Agung Han
Agung Han wiraswasta

Menulislah & biarlah tulisanmu mengalir mengikuti nasibnya... (Buya Hamka) Follow me : Twitter/ IG @agunghan_ , FB; Agung Han Email ; agungatv@gmail.com Tulisan lain ada di www.sapadunia.com

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Pilihan

Mengatur Keuangan Sesuai Isi Kantong

14 Februari 2018   07:11 Diperbarui: 1 Maret 2018   04:12 585 3 2
Mengatur Keuangan Sesuai Isi Kantong
Mengatur post pengeluaran- dokumentasi pribadi

Di timeline Facebook saya, sedang terjadi keributan kecil perihal uang 2.5 juta rupiah. Lho kenapa, dengan uang dua juta limaratus ribu?

Ada sebuah akun FB, berbagi strategi tentang cara mengelola keuangan keluarga si pemilik akun tersebut --disertai foto perhitungannya.

Dengan pemasukan sebesar dua setengah juta, pemilik akun ini bisa mengatur --sedemikian rupa---keuangan. Hasilnya --entah nyata atau sekedar status FB---cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya selama sebulan.

Kalau benar, bagus kan ya, beliau bisa berhemat dan berbagi pengalaman.

Sontak, status FB tersebut memicu reaksi netizen. Ada yang dengan terang-terangan, menunjukkan sikap berseberangan.

Namun,  ada juga yang adem ayem menanggapi. Biasalah, setiap situasi pasti ada pro dan kontra. Ketika menyambangi akun dimaksud dan meng-add, empunya tidak mau menerima di wall tertulis "Maaf tidak menerima pertemanan dulu, belum siap dibully" begitu kira-kira

Saya sih, lebih memilih sebagai penonton saja. Toh, kalau memang uang segitu cukup untuk sebulan, ya biarin saja tho --hehehe.

Atau kalau mau, bisa lho mempraktekkan, siapa tahu berhasil dan bisa membuktikan sendiri --dibawa santai saja hehehe.

Screen Short status FB yang memicu pro kontra -dokpri
Screen Short status FB yang memicu pro kontra -dokpri
00oo00 

Saya pernah hadir, dalam sebuah acara Talkshow membahas pengelolaan keuangan diadakan sebuah bank swasta.

Kala itu menghadirkan narasumber Prita Ghozie, seorang Financial Planner, penulis, pengajar, pemilik UMKM dan motivation kenamaan.

"Biaya hidup itu murah, yang bikin mahal itu gaya hidup, " ungkap Prita Ghozie

Ibu dua anak ini, mengajak peserta talkshow --kebanyakan kelahiran tahun 70 s.d 80-an--mengingat-ingat gaji pertama kali bekerja.

Masih tinggal di rumah kost, kemana-mana naik kendaraan umum, nyuci, setrika, masak, semua dilakukan serba sendiri --berlaku bagi pekerja perantau  tentunya--.

Ya,  kali pertama bekerja. Pekerjaan didapat, buah dari melamar kesana kemari, berbekal ijazah SMA atau ijasah setelah lulus kuliah. Atau mungkin, ada yang ngampus sekalian nyambi bekerja

Mendekati tanggal akhir bulan mulai girang, saat dipanggil bos masuk ruangan.  Duduk sebentar, kemudian menerima amplop berisi uang---dulu gaji belum pakai transfer---.

Saya yakin --karena juga ngalamin--, gaji pertama --biasanya -- jumlahnya belum seberapa. Apalagi kalau (maaf) tenaga rendah --saya dulu juga tenaga rendah --, gaji yang didapat bisa jadi sangat ngepas.

"Tapi cukup kan?" tanya Prita Gozie, "Setelah gaji bertambah, biasanya tambahannya ada saja"

Saya mengangguk sepakat, mencerna apa yang disampaikan narasumber. Sekecil apapun gaji pertama kali bekerja, buktinya saya bisa bertahan sampai sekarang.

Prita Gozie, finacial planer - dokumentasi pribadi
Prita Gozie, finacial planer - dokumentasi pribadi
Memang sih, kala itu makan seadanya---jarang banget pakai daging atau ayam--. Pergi kemanapun, naik angkot, naik bus kota, tak jarang jalan kaki---biasanya kalau masuk ke komplek perumahan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2