Mohon tunggu...
Ahmad Ricky Perdana
Ahmad Ricky Perdana Mohon Tunggu... Wiraswasta - gemar travelling, fotografi dan menulis

seringkali mengabadikan segala hal dalam bentuk foto dan tulisan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Ibadah Kurban, Ketakwaan dan Dimensi Sosial

17 Juli 2022   02:13 Diperbarui: 17 Juli 2022   04:35 55 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Daging Kurban - serambinews.com

Islam merupakan agama yang tidak dapat dipisahkan dari dimensi sosial, dalam setiap ibadah yang disyariatkan untuk hamba-Nya terkandung diantaranya nilai-nilai sosial, seperti zakat, shodaqoh, waqaf, puasa, aqiqah dan sudah pasti qurban yang akan kita cermati dalam tulisan ini. Dalam Al Qur'an maupun hadist banyak terkandung nilai-nilai sosial seperti perintah berbuat baik kepada kaum dhuafa, menyantuni anak yatim,menjenguk orang sakit, dan lain sebagainya.

Dalam setiap ritual Islam, terkandung tujuan "syariat" yang disebut oleh ulama dengan Maqhasid Syari'ah, yaitu tercapainya kemaslahatan bagi umat manusia di dunia dan akhirat. Islam tidak hanya berfokus pada ibadah vertikal tapi juga fokus pada hubungan dengan manusia lainnya secara horizontal. Oleh karena itu, tujuan ibadah kurban dan juga ibadah lainnya tidak hanya bersifat kemaslahatan ukhrowi saja melainkan juga bersifat kemaslahatan duniawi.

Perintah berqurban pada hakikatnya tidak hanya sekedar menuntut kita untuk menyembelih hewan qurban pada hari-hari yang telah ditetapkan, tetapi perintah ini mempunyai jangkauan makna yang lebih luas, yaitu sebagai ajaran agar kita mau berbuat dan berqurban untuk saudara-saudara kita yang memerlukan bantuan yakni fakir miskin. Allah SWT telah mengingatkan kita bahwa rizki, kekuasaan, kekayaan, kedudukan dan kenikmatan yang kita dapatkan, tidaklah semata-mata merupakan hasil usaha kita semata, tetapi semua itu merupakan anugerah dari Allah SWT. Apa yang telah kita terima dari Allah tersebut, kita dianjurkan untuk mengurbankan sebagian dijalan yang diridlai Allah.

Yang menarik dan perlu kita renungi bahwa ibadah qurban itu kita laksanakan dengan menyembelih binatang, tidak dengan bentuk memberikan makanan ataupun membagikan uang secara langsung kepada penerima manfaat qurban. Qurban yang kita lakukan dalam menyembelih binatang adalah pelambang bahwa manusia harus membunuh dan mengikis habis segala bentuk nafsu hayawaniyah atau watak kebinatangan.   

Sebagaimana diketahui bahwa didalam meniti hidup dan kehidupan duniawi yang penuh dengan permainan dan persaingan ini, tidak jarang manusia itu tergoda dan dikendalikan oleh hawa nafsu hayawaniyah atau kebinatangan, sehingga timbul sifat serakah, kejam melebihi keserakahan dan kekejaman binatang, hanya mengutamakan nafsu dan tidak memperdulikan halal haram.

Sifat-sifat tersebut diatas tentu bisa menimbulkan gesekan ditengah masyarakat Indonesia yang beragam. Keserakahan dapat menimbulkan praktek korupsi, nafsu merasa paling benar (eksklusivisme) menimbulkan intoleransi. Aksi-aksi intoleran yang berbuah kekejaman dan tindakan main hakim sendiri pun acapkali tak terelakkan atas nama pembelaan terhadap Tuhan.

 Melalui spirit ibadah qurban sejatinya kita dapat mendorong tumbuhnya sikap inklusivisme dalam diri, kelompok dan masyarakat luas karena inklusivisme merupakan fitrah yang telah dititipkan Tuhan kepada setiap manusia agar membangun kesetaraan, persamaan, kerukunan, dan keadilan. Selain itu esensi dari paham inklusivisme adalah dibawanya pesan-pesan kemanusiaan yang bersifat universal dengan menumbuhkembangkan sikapsikap dan prasangka yang baik terhadap sesama. Upaya untuk membangun budaya inklusif harus tetap digelar sehingga diharapkan dapat meredam hegemoni eksklusivisme. 

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan