agoeng widyatmoko
agoeng widyatmoko

Saya adalah pemerhati bangsa dan sekaligus praktikan yang peduli pada perubahan diri dan lingkungan. Untuk hidup, saya menulis banyak hal. Dan kini, saya hidup untuk menulis dan menginspirasi dengan cara-cara yang sederhana, namun mudah dimengerti dan dipraktikkan bersama.

Selanjutnya

Tutup

Atletik Pilihan

Surat Terbuka untuk Lalu Muhammad Zohri

13 Juli 2018   14:43 Diperbarui: 13 Juli 2018   14:59 973 0 0
Surat Terbuka untuk Lalu Muhammad Zohri
Ilustrasi: www.indosport.com

Namamu memang sebelumnya tidak populer. Tapi, dijamin namamu akan segera jadi bahan obrolan di berbagai forum. Kami juga baru tahu namamu Lalu Muhammad Zohri, asli dari Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Bahkan saat mengetik Lalu Muhammad di Google, namamu masih berada di bawah nama Lalu Muhammad yang lain. Tak heran, banyak yang kaget saat namamu muncul jadi juara dunia nomor paling bergengsi atletik, 100 meter sprint putra di Tampere Finlandia. Kamu menjadi juara dunia junior di bawah usia 20 tahun dengan mengalahkan unggulan dari USA, Anthony Schwartz dan Eric Harrison! Selamat, bahkan catatan waktumu 10,18 detik, hanya terpaut 0,01 detik dari rekor 100 m sprint Asia Tenggara saat ini! Wow!

Dan secepat larimu, betul saja namamu segera populer. Ketika mulai menulis surat ini namamu masih di bawah nama Lalu lainnya. Tapi, saat mulai sekarang, jika mengetik kata "Lalu", nama Lalu Muhammad Zohri segera muncul paling atas. Ini pertanda namamu sudah mulai mendunia!

Menurut kami, setidaknya ada dua fakta menarik terkait kemenanganmu. Pertama, ada kasus "lupa bendera". Tak seperti pemenang yang biasanya segera mengibarkan bendera negaranya setelah dinyatakan juara, kamu sempat tak mendapati bendera Indonesia. Bisa jadi panitia lupa bendera negera peserta. Atau, mungkin tak ada yang mengira, Indonesia---atau tepatnya kamu yang datang dari jauh---bisa juara. Apalagi, kalau melihat posisimu di line nomor 8, yakni jalur paling pinggir. Biasanya, unggulan selalu ditempatkan di jalur tengah dan sebaliknya, non unggulan paling pinggir.

Kasus ini mirip seperti saat seniormu tapi beda bidang olahraga, Rio Haryanto, pebalap mobil yang tahun 2010 menjadi juara GP3 di Turki. Sebagai anak baru yang tidak diperhitungkan, ia juga berhasil jadi juara pertama. Panitia konon sampai harus membawa bendera Polandia yang dibalik agar jadi merah putih. Bisa jadi, itu juga yang terjadi padamu yang butuh waktu beberapa lama untuk mendapatkan bendera merah putih. Jadi sabar ya, kamu bukan yang pertama.

Oh ya Zohri, tahu tidak, sang komentator pun sampai-sampai memberikan pertanyaan mengapa sang juara tidak membawa bendera. Komentator lalu menjawab sendiri pertanyaannya loh. Ia mengatakan ini adalah mungkin efek kejutan, karena kali pertama orang dari Indonesia jadi juara. 

Ini fakta kedua yang membuat namamu pasti segera tersebar mendunia. Unsur kejutannya memang di luar perkiraan semua. Sebab, untuk nomor lari 100 m, biasanya selalu didominasi pelari dari USA atau Jamaika. Bahkan, jika menilik website dari organisasi atletik dunia, Indonesia baru kali pertama mendapat medali emas di ajang ini, di nomor paling bergengsi pula! Ya, kamu yang pertama! Pertamax Gan!

Tapi kamu mohon maklum ya. Di tengah hiruk pikuk Piala Dunia sepakbola, prestasi ini bisa jadi memang tak terdeteksi sebelumnya. Apalagi, cabang atletik sudah lama tidak menjadi andalan Indonesia, bahkan di kancah Asia Tenggara. Terakhir, Indonesia punya satu-satunya wakil Asia di nomor lari 100 m saat Olimpiade Seoul 1988 atas nama Mardi Lestari. Prestasi terdekat ditorehkan oleh seniormu Suryo Agung Wibowo yang mencatatkan rekor Asia Tenggara 10,17 detik pada SEA Games 2009 atau sembilan tahun silam.

Mungkin inilah yang disebut sebagai ungkapan "sepi ing pamrih, rame ing gawe". Artinya, kamu bekerja lebih keras dibanding banyak "tampil" di layar publik. Bahkan sebelum kamu menang, tak banyak yang tahu Indonesia mengirimkan kontingen kecilnya ke kejuaraan atletik junior di Finlandia. Kalah oleh serunya hitungan cepat Pemilukada. Maafkan kami ya Zohri.

Namun hampir pasti, sorotan media sebentar lagi akan membuat kamu berada di panggung utama. Mungkin akan segera ada yang mengakui itu buah dari dukungan si anu dan si itu. Boleh jadi, sampai di Tanah Air, kamu sudah akan padat jadwal dengan wawancara televisi ini dan itu. 

Jabat tangan dan makan malam dengan pejabat sana dan ketua itu. Wajar, jika kamu sebentar lagi akan jadi magnet perhatian di mana-mana. Mirip ketika Indonesia kali pertama mendapat medali perak Olimpiade Seoul 1988 oleh Trio Srikandi panahan Indonesia kala itu. Maka jangan heran, jika nanti kamu kebanjiran follower baru di sosmed kamu. Kalau itu terjadi, jangan biarkan itu mengganggu konsentrasi latihan dan lomba larimu ya. Sewa saja ahli manajemen konten sosial media dan digital yang profesional untuk membantumu.

Oh ya, kisah hidup kamu juga akan terus ditelisik media. Termasuk, soal kehidupan paling pribadimu. Jangan kaget ya. Sebab, cerita kemenangan kamu ini sangat inspiratif loh. Dari daerah, sudah yatim piatu, tinggal di rumah seadanya, tapi berhasil membanggakan Indonesia, bahkan Asia pun pasti bangga. Sebab jarang sekali juara atletik berasal dari rumpun Asia. Kisah suksesmu ini bakal jadi pemicu atlet-atlet daerah lain di penjuru Nusantara untuk bisa meraih prestasi mendunia. Apalagi, nanti Asian Games 2018 kita jadi tuan rumahnya. Kami pasti semua mendukungmu dan atlet Indonesia lainnya untuk jadi juara.

Zohri, apa pun yang nanti kamu rasakan sebagai sang juara, jangan mabuk di satu kemenangan ya. Apalagi, sampai mabuk publikasi. Karena kami yakin, prestasimu bukan hanya kali ini. Banggakan nama Indonesia lagi ya. Kami akan menunggu kisah heroikmu lainnya.

Nah, biar tidak mengganggu prestasimu, ada baiknya kamu dibantu profesional yang menangani jadwal wawancara dan acaramu dengan media. Jadi, kamu tetap bisa profesional dan fokus untuk terus jadi juara! Biar profesional lainnya yang mengurus berita, liputan, cerita, buku kisahmu, bahkan film tentang dirimu!