Mohon tunggu...
Ahlis Qoidah Noor
Ahlis Qoidah Noor Mohon Tunggu... Guru - Educator, Doctor, Author, Writer

trying new thing, loving challenge, finding lively life. My Email : aqhoin@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Buku Syukur 002: Selamat dari Magic of Love

28 September 2020   20:48 Diperbarui: 28 September 2020   22:31 39
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Kebun pisang di belakang rumah tak pernah sepi dari desahan angin dan gesekan antar daun , siang dan malam. Dia tak pernah ambil pusing pada mereka yang menganggap itu adalah area serem yang harus kita berhati-hati. Baginya tak ada bedanya tempat satu dan yang lainnya, bila Tuhan bersama.

Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Tak juga dia, tujuh tahun sepasang muda-mudi itu meniti benang cinta, tanpa tahu mau kemana dan akan dibawa dengan apa. Mengalir bak air, tak ada target. Bila bertemu riak hanya menghindar atau sesekali menantang. 

Dialog yang disusun dalam rangkaian ribuan kalimat seperti tak ada maknanya , saat kedewasaan berfikir menjadi barang langka. Menunggu menjadi jalan terbaik yang pernah ditawarkan oleh sang Khalik. Sampai akhirnya masa itu pun tiba...

Rindang, gadis semampai,manis dengan lesung pipit dan rambut berombak panjang menggelantung di pundak, duduk sendirian. Ditemani segelas teh yang dibuatkan adiknya barusan. 

Kintan, si kecil yang selalu menggelendot pundak ibunya hari ini riang berlarian di ujung kampung, sehingga ibunya bisa agak sejenak bercengkerama dengan Rindang, anak sulungya.

Tiga bersaudara ini bagaikan kaleng yang erat penutup dan lekat menempel merek di lingkaran badan bulatnya. Tak mudah terkelupas oleh gesekan tangan , kecuali basah oleh air atau digosok dengan benda tajam untuk menghilangkan lapisan kertasnya. Rindang dan Lintang adalah kakak beradik yang menginjak usia dewasa. Rindang layak untuk menikah dan Kintan layak mencari pendamping pula.

Sepanjang Rindang menjalin ikatan kasih dengan Bhree, tak ada yang layak dicurigai kecuali Bhree adalah pria yang sedang studi dan ingin serius menikahi. Tapi tak demikian yang dirasakan Rindang. Bhree baginya hanyalah masa yang teramat lama untuk dinanti, tak ada keputusan yang pasti atas semua perjalanan mereka selama ini.

Rindang tak pernah tahu bahwa keputusannya yang lumayan tegas dan mendadak itu membuat suasana hati menjadi panas, bisa juga merasa tertantang. Dan itu yang dirasakan oleh Bhree. Beragam cara dicari dan dicermati untuk disampaikan pada Rindang tetapi dia tak bergeming. Tetap untuk memintah pisah dan tak ingin berlama- lama lagi. 

Ternyata tak sekedar waktu dan keseriusan yang menjadi pertimbangan Rindang atas semua keputusan itu. Ada hal lain yang lebih urgen. Itu adalah tanggung jawab, pembelaan, martabat perempuan dan juga kesempatan untuk setara. Semua itu dikhawatirkan oleh Rindang.

Ternyata semua limpahan pemberian tak membuat Rindang goyah oleh materi. Gerah oleh model komunikasi dan pilihan diksi dalam percakapan menjadi alasan lain. Durasi ternyata tak mempengaruhi rasa.Maka layaklah Lintang terkejut ketika pada suatu pagi didapati olehnya pesan singkat di HP.

" Aku sudah tak sanggup untuk melalui ini semua...aku...aku..", dan kalimat ini tak diteruskan.Buru -buru Lintang memanggil ayah dan ibunya untuk memastikan Rindang yang saat itu sedang di luar kota, bekerja seperti biasa. Lintang merasa ada yang tak beres dari kakaknya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun