Mohon tunggu...
Ahmad Sahidin
Ahmad Sahidin Mohon Tunggu... Alumni UIN Bandung

Sehari-hari di rumah. Menghabiskan waktu dengan membaca buku kemudian berbagi ulasannya. Sesekali mengajar di sekolah dan madrasah. Mohon senantiasa mendoakan saya dan keluarga agar sehat lahir batin, dimudahkan dalam urusan rezeki, dan berkah dalam hidup.

Selanjutnya

Tutup

Hiburan

Resensi Novel "Tadarus Cinta Buya Pujangga"

28 Desember 2018   16:20 Diperbarui: 28 Desember 2018   23:27 225 0 1 Mohon Tunggu...

Alhamdulillah, saya menamatkan baca (buku) novel karya Akmal N.Basral. Akmal adalah penulis fiksi, yang saya kira hebat dalam eksplorasi kondisi dan penggambaran suasana. Seakan-akan saya melihat langsung kondisi alam yang diceritakan Akmal dalam novel "Tadarus Cinta Buya Pujangga" (Salamadani Grafindo, 2013).

Novel biografi yang berlatar belakang budaya Minangkabau ini terasa hidup. Dialog yang dibangunnya pun mengalir. Meski alur cerita yang datar dan mudah ditebak, tetapi penggambaran sosok Malik (Hamka kecil) cukup kuat.

Selain itu, perjalanan tokoh Malik yang sejak kecil hingga dewasa cukup apik dan runtut digambarkan. Konflik dengan sang ayah, membuat Malik meninggalkannya. Meski memiliki cita-cita yang berbeda dengan sang ayah, tetapi takdir mengarahkan hidupnya menjadi sosok yang sama seperti ayahnya: ulama dan aktif dalam sebuah organisasi Islam.

Karier yang dirintis dengan otodidak oleh Malik menjadi kekuatan dari novel ini. Semangat untuk tumbuh dan merajut masa depan yang gemilang terasa ditekankan oleh sang penulis. Dari sang awak kecil yang hidup terlunta-lunta, tetapi bernasib beruntung, sampai kemudian menjadi orang ternama berkat tulisan dan pengetahuan agama yang melejitkan sosoknya menjadi tokoh Islam.

Sayangnya, proses menuju Hamka besar dan ulama ternama pasca bertemu Soekarno luput dari paparan Akmal. Saya menduga dari awal saat baca bahwa tentang proses konflik pemikiran dengan Bung Karno (Ir Soekarno) yang membuat Hamka masuk jeruji besi, akan dirajut pada bagian akhir. Ternyata hal itu tak ada. Berakhir tanpa ada penghubung dengan bagian awal kisah pembuka. Kayaknya, Akmal sengaja supaya pembaca berminat membaca sejarah politik Indonesia.

Meski terasa ada yang menggantung, saya kira novel ini terbilang bagus dari bahasa dan alurnya. Keterlibatan emosi memang kurang. Terasa ada jarak dengan keadaan sang tokoh dengan dialog-dialog yang dirangkai.

Kemudian aspek mendebarkan dan sentuhan emosi sedikit tampak saat pertemuan Malik yang sudah haji dan menjadi penulis pemula dengan sang ayah yang bangga terhadap anaknya yang berhasil tanpa bantuan ayahnya.

Saya yang masih awam dalam khazanah sastra, melihat sisi keterlibatan emosi personal dalam novel ini cukup kuat (karena bisa membuat pembaca seperti saya larut) bukan pada tokoh Malik. Akan tetapi, pada ayahnya: Karim Amrullah yang disesatkan orang-orang tidak sepaham dalam agama dan dianggap bertentangan dengan pemahaman umum. Kemudian perlakuan masa silam terhadap sang anaknya yang cukup menegangkan.

Berkaitan dengan konflik pemahaman agama, sang novelis (Akmal) mendedah konflik sang ayah dengan orang yang tidak sepaham itu melalui forum sehingga terbuka dan menjadi jelas duduk permasalahannya. Ini pula menjadi pelajaran penting bahwa menyelesaikan konflik pemikiran atau pemahaman agama harus melalui sebuah forum dengan menghadirkan pihak-pihak yang terlibat konflik (dalam sebuah mahkamah yang diakui keadilannya). Penghakiman sepihak dalam masalah agama atau pemahaman pemikiran, bukannya menjadi solusi masalah malah semakin menyulut masalah baru. Apalagi hal itu disebarkan pada orang-orang yang belum paham. 

Saya kira pembaca novel "Tadarus Cinta Buya Pujangga", mungkin akan sepakat dengan simpulan saya bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Nenek moyang Hamka adalah ulama. Ayah Hamka juga ulama. Selanjutnya Hamka pun menjadi ulama. Secara tidak sadar ada gen yang berulang dan dipertahankan. Saya yakin itu bagian lain yang layak diapresiasi dalam novel ini bahwa ketokohan seseorang ditentukan pada genealogi.

Saya percaya, Akmal luar biasa melakukan proses kreafif untuk penulisan novelnya. Kerja yang tidak mudah untuk menggali sosok tokoh Islam Indonesia yang pernah menjadi buah bibir era munculnya orde baru. 

Apalagi setelah sukses dengan novel "Sang Pencerah" yang dianugerahi sebagai penulis fiksi terbaik, saya kira menjadi semakin pede (percaya diri) dalam menulis novel-novel tokoh Indonesia lainnya. Segera beralih pada tokoh bangsa lainnya. Supaya generasi kekinian tidak buta sejarah. Selamat buat Akmal. Teruslah melahirkan karya.*** (Ahmad Sahidin)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x