Aiman Witjaksono
Aiman Witjaksono Wartawan

So Called Journalist

Selanjutnya

Tutup

Kandidat Artikel Utama

Gelitik Politik Pasar

15 Desember 2018   14:54 Diperbarui: 16 Desember 2018   07:24 1945 8 3
Gelitik Politik Pasar
Sandiaga Uno dan Joko Widodo saat blusukan ke pasar.(KOMPAS.com/PRIMA PUTRA dan Biro Setpres)

Jokowi: "Orang enggak pernah ke pasar, nongol-nongol ke pasar, keluarnya ngomong mahal. Enggak pernah ke pasar. Enggak mungkin orang super kaya datang tahu-tahu datang ke pasar, enggak mungkin lah. Datang ke pasar, enggak beli apa-apa, pas keluar bilang 'mahal, mahal, mahal! Haduuh..." 

Sandiaga Uno: "Mungkin yang dimaksud  (Jokowi) bukan saya. Tapi kalau memang ditujukan kepada saya, yang bilang harga-harga di pasar naik dan tidak stabil, bukan saya, tapi pedagang dan pembeli sendiri!"  "Belanja ke pasar itu tugas orang rumah saya. Kalau saya belanja di pasar itu namanya pencitraan!" 

Pasar dan "Perang" Pernyataan
Apakah anda memerhatikan ada yang berbeda dari Kampanye Pilpres 2019 kali ini? Ada yang sadar, tapi saya yakin banyak yang tidak. Kata kuncinya: Pasar. Nyaris semua kompetisi muncul dari Pasar.  Bahkan dari sinilah "perang" pernyataan menjadi viral. Seperti kutipan di atas. Disampaikan oleh Capres nomor urut 01, Joko Widodo di Lampung (24/11). 

Jokowi tak menyebut nama orang itu, namun dengan mudah dan nyaris tak terbantahkan, sosok yang dimaksud adalah cawapres nomor urut 02, Sandiaga Uno, yang sejak awal kampanye tahun ini, paling rajin pergi ke pasar dan menyuarakan suara- suara keluhan dari dalam pasar. 

Pernyataan Jokowi ini pun langsung berbalas, yang disampaikan Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno, kemarin (25/11) di Lumajang, Jawa Timur. 

Sandiaga Unu Paling Rajin Masuk Pasar
Tim Aiman mencatat ada setidaknya 16 kali kunjungan Calon Wakil Presiden Nomor urut 02, Sandiaga Uno. Mulai dari start kampanye bulan September lalu, yang tercatat di media. 

Di sinilah mulai viral, istilah Tempe setipis kartu ATM, nasi ayam, hingga yang terbaru oleh Anggota Dewan Pembina Partai Berkarya Titiek Soeharto, "50 Ribu Dapat Apa di Pasar?" Sontak pihak Jokowi-Ma'ruf tidak tinggal diam. 

Vlog terbaru dibuat oleh Kirana Larasati salah seorang Calon Anggota Legislatif dari PDIP, yang berbelanja ke pasar dengan uang Rp 50 ribu. Dan, yang tak diduga adalah Capres nomor urut 01 yang juga Presiden RI, kini mulai sering bertandang ke pasar. 

Tim Aiman mencatat sejak "serangan" dari pernyataan harga - harga mahal dari Sandiaga Uno, Jokowi sejak akhir Oktober lalu, kerap keluar masuk pasar. Dan bulan november ini, tak kurang setiap pekan ia mampir ke pasar. Ada apakah gerangan dengan pasar, apakah benar pasar jadi penentu kemenangan pasangan calon pada Pilpres 2019 ini? 

Pasar Penentu Kemenangan Pilpres?
Keliahatannya remeh-temeh, harga cabai, bawang, beras, minyak goreng, hingga tempe. Tapi sesungguhnya, benar inilah penentu kemenangan! Setidaknya ada 2 survei yang mendukung teori ini. Litbang Kompas pada bulan Oktober tahun ini menyebutkan, apresiasi Kinerja Jokowi-JK turun. 

Faktor utama yang menyebabkan turunnya apresiasi pemerintah ini diantaranya yang terbesar adalah masalah kesejahteraan dan ekonomi. Demikian pula survei terbaru lembaga survei Median, yang menyebutkan 3 hal besar yang menjadi penentu kemenangan, Persepsi publik terhadap Kesejahteraan, Lapangan Kerja, dan Harga Pangan. Ketiganya berada di bidang ekonomi. 

Ekonomi dan "Bahasa Rakyat"
Meski inflasi terjaga di bawah 3,5 persen, namun kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat. Pihak Jokowi-Ma'ruf mengatakan karena pengaruh dari turbulensi ekonomi global. Sementara pihak Prabowo-Sandi mengatakan sebagai kurang cakapnya pemerintah mengelola negara. 

Terlepas dari perdebatan itu, akibat dari perlambatan ekonomi, memang membuat perusahaan sulit berekspansi lebih besar, yang berujung serapan tenaga kerja yang rendah. Hal ini diperparah dengan kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat, yang memaksa Bank Sentral (BI) menaikkan suku bunga hingga 6 kali, total 175 basis poin (bps). Tetapi sulit untuk menceritakan hal - hal ini kepada sebagian masyarakat. 

Kedua kubu memiliki argumentasi yang berbeda melihat fenomena ini. Oleh karenanya cara yang paling mudah adalah membahasakan dengan bahasa rakyat, harga barang di pasar tradisional. 

Jadi bersiaplah di pemilu ini, akan semakin terngiang harga bawang, cabai, bahkan petai hingga jengkol. Kata - kata yang dipahami seluruh warga Indonesia tanpa terkecuali. Dari  sinilah sesungguhnya terecermin seberapa besar inflasi yang terjadi. 

Tapi pertanyaannya, apakah masyarakat tidak dirugikan karena kontestasi yang mayoritas hanya diisi dengan gemuruh harga cabai, bawang, hingga ayam? Lalu ke mana usulan cetak biru pembangunan yang akan dibawa masing - masing kandidat yang akan memimpin 260 juta warganya? 

Saya Aiman Witjaksono...
Salam!