Mohon tunggu...
AGUS WAHYUDI
AGUS WAHYUDI Mohon Tunggu... setiap orang pasti punya kisah mengagumkan

Jurnalis, pecinta traveling dan buku. Bekerja di Enciety Business Consult.

Selanjutnya

Tutup

Sehat dan Gaya Pilihan

Ramadan dan Tiga Pelajaran selama Pandemi

14 April 2021   18:57 Diperbarui: 14 April 2021   19:00 356 13 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ramadan dan Tiga Pelajaran selama Pandemi
Shalat tarawih di masjid Agung Assyuhada Pamekasan.(KOMPAS.COM/TAUFIQURRAHMAN)

Bulan Ramadan datang kembali. Di masa yang sama seperti tahun 2020, dalam keadaan pandemi covid-19. Meski suasananya tidak "semencekam" tahun lalu. Di mana, saya dan keluarga sebulan full melaksanakan aktivitas Ramadan di rumah. Menunaikan salat wajib, salat tarawih, tadarus, dan masih banyak lagi. Kami hanya keluar untuk urusan yang penting saja. Beli makan sahur, membeli kebutuhan rumah tangga, dan lainnya.  

Ramadan tahun ini memang berasa beda. Jauh lebih longgar dibandikan tahun sebelumnya. Ini setelah pemerintah mengizinkan aktivitas di masjid dan musala dengan tetap menerapkan aturan protokol kesehatan (prokes). Pemerintah juga memperbolehkan kegiatan ibadah secara berjamaah di luar ruang atau rumah. Dengan catatan jamaah terdiri dari anggota komunitas yang sudah dikenal satu dengan lainnya.

Yang menjadi keprihatinan saya, aktivitas Ramadan baik di masjid maupun musala, masih mengkhawatirkan. Sebab masih banyak yang mengabaikan prokes. Pelanggaran prokes masih banyak terjadi. Aturan kapasitas jamaah, misalnya, banyak yang tidak patuh. Bahkan ada jamaah sampai meluber keluar. Begitu pun dengan masih banyaknya jamaah yang hadir tanpa memakai masker dan tidak menjaga jarak.  

Kondisi sekarang, sejatinya, masih menimbulkan kecemasan bagi saya. Pasalnya, ancaman covid-19 belum kelar. Sementara banyak orang merasa bungah lantaran lelah "dikekang" selama pandemi. Kelonggaran ini pun disambut antusias oleh banyak orang. Ibarat menarik benang dalam karung beras, proollll...

Meski pun di tempat ibadah diberikan tanda untuk menjaga jarak, orang-orang sering kali abai dalam penerapan protokol kesehatan. Hal ini sangat berbeda saat saya mengikuti salat Jumat. Jumlah jamaahnya tak sebanyak salat Tarawih. Salat Jumat tidak diikuti jamaah perempuan. Salat Jumat jeda waktunya sepekan. Durasi lebih pendek dari salat Tarawih. 

Dua hari menjalani puasa Ramadan, di sekitar tempat tinggal saya bisa melihat sebongkah "kebebasan" itu. Banyak orang tak memakai maskar selama masjid dan musala. Mereka juga terlihat ngobrol dengan jarak dekat. Ada yang berjabat tangan.

Kekhawatiran saya ini tentu saja dilandasi dengan angka penularan Covid-19 di Indonesia. Yang jumlahnya masih berkisar di angka 12 persen. Angka tersebut lebih tinggi 7 persen dari batas yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO).

Dalam konteks tersebut, saya sepakat dengan sikap Muhammadiyah. Melalui Majelis Tarjih dan Tajdid mengeluarkan edaran terkait tuntunan ibadah di masa pandemi Covid-19. Salah satu poinnya terkait salat berjamaah di masjid. Majelis Tarjih menyatakan salat di masjid boleh dilaksanakan dan hanya berlaku bagi suatu daerah yang sedang tidak memiliki penularan Covid-19.

Dalam pelaksanaannya pun, salat berjamaah dilakukan dengan menjaga jarak antar shaf, memakai masker, masjid digunakan terbatas hanya untuk warga sekitar, jumlah jamaah maksimal 30 persen ruangan, takmir secara berkala menerapkan sterilisasi dan protokol kesehatan. Anak-anak, lansia, orang yang sedang sakit maupun yang memiliki komorbid dilarang datang ke masjid atas pertimbangan risiko.

Muhammadiyah menegaskan jika salat berjamaah itu bagus, tapi di situasi sekarang menghindari mafsadat (akibat buruk) itu lebih diutamakan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN