Mohon tunggu...
Aid Sincera
Aid Sincera Mohon Tunggu...

Please respect copyright. Feel free to discuss everything. \r\nEmail me: badaimenghadang@gmail.com\r\nhttp://aidsincera.blogspot.com/\r\n

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

[Wayang Galau] 03. Ngunduh Mantu Berbuah Petaka

26 Desember 2011   02:01 Diperbarui: 25 Juni 2015   21:45 0 1 1 Mohon Tunggu...

Kerajaan Hastinapura sedang bersuka cita karena selama 7 hari 7 malam ini ada gawe, royal wedding Raja Wicitrawirya. Sebenarnya yang punya hajatan ngunduh mantu adalah Ratu Satyawati tapi seolah-olah semua rakyat ikut menanggungnya. Lha wong biayanya dari APBK (Anggaran Pendapatan dan Belanja Kerajaan) dan menggunakan fasilitas kerajaan dari urusan ballroom istana, sampai tinta buat tanda tangan buku tamu dan buku nikah. Namun biar rakyat senang dan tidak melakukan demo, bakar-bakar, apalagi makar. Maka Ratu mendatangkan artis-artis ternama kesukaan rakyat untuk menghibur, mulai dari Justin Bieber, LMFAO, SNSD, Super Junior, Trio Macan, Endang S Taurina, Didi Kempot, Lilis Karlina, Neneng Anjarwati, dll diiringi Orkestra dari OM Palapa aaaa .. aaayyeee. Ratu senang, Rakyat tenang, Artis kayang, APBK tahun depan penuh utang. “Saya terima nikahnya Jeng Ambika dan Jeng Ambalika dengan Mas Kawin seumbruk di Papua dibayar rakyat Hastinapura, Tunai”. “SAAAAAAAAAHHHHHH”. Dengan demikian, Raja Wicitrawirya resmi menjadi suami dari Jeng Ambika dan Jeng Ambalika. “Sssst .. Ambalika, who’s first?” Tanya Ambika kedap kedip. “Situ aja deh, gue lagi ada tamu cyiiin”. Pesta perhelatan pun usai sudah, kegiatan di Kerajaan Hastinapura berjalan normal kembali. Namun, tak disangka Raja Wicitrawirya tiba-tiba jatuh sakit yang teramat parah. Ibunda Satyawati memanggil tabib untuk menyembuhkan Raja. “Koh, how? Anakkyu ini syakit apah?” “Haiyaaa, Laja punya olang telnyata sakit palu-palu” “UAPAAAAA”. JHENGGG .. JHENGGG ... JHENGGGGG (Zoom in .. Zoom out) “Gak myungkin syakit palu-palu Koh, Anakyuu never ever mainan palu, arit dan syejenisnya”. “Haiyaaaa, bukan sakit kalna palu, tapi sakit palu-palu”. “Lha iya Koh, sakit palu-palu because of palu kan?” “Haiyaaaa, ini olang susah kali, ini sakit palu-palu, bukan sakit kalna palu”. “Aduuuuhhh pusyiiiinggg, ngomong opo tho Kokoh tabib ini. Katanya sakit palu-palu, kalau nggak because of palu trus karena opo?” “Haiyaaaa, oe juga bingung sendili. Ini sakit palu-palu, bukan sakit palu”. Raja Wicitrawirya yang terbaring di tempat tidur dan mendengarkan pembicaraan antara Mamahnya dengan tabib jadi pengen nenggak obat pencahar campur aspal panas. “OK that’s it .. enough. Koh, aku ini sakit PA-RU PA-RU kan?!? Bukan PA-LU???”. “NAAAAHHHH, Lu olang pintel laja, lu olang sakit palu-palu, bukan palu”. “AAAAAAAAARRRRRRRRGGGHHHHHHH”. Raja Wicitrawirya setres, Ratu Satyawati ngeces, Tabib pengen ikan pepes. “Koh, adikku ini sakit Paru-paru kah? Pulmonology?”. Prince Bisma menengahi dengan bijak. “YAAAAAAAAA, bener. Lu olang benel. Sakit palu-palu dibawa ke ahli palu-palu, pulmonology. “OK Confirm, berarti sakit paru-paru, bukan palu is hammer kan?” “100 !!! Haiyaaaa, lu olang pintel, kenapa tidak jadi doktel?” “Mah kita segera bawa Adik ke Dokter spesialis paru-paru”. “Ya ampyuuun, untung ada kamyuu Bisma. Mamah setress ngomong sama Kokoh Tabib ini”. Raja Wicitrawirya akhirnya mendapatkan pengobatan intensif dari ahli paru-paru, sayang sungguh sayang, penyakitnya sudah stadium akhir, tidak bisa diselamatkan lagi. Hari itu juga, Raja Wicitrawirya menghembuskan nafas yang terakhir. Beliau meninggalkan seorang Mamah Satyawati, Seorang Kakak Tiri Prince Bisma dan 2 orang istri, Jeng Ambika dan Jeng Ambalika. Pecah tangis penghuni Kerajaan Hastinapura beserta seluruh rakyatnya. Raja mereka mangkat tanpa ada keturunan penerusnya. Ratu Satyawati yang gusar karena Kerajaan dalam status pemerintahan geje, memanggil Prince Bisma. “Bisma, anakyuuu. Negara ini tidak adya rajanya. Kalau kamyu ambil alih sementara gimana? How?” “Mamah, mohon maaf. Saya tidak bisa. Saya sudah bersumpah untuk tidak menduduki tahta kerajaan”. “Ya ampyuuun, forget it. Para Dewa akan memaklumi itchuu. Atau kalau kamyu tidak mau, kamyu bisa nikahin Ambika dan Ambalika. So, keturunanmu nanti yang jadi penerus. How?” “Mamah, mohon maaf. Saya tidak bisa. Saya juga sudah bersumpah untuk tidak menikah seumur hidup”. “Ya ampyuuuunn, pengen nangis rasanya, semuaaa syalahhhku. Akyuu yang bikin kamyu sumpah seperti itchuuu ... sekarang akyuu kualat, akhirnya kerajaan ini tidak pernah ada penerusnyaaaa, semua mati sajaaaaahhhh hiks hiks hiksss”. “Mamah ... tenanglah, calm down. Saya juga tidak tahu harus berbuat apa mah, inilah kehendak langit. Mungkin Mamah bisa menikah lagi sehingga bisa memiliki keturunan penerus tahta. How?”. “Ya ampyuuuuun, mamah sudah bangkotan kamyu suruh kawin lagi. Bisma, mamah ingat, sebelum mamah menikah dengan papahmu, mamah punya keturunan yang berasal dari seorang resi sakti. How?” JHENGGG .. JHENGGG ... JHENGGGGG (Zoom in .. Zoom out) “HAH, jadi mamah sudah tidak perawan saat menikah dengan papah. How?” “Adyuuuh, udah jangan dibahas kisah itchuuu, akyuu maluuu. Sekarang kamyu setuju gak kalau kita panggil keturunan mamah itu ke sini. So, setidaknya kita punya someone untuk jadi penerus tahta. How?” Prince Bisma bingung, gundah gulana, galau ... Jika Keturunan Mamah Satyawati yang menduduki singgasana, berarti sudah benar-benar tidak ada pertalian darah lagi. Namun, Bisma mendapatkan wangsit dari Para Dewa untuk menyetujuinya, daripada Kerajaan terus-terusan status quo. “OK mah, saya setuju. Di manakah keturunan mamah itu sekarang berada? “Akyu juga tidak tahu, mamah sudah tidak pernah kontak-kontak lagi. Nama dari keturunan mamah itu Abyasa. Coba kamyu tanya informasi lewat twitter @InfoKerajaanHastinapura atau pasang iklan di koran Hastinapura Pos. How?” “Baiklah mah, saya akan cari secepatnya”. Pencarian putra dari Ratu Satyawati gencar dilakukan oleh Prince Bisma. Ratu pun memberitahukan kepada Jeng Ambika dan Jeng Ambalika, jika nanti mereka akan dinikahkan dengan Abyasa, agar mereka memiliki keturunan penerus tahta Kerajaan Hastinapura. “Mah, aku sudah dapat email yang dikirim sosok mengaku bernama Abyasa, dia juga menyertakan pas foto 3 x 4 berwarna, scan copy akte kelahiran, Legalisir Ijazah, SKCK dan Kartu Kuning dari dinas tenaga kerja dan transmigrasi. Coba mamah cek kebenarannya. How?” “Ooooo .. that’s right. Ini anakku asli yang bernama Abyasa. Kamu panggil dia kesini secepatnya. How?” “Tapi .. tapi mah .. yakin ini anak mamah?” Ucap Prince Bisma ragu-ragu setelah melihat fotonya. “Yakiiiin cyiiin, udah cepet suruh dia kesini. Ya memang ciih, wajahnya ... you know lah what I mean .. ”. “Baiklah mah”. Keesokan harinya, dengan flight pertama, walau agak delay 6 jam. Abyasa sampai di Kerajaan Hastinapura disambut oleh Ratu Satyawati, Prince Bisma, Jeng Ambika dan Jeng Ambalika. Bisik-bisik antara Jeng Ambika dan Jeng Ambalika pun bersaut-sautan. Mereka yang mengira Abyasa setampan Raja Wicitrawirya langsung lemes mules melihat wajah Abyasa yang ... you know lah what I mean ... Pernikahan dilakukan dengan tempo yang sesingkat-singkatnya, maka kali ini tidak ada perhelatan akbar royal wedding. Konon, karena Abyasa keturunan dari Resi Parasara yang sakti, maka Abyasa pun memiliki kesaktian mandraguna, walau pun sayang wajahnya ... you know lah what I mean ... Katanya nanti jika beliau sekali saja mengadakan upacara suci bersama Jeng Ambika dan Jeng Ambalika, mereka akan langsung memiliki keturunan. Urutan pertama yang mengikuti upacara suci itu adalah Jeng Ambika. Dia yang dengan takut-takut memasuki tempat upacara. Karena tidak sanggup melihat wajah Abyasa yang .. you know lah what I mean ... maka sepanjang ritual, dia menutup mata. Akibatnya, Abyasa berkata bahwa anak Jeng Ambika nanti akan terlahir buta. JHENGGG .. JHENGGG ... JHENGGGGG (Zoom in .. Zoom out) Ratu Satyawati yang mendengar perkataan Abyasa itu langsung cenat cenut mumet muneg. Kalau nanti putra mahkota buta, how? Maka dari itu Ratu langsung memberi tahu Jeng Ambalika agar nanti saat upacara tidak menutup mata. Giliran Jeng Ambalika yang memasuki tempat upacara, dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak memejamkan mata dan bertekad menjalani ritual upacara dengan melihat wajah Abyasa yang ... you know lah what I mean ... maka sepanjang upacara dia tidak memejamkan mata, namun karena masih merasa takut, akhirnya wajahnya malah menjadi pucat pasi. Akibatnya, Abyasa berkata bahwa anak Jeng Ambalika akan terlahir berwajah pucat pasi. JHENGGG .. JHENGGG ... JHENGGGGG (Zoom in .. Zoom out) Ratu Satyawati yang mendengar perkataan Abyasa itu menjadi semakin cenat cenut gundah gulana galau mericau. Para keturunan pewaris tahta kerajaan ini tidak ada yang sempurna sehat jasmani, how? Maka Ratu memohon kepada Abyasa untuk melakukan upacara suci sekali lagi. Namun kali ini Jeng Ambika dan Jeng Ambalika tidak mau melakukan upacara tersebut. “Ambalika, kamoh ajyah eeaa yang macyuk, akooh cakuuut cyiiin”. “Ogah ahh Kak, gue juga takut cyiiin”. Karena mereka berdua ketakutan, maka dengan akal bulus mereka mengirimkan dayang untuk masuk ke tempat upacara suci tersebut. Dayang itu tidak merasa ketakutan dan tenang sekali saat melihat Abyasa yang ... you know lah what I mean ..  Abyasa berkata bahwa anak dayang tersebut nanti akan terlahir sehat. Ratu Satyawati yang melihat tingkah polah kedua putri itu cuma geleng-geleng jeb ajeb ajeb. Memang sudah takdir langit bahwa keturunan penerus tahta Kerajaan Hastinapura tidak ada yang sempurna. Ratu menyesal sekali, dia menerima karma dari langit dengan ikhlas akibat dulu terlalu congkak sehingga memutuskan ahli waris Prince Bisma. Kerajaan Hastinapura pun sekarang memiliki penerus tahta kerajaan walau pun tidak sempurna. Dari Jeng Ambika lahirlah anak yang buta bernama Prince Dretarastra. Dari Jeng Ambalika lahirlah anak yang wajahnya pucat pasi seperti Edward Cullen bernama Prince Pandu. Dari dayang lahirlah anak yang sehat bernama Widura. Namun dikarenakan Widura bukan keturunan darah biru, maka pewaris kerajaan jatuh kepada Prince Dretarastra dan Prince Pandu saja.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x