Mohon tunggu...
Fandi Sido
Fandi Sido Mohon Tunggu... swasta/hobi -

Humaniora dan Fiksiana mestinya dua hal yang bergumul, bercinta, dan kawin. | @FandiSido

Selanjutnya

Tutup

Money Artikel Utama

Hari Raya dan Penghematan Energi

16 Juli 2015   10:48 Diperbarui: 29 Agustus 2019   15:52 517
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kendaraan melewati ruas tol Prejangan, Brebes, dalam rangkaian mudik lebaran 2015. Pertamina mewaspadai peningkatan konsumsi BBM hingga 40 persen./Kompas.com, Kristianto Purnomo

Pada April lalu wapres Jusuf Kalla kembali mengingatkan pentingnya hubungan “batik dan penghematan energi”, berdampingan dengan apresiasi penggantian bohlam-bohlam lama kompleks Istana Negara ke lampu-lampu LED. 

Walau gagasan ini sebetulnya cukup lama (hadir sejak Kalla masih mendampingi SBY di periode 2004-2009), logikanya tetap berlaku hingga sekarang: batik lebih tipis daripada jas tutup sehingga “diharapkan” suhu pendingin udara tidak perlu dipasang sangat rendah dan memboros terlalu banyak energi listrik. Meski mungkin gagasan itu politis, tapi kampanye nasionalnya tetap mengandung logika.

Di luar komentar pengingat Kalla itu, presiden sendiri belum bersuara khusus tentang program-program penghematan energi nasional. Padahal, pekan-pekan ini sebenarnya misi itu secara tidak sadar sedang berlangsung di jalan-jalan Pantura dan kota-kota besar kita. 

Pekan Hari Raya Idul Fitri seperti sekarang ini memberi kesempatan kepada banyak kota besar kita (terutama dengan jumlah populasi dan kepadatan tinggi) untuk merasakan penurunan tingkat konsumsi energi listrik secara drastis.

Tradisi Mudik memberi keleluasaan kepada banyak kota untuk sedikit bernapas lega, tidak cuma mengalami penurunan tingkat polusi kendaraan secara signifikan, tetapi juga menurunnya konsumsi listrik agregat residennya, baik itu pada sektor pemukiman, niaga, maupun birokrasi. Libur Hari Raya menghalau sementara orang-orang yang di hari-hari biasa menjadi subjek penting tingginya konsumsi energi listrik perkotaan.

Selasa (14/7) kemarin, Perusahaan Listrik Negara (PLN) lewat General Manager Distribusi Jakarta-Tangerang sebagaimana dilaporkan Detik mengumumkan prediksi menyenangkan, bahwa selama lima hari libur puncak Idul Fitri tahun ini, kota Jakarta akan menghemat energi listrik sebesar 387 juta KWh (kilowat per jam). 

Untuk diketahui, pola konsumsi listrik kota Jakarta tergolong unik, karena beban jam siang lebih tinggi daripada beban jam-jam malamnya.

Jika pada hari biasa Jakarta dapat “menyedot” listrik nasional sebesar 6980 MW di siang hari dan 6.512 MW di malam hari, maka selama libur Hari Raya beban listrik Jakarta dapat turun hingga 2.448,47 MW pada beban terendah siang hari, dan 3.108,64 MW pada beban puncak malam hari. 

Jika harga rata-rata listrik per KWh adalah sebesar Rp 1.230,-, maka selama libur lebaran Jakarta menghemat konsumsi listrik sebesar Rp 476 miliar!

Kota-kota besar lainnya seperti Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Medan, dan Makassar tentu berada di angka-angka di bawah Jakarta, tetapi persentase penghematan listriknya mengalami tren penurunan yang sama, dengan asumsi kota-kota tersebut menjadi tujuan kaum urban yang mulih dhilik selama pekan Idul Fitri.

Gejala ini disadari tidak cuma dari angka-angka PLN. Secara sadar jika diamati, mudah dirasakan tanda-tanda minimnya konsumsi energi listrik kota kita selama pekan-pekan Hari Raya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun