Agil S Habib
Agil S Habib Writer

Sebuah perubahan dimulai dari kebulatan tekad, kekuatan niat, dan kemantapan hati.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Antara "User Mindset Vs Maker Mindset"

11 Februari 2019   09:05 Diperbarui: 12 Februari 2019   19:38 447 3 0
Antara "User Mindset Vs Maker Mindset"
Sumber gambar: inspiredynamic.com

Karakter, kebiasaan, budaya, dan tindakan kita pada dasarnya bermula dari pola pikir (mindset) yang kita miliki. Mindset memiliki pengaruh sedemikian kuat bagi kehidupan seseorang yang berdampak pada cara pandangnya, sikapnya, dan langkah-langkah yang ia ambil dalam menyikapi segala bentuk dinamika hidup. 

Mindset yang salah akan membawa pemiliknya pada arah yang salah, begitu pun berlaku juga sebaliknya. Sehingga memiliki mindset yang tepat sangatlah dibutuhkan oleh setiap orang dalam menunjang eksistensi hidupnya pada masa-masa mendatang.

Terdapat dua kecenderungan utama yang melekat dalam segenap aktivitas kita. Pertama, kita memiliki kecenderungan untuk membutuhkan atau menginginkan sesuatu. 

Ada banyak hal yang kita perlukan seperti makan, minum, memiliki tempat tinggal, mendapatkan rasa nyaman, dan lain sebagainya. Secara teknis, kebutuhan yang melekat pada diri kita ini yaitu seperti digambarkan oleh piramida Maslow. 

Abraham Maslow dalam piramidanya membagi kebutuhan manusia kedalam beberapa tingkatan. (1) Kebutuhan fisiologis, (2) kebutuhan akan rasa aman, (3) kebutuhan aspek sosial, (4) kebutuhan akan penghargaan, dan (5) kebutuhan untuk melakukan aktualisasi diri. Keberadaan beberapa jenis kebutuhan ini cenderung menjadikan kita sosok user yang fokus pada upaya pemenuhan diri.

Sumber gambar : tehtyastar.files.wordpress.com
Sumber gambar : tehtyastar.files.wordpress.com
Karakteristik dari user bisa dibilang cukup beraneka ragam. Akan tetapi, secara umum user atau yang sering kita sebut konsumen ini sebenarnya memiliki beberapa kecenderungan berikut :

  • Selalu menginginkan layanan yang terbaik
  • Egois
  • Senang membanding-bandingkan
  • Tidak mau rugi
  • Pilih-pilih

Dengan kata lain, karakteristik dari user ini adalah senantiasa mementingkan dirinya sendiri. All about me. User ingin selalu mendapatkan yang terbaik untuk dirinya sendiri, yang paling baik kualitasnya, paling murah harganya, dan seterusnya. Pemikiran ini adalah sah-sah saja bagi seorang user yang memang menganggap dirinya laksana raja.

Hal kedua yang melekat dalam aktivitas kita adalah kecenderungan untuk memberi, melayani, atau mendukung sesuatu kepada orang lain. Namun disisi lain kecenderungan ini juga dibarengi oleh adanya keinginan untuk mendapatkan hal lain yang berharga seperti keuntungan finansial, kepuasan batin, atau nilai pahala atas suatu langkah kebajikan. 

Kecenderungan kedua berupa keinginan untuk memberi, berbagi, atau mendukung orang lain ini erat kaitannya dengan kecenderungan untuk membutuhkan sesuatu. 

Jika pada kecenderungan pertama kita menyebutnya user, maka untuk kecenderungan kedua ini kita bisa menyebutnya maker. Kita mengkreasi sesuatu hal untuk mendukung orang lain, melayani mereka, atau memberikan sesuatu yang orang lain perlukan. 

Sebagaimana halnya user yang befikir ala konsumen, maka maker juga memiliki gaya berfikir ala produsen. Prinsip-prinsip yang dianut oleh maker ini ada tiga poin utama, yaitu :

  • Quality
  • Cost
  • Delivery

Orientasi berfikir seorang maker adalah bagaimana supaya ia bisa memberikan pelayanan sebaik mungkin kepada orang lain (user) yang terkait dirinya dengan memperhatikan tiga aspek penting yaitu kualitas (quality), biaya (cost), dan waktu pemenuhan (delivery). 

Kualitas merupakan wujud komitmen untuk memberikan pelayanan terbaik dengan tujuan memberikan kepuasan tertinggi kepada orang lain. 

Hal ini hanya bisa dilakukan apabila setiap upaya yang dikerjakan senantiasa dibarengi dengan hati yang benar-benar tulus. Mencurahkan segenap daya dan upaya laksana membuat sebuah mahakarya yang terbaik. 

Sedangkan dalam hal cost terdapat sebuah prinsip bahwa langkah apapun yang kita ambil atau tindakan apapun yang kita kerjakan hendaklah didesain secara matang, difikirkan secara menyeluruh hal-hal yang terkait dengannya, serta mengupayakan agar sebisa mungkin semuanya berjalan efektif dan efisien. 

Syaratnya adalah tidak sembrono dalam melangkah. Quality dan cost ini disempurnakan dengan aspek delivery yang mana segala sesuatu itu punya masanya. Hal-hal yang tepat apabila tidak berada pada waktu yang tepat dan situasi yang tepat seringkali tidak menemukan nilai manfaatnya yang opimal. 

Seperti misalnya bantuan untuk korban bencana tsunami Banten, apabila bantuan baru diberikan setahun kemudian maka impact yang dihasilkan tidaklah sebesar ketika ia diberikan saat ini atau beberapa waktu lalu pasca terjadinya bencana. Seorang maker mendasarkan langkahnya pada tiga aspek tersebut sehingga ia bisa menjadi the great maker.

Dalam kehidupan sehari-hari, user ataupun maker telah memiliki individu-individu atau kelompok-kelompok yang menjalankan fungsi serta perannya masing-masing.

Sebagai pribadi, yang perlu kita perhatikan disini adalah apakah kita ingin membentuk diri kita dengan pola pikir user ataukah menjadi pribadi ber-mindset maker

Pilihan yang kita ambil nantinya akan mengarahkan sikap kita, tindakan kita, serta keyakinan kita terhadap beragam peristiwa dalam hidup. Ketika kita menggunakan pola pikir seorang user maka kita akan menuntut banyak hal, mendambakan kesempurnaan, dan jauh dari kata puas. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2