jalan umum silahkan Juga jika Aa mau boleh duluan jalan juga". Jawab Andini sambil memandang kedepan tidak berani memandang Agus karena ia tidak mau kalau Agus mengetahui merah pipinya karena menahan debaran yang bergemuruh di dadanya.

" Nggak ah.. Aa mau berjalan bareng sama kamu ga papa kan takutnya nanti ada yang marah melihat kita jalan berdampingan seperti ini". Agus sengaja menggoda gadis pemalu disampingnya yang sebenarnya dia sudah tahu ada rona merah dipipinya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan