Mohon tunggu...
Afifah nursalsadiba
Afifah nursalsadiba Mohon Tunggu... Mahasiswa

Mahasiswi ekonomi syariah yang punya tujuan memajukkan ekonomi syariah diIndonesia #EksyarBersama #EkonomRabaniBisa

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Sistem Daring, Solusi atau Malapetaka?

28 November 2020   21:00 Diperbarui: 28 November 2020   21:03 14 2 0 Mohon Tunggu...

Artikel kali ini kembali membahas persoalan yang timbul akibat covid-19 yang sudah hampir 9 bulan lamanya. Selamat membaca dan Semoga bermanfaat yah.

Kemunculan pandemi Covid-19 seakan mengguncang sekaligus menjadi masalah besar bagi masyarakat diseluruh dunia. Wabah ini seakan mendominasi ruang publik, karena hanya dalam waktu singkat namanya memuncaki trending topic dan diberitakan secara masif di media cetak maupun elektronik. 

Sejak ditemukannya  pertama kali di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Wabah ini menular sangat cepat dan menyebar hampir ke semua negara, tidak terkecuali diIndonesia. Lalu tepat pada tanggal 11 Maret 2020 WHO  sebagai organisasi kesehatan didunia menetapkan wabah ini sebagai pandemi global. 

Penetapan tersebut membuat beberapa negara mengambil kebijakan dengan memberlakukan Lockdown sebagai upaya pencegahan penyebaran virus Covid-19. 

Di Indonesia sendiri, pemerintah menetapkan kebijakan dengan memberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dimana semua kegiatan di luar rumah harus dihentikan, baik bekerja bahkan belajar yang dialihkan ke sistem daring atau online. Bagi pendidikan sendiri diterapkannya sistem daring ini sesuai dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia terkait Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19).

Sistem pembelajaran daring merupakan sistem pembelajaran tanpa tatap muka secara langsung antara pendidik dengan siswa atau mahasiswa, tetapi dilakukan melalui online yang menggunakan jaringan internet. Sistem pembelajaran dilakukan melalui perangkat personal computer (PC), laptop atau handphone yang terhubung dengan koneksi internet. Pendidik baik guru maupun dosen bisa menggunakan media sosial baik whatsapp (WA), telegram, mesengger, aplikasi zoom ataupun media lainnya sebagai media pembelajaran. Lalu seberapa efektifkah sistem tersebut?

Bagi sebagian siswa atau mahasiswa ketika diterapkannya sistem tersebut di awal-awal sangat merasa bahagia. Kenapa demikian? Sebab mereka beranggapan kita tidak perlu lagi mengeluarkan ongkos ditambah uang jajan untuk pergi ke sekolah, bisa mengikuti pembelajaran dengan bersantai dirumah, tidak perlu ribet menggunakan seragam sekolah, bahkan baru bangun pun bisa langsung masuk dalam pembelajaran. 

Hal-hal seperti itu mungkin berlaku bagi kaum rebahan yah, hehehe. Namun untuk kaum yang terbiasa aktif diluar hal itu akan sangat mengganggunya misalkan dengan tidak bertemu teman-teman dan terhentinya kegiatan keorganisasian, sebab bertemu teman-teman serta saling berinteraksi juga bisa meningkatkan keinginan kita untuk belajar. 

Sehingga memasuki beberapa bulan pelaksanaan sistem ini, banyak sekali keluhan dan kendala yang dihadapi siswa atau mahasiswa, mulai dari terkendalanya jaringan internet, kuota internet yang terbatas walaupun adanya bantuan kuota gratis dari pemerintah namun dinilai masi kurang dan juga tidak meratanya pembagian kuota ini, pemberian tugas oleh guru dan dosen yang dinilai memberatkan, kurang pahamnya terhadap materi yang diajarkan atau susah dicerna dan bahkan kurangnya kemampuan guru dan dosen dalam menjelaskan materinya melalui sistem pembelajaran seperti ini. 

Bagi mahasiswa sendiri masalah yang ditimbulkan bukan hanya itu saja melainkan semua praktikum, kkn, bahkan pelaksanaan ujian akhir pun harus dilakukan secara online.

Namun dibalik kendala atau keluhan itu semua dibutuhkan solusi yang tepat dan kerja sama yang baik antara pemerintah dan masyarakat itu sendiri. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x