Mohon tunggu...
Agung Han
Agung Han Mohon Tunggu... Ordinary People

Kompasianer of The Year 2019 | Nomine Best in Spesific Interest Kompasianival' 19 | Admin Ketapels | IG agunghan_ | agungatv@gmail.com |

Selanjutnya

Tutup

Film

Peran Ayah dan Sebentuk Kasih Sayang dalam 'Keluarga Cemara'

22 Februari 2019   06:50 Diperbarui: 22 Februari 2019   07:21 122 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Peran Ayah dan Sebentuk Kasih Sayang dalam 'Keluarga Cemara'
koleksi pribadi

Harta yang paling berharga adalah keluarga, 

Istana yang paling indah adalah keluarga, 

Puisi yang paling bermakna adalah keluarga, 

Mutiara tiada tara adalah keluarga

(Harta Berharga)

Saya yakin, Kompasianer membaca lirik di atas sambil bersenandung.  Lagu ini sangat familiar, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa hapal di luar kepala.

"Selamat pagi emak, selamat pagi abah, mentari hari ini tersenyum indah" soundtrack layar lebar Keluarga Cemara, dibawakan dengan syahdu oleh Bunga Citra Lestari.

Film Keluarga Cemara, bermula dari cerita bersambung di majalah Hai, kemudian disulap menjadi novel dan diadaptasi untuk serial televisi (1996- 2005).

Dan memasuki 2019, hadir dalam versi layar lebar, (seperti novel dan serial televisinya) langsung mendapat sambutan antusias pecinta film tanah air.

Film bergenre drama keluarga ini, menjadi salah satu judul yang memantik rasa penasaran menonton, setelah ramai dibicarakan dan dipuji netizen.

Berbekal pernah nonton versi serial TV, saya sudah punya gambaran bahwa film ini berseting keluarga bersahaja dengan persoalan layaknya masyarakat kebanyakan.

-00o00-

Adegan awal, menunjukkan keharmonisan Abah (diperankan Agus Ringgo) Emak (diperankan Nirina Zubir) dengan dua anak manis-manis Euis (diperankan Adhisty Zara) dan Cemara (Widuri Sasono).

Usaha Abah mengalami kebangkrutan, karena kesalahan partner kerja yang juga saudara (dari garis emak) sendiri, sehingga semua harta benda termasuk rumah ludes.

tribunnews.com
tribunnews.com
Emosi saya terpancing, ikut merasakan kekesalan abah dan emak, dengan terpaksa angkat kaki dari rumah yang hangat dan nyaman.

Menikmati adegan pembuka, dialog terasa menyatu dengan musik, didukung tata artsitik yang menawan, saya seperti mendapat benefit secara komplit.

Tidak ada sejahat-jahat karakter dan tidak ada sebaik-baik karakter, semua adegan wajar dan penonton disuguhkan alasan dibalik kejadian.

Misalnya scene kebangkrutan dialami abah, penonton mengetahui alasan mengapa bisa tertipu, layakanya kehidupan nyata peristiwa tersebut berkelindan dan kisah sebelumnya.

Abah sosok kepala keluarga pengayom, merengkuh segenap kepedihan ditanggung emak dan dua buah hati -- menurut saya sosok ayah dan suami idaman.

Keluarga abah pindah ke daerah Bogor, menempati rumah lama peninggalan orang tua abah, yang sudah tak berpenghuni. Dari sinilah cerita dimulai, mengatasi masalah Euis dan Ara, serta ketangguhan emak menggantikan peran abah saat kecelakaan kerja.

Nilai atau pesan disampaikan cukup efektif, tepat sasaran  dan menancap di benak penonton, bisa menjadi pembelajaran dan inspirasi bagi saya pribadi.

Karakter abah begitu memesona saya, sepanjang cerita banyak hal mengesankan, bisa diserap untuk dipraktekkan di rumah. Abah dengan segala keterbatasan, tetapi tidak meninggalkan peran dan fungsi sebagai orang paling bertanggung jawab.

Berupaya mengakomodir keinginan anggota keluarga, merelakan diri untuk disalah-salahkan atas musibah yang menimpanya.

Biar nggak spoiller, kompasianer bisa mendapati kisah selanjutnya, dengan menonton filmya sendiri ya.

--0oo0---

Siapapun orangnya, pasti tidak mau berada dalam kondisi terpuruk. Kondisi yang tidak mengenakkan, apalagi mengalami perubahan drastis yang mendadak. Namun siapa sangka, sesunggunya keterpurukan, bisa menjadi ajang mengasah ketangguhan dan jiwa bijaksana.

Ujian menjadi cara membuktikan, bahwa diri ini menjadi pribadi tidak mudah putus asa, tetap menjalani keseharian sambil berusaha bangkit.

Abah dan emak ( di Keluarga Cemara), contoh dua sosok bijak menghadapi masalah menimpa keluarganya,  meski kesal dengan saudaranya tapi punya keyakinan akan melahirkan kekuatan.

Banyak adegan begitu menyentuh, satu diantaranya, ketika abah merasa menjadi orang yang paling bersalah penyebab kesengsaraan dialami.

Sontak emak membantah pikiran tersebut, meyakinkan bahwa tidak ada seorangpun di rumah menyalahkan abah, dan emak tidak pernah menyesal bersama abah.

Euis anak memasuki masa puber, perlu mendapat perhatian khusus, terutama pada perubahan lingkungan baru dengan kondisi jauh dari sebelumnya.

Peerimaan Euis dengan keadaan, terasa tidak terjadi tiba-tiba, alur dijalani cukup smoth, alami dan tidak dipaksakan.

Ara atau Cemara dengan kepolosannya, bisa memberi warna dalam keluarga sederhana yang sedang berusaha bangkit.

 "Ara tidak suka melihat Abah marah," ujarnya, kesadaran anak sekecil ini tumbuh, setelah melihat abahnya dalam posisi terjepit dalam mengambil keputusan.

Porsi kemarahan abah sangat pas,  marah tidak selalu berarti mengumbar kalimat umpatan dan mata melotot serta garis wajah tak ramah.

Tetapi lebih sering berusaha mengelola emosi, meluapkan secukupnya agar tidak melukai perasaan istri dan anaknya terluka.

Beberapa ulasan (tentang film ini) pernah saya baca, menyoroti teknis penggarapan adegan yang bocor --menurut saya tidak terlalu menganggu.

Terlepas dari masalah teknis, sebagai ayah saya bisa menjumput pesan-pesan bernas tentang peran keayahan.

Dengan ini, saya pilih film Keluarga Cemara untuk ditonton bareng keluarg terkasih, sekaligua saya rekomendasikan kalian menonton dan mengajak serta teman, sahabat, orang terkasih.

Saya yakin, setiap penonton akan mendapat value dari sudut pandang berbeda, kemudian bisa diterapkan dalam kehidupan keseharian.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x