Mohon tunggu...
Ahmad Habibi
Ahmad Habibi Mohon Tunggu... Freelancer - Fulltime writer
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Freelance copywriter dan jurnalis

Selanjutnya

Tutup

Politik

Begini Cara Bung Karno Merayakan Hari Ulang Tahunnya

7 Juni 2021   17:16 Diperbarui: 7 Juni 2021   17:18 109 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Begini Cara Bung Karno Merayakan Hari Ulang Tahunnya
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Bulan Juni merupakan momen tepat untuk menyegarkan kembali kenangan tentang Pancasila dan Si Bung Besar, Ir Soekarno. Tanggal 1 Juni rakyat Indonesia merayakan hari lahir Pancasila, sedangkan pada 6 Juni 2021 ini bertepatan juga dengan hari ulang tahun Bung Karno ke-120. Sebenarnya, Soekarno mungkin tidak terlalu ambil pusing untuk merayakan hari kelahirannya sendiri. Benak dia sibuk memikirkan nasib perjuangan kemerdekaan negeri ini. Justru, ucapan selamat kerap datang dari orang-orang di sekitarnya, hingga media massa. 

Misalnya pada 6 Juni 1947. Redaksi surat kabar Kedaulatan Rakjat menyampaikan doa dan harapan kepada Presiden Pertama RI itu. Dikutip dari situs web Historia, terdapat kolom ucapan selamat yang berjudul "Hari 6 Djoeni ini Presiden Kita Genap 46 th Oesianja". Berikut ini kutipan lengkapnya:

Moedah2an oleh Jang Maha Koeasa dikeroeniai rachmat jang berlimpah, dan semoga pandjanglah oesia lambang persatoean bangsa Indonesia jang sedang ditengah2 perdjoeangan mahabesar itoe. Toedjoeh poeloeh djoeta ra'jat, bergembiralah dalam prihatin!

Di sisi lain, Bung Karno seakan masih belum terbiasa dengan semarak perayaan oleh rakyat setiap bulan Juni, terutama pada masa pemerintahannya. Dalam pidato peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 1964, dia sempat menyampaikan keheranannya.

"Saudara-saudara, what is the matter with me? Kok sekarang ini saya diagung-agungkan? Bukan hanya pada hari Lahirnya Pancasila, mengagung-agungkan kepada saya...tanggal 6 Juni yang terkenal sebagai hari lahirnya Soekarno. Orang mau mengadakan perayaan-perayaan yang maha hebat," demikian potongan pidato Soekarno dalam buku Filsafat Pancasila Menurut Bung Karno.

Meski demikian, dia mengatakan sangat menghargai pernyataan cinta tersebut. "Saya terima segala pernyataan cinta kepada saya yang akan berupa hadiah atau nyanyian-nyanyian atau kesenian-kesenian yang hendak dipersembahkan kepada saya pada nanti hari 6 Juni 1964. Saya mengucap terima kasih dan saya mengatakan Insya Allah akan saya terima".

Sayangnya, saat itu Bung Besar hendak berangkat meninggalkan Tanah Air untuk bertemu dengan perwakilan Malaysia. Tak lupa dia memohon doa restu agar di sana dia bisa mempertegakkan kemerdekaan dan kepentingan Republik Indonesia. Begitulah sosok Bung Karno, kepentingan pribadinya jauh di bawah kepentingan rakyat, bangsa, dan negara. Dalam banyak kesempatan, dia justru merayakan hari jadinya itu bersama rakyat, di berbagai daerah.

Tahun 1948, bertepatan dengan hari ulang tahunnya, Bung Karno singgah ke Payakumbuh, Sumatera Barat, dalam rangkaian kunjungan yang dimulai sejak tanggal 4 Juni. Dia mengawali dengan hadir dalam parade tentara di Bukittinggi, berpidato di Solok dan Padang Panjang, lalu merayakan hari jadi bersama penduduk Payakumbuh.

Bahkan setahun kemudian yaitu tahun 1949, dalam masa pengasingannya Soekarno memilih tetap merayakan hari ulang tahun bersama rakyat. Dalam sebuah foto yang diunggah akun Instagram @thebigbung, terdapat sebuah foto Bung Besar bersama anak-anak di Muntok, Bangka Barat. Meskipun terpisah jarak dari keluarga dan anak-anaknya, Bung Karno terlihat tersenyum lebar, sambil memangku anak kecil dan dikelilingi oleh puluhan anak-anak lain. Anak-anak tersebut pun terlihat tertawa riang, tak dibuat-buat. Mereka benar-benar akrab dengan si Bung.

Kepribadian Soekarno yang begitu memikat tak ayal membuat keluarganya bangga sekaligus terheran-heran. Dalam sebuah obrolan santai dengan Deddy Corbuzier, cucu Sang Proklamator, Ketua DPR RI Puan Maharani, mengaku bangga menjadi cucu orang nomor satu Indonesia itu.

"Sampai hari ini saya merasa amazing, kok bisa Bung Karno itu seperti itu gitu. Bahkan saya sebagai cucunya saja mungkin enggak bisa seperti beliau. Bisa 5 bahasa asing. Padahal kalau dipikir-pikir dulu itu belajar dari mana?" kata Puan saat Deddy melontarkan pernyataan mengenai beban berat yang dipikul Puan sebagai "cucu Proklamator".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan