Mohon tunggu...
Telisik Data
Telisik Data Mohon Tunggu... Penulis - write like nobody will rate you

Fakta dan data otentik adalah oase di tengah padang tafsir | esdia81@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Perlukah Pelaku "Fraud" dalam Dunia Pendidikan Dipidana?

12 Agustus 2018   02:03 Diperbarui: 12 Agustus 2018   05:03 851
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Wawancara David Beckham dengan Najwa Shihab (Screenshot: Catatan Najwa, Narasi TV).

David Beckham, ..sungguh-sungguh unbelievable.

Ketika Najwa Shihab bertanya bagaimana cara membangun prestasi sepakbola Indonesia, Beckham tidak bilang merekrut pelatih terbaik, atau membuat klub elit.  Tanpa ragu ia mengatakan bahwa dasar untuk  membangun prestasi sepakbola ada pada satu hal:  sistem akademik, dengan kata lain sistem pendidikan.

Legenda sepakbola Inggris itu membandingkan dengan pengalaman dirinya tumbuh besar di negara yang percaya pada sistem. Inggris memiliki infrastruktur, sistem akademik yang memberi kesempatan pada anak-anak untuk mewujudkan apa pun mimpi-mimpi mereka, sesuatu yang tidak dimiliki oleh banyak negara lain.

Jika kita tarik garis sejajar, apa yang dikatakan Beckham dapat diterapkan pula dalam aspek pengembangan minat dan bakat anak-anak  yang lain, tidak hanya olahraga. 

Potensi anak Indonesia di bidang sains, teknologi, seni, sosial ekonomi, dan budaya semuanya harus bertumpu pada sistem pendidikan yang fair. Mengantarkan talenta-talenta terbaik yang kita miliki, dari belia hingga meraih level profesional.

Sistem zonasi PPDB, agar setara

Berbicara tentang pendidikan di Indonesia, menarik sekali apa yang disampaikan oleh pembicara dalam Kompasiana Perspektif di Kemdikbud tanggal 6 Agustus lalu, Dr. Ir. Ari Santoso, DEA. Beliau menggantikan Mendikbud, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP; menjadi narasumber acara bertema: "Optimisme menguatkan pendidikan dan memajukan kebudayaan Indonesia".

Narasumber Kompasiana Perspektif Ari Santoso dengan pemandu acara, Fristian Griec (dokpri).
Narasumber Kompasiana Perspektif Ari Santoso dengan pemandu acara, Fristian Griec (dokpri).
Walaupun fokus  pembahasan adalah tentang kebijakan zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), tetapi Kompasianer sukses menggiring narasumber untuk mengungkap berbagai "sisi gelap" dunia pendidikan kita. Acara di Gedung Ki Hadjar Dewantara  Kemdikbud ini memang cukup seru hingga Fristian Griec sebagai moderator dari kompas TV terpaksa meng-cut sesi tanya jawab karena waktu sudah habis.

Kebijakan zonasi atau zoning system yang diterapkan pemerintah berawal dari penyelenggaraan Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 26 Januari 2017 di Jakarta. Ada tiga isu penting yang dirembuk yaitu:

  • peningkatan pemerataan layanan pendidikan,
  • peningkatan mutu relevansi dan daya saing,
  • penguatan tata kelola pendidikan dan kebudayaan.

Kartun acara Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan 2017 (rnpk.kemdikbud.go.id).
Kartun acara Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan 2017 (rnpk.kemdikbud.go.id).
Salah satu produk tindak lanjut dari acara rembuk itu adalah Permendikbud No. 17 tahun 2017 tentang Sistem Zonasi dalam penerimaan siswa baru. Peraturan ini berlaku sejak Tahun Ajaran 2017/2018 lalu.

Tujuan utama sistem zonasi dalam PPDB adalah untuk menyetarakan kualitas layanan pendidikan sekolah negeri sehingga dikotomi sekolah favorit dan non-favorit perlahan-lahan hilang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun