Mohon tunggu...
Adya Oriza Satifa
Adya Oriza Satifa Mohon Tunggu... Mahasiswa

Mahasiswa Universitas Padjadjaran, Program Studi Ilmu Informasi dan Perpustakaan

Selanjutnya

Tutup

Teknologi

Profesi Apa yang Eksis di Era Revolusi Industri 4.0?

27 Mei 2019   20:43 Diperbarui: 27 Mei 2019   21:06 0 11 6 Mohon Tunggu...

Dewasa ini perkembangan teknologi industri terasa sangat cepat. Hanya membutuhkan waktu beberapa tahun saja hingga akhirnya suatu teknologi dapat dikembangkan menjadi teknologi yang bisa dimanfaatkan untuk mempermudah pekerjaan manusia. Dengan perkembangan industri yang cepat itu lah maka disebut sebagai revolusi industri. Revolusi industri telah mengalami beberapa tahapan hingga akhirnya Indonesia mulai memasuki Revolusi Industri 4.0, walaupun sebenarnya di Jepang telah memasuki era Society 5.0.

Dalam buku The Fourth Industrial Revolution membahas tentang revolusi industri 4.0 lebih menekankan kepada perkembangan teknologi yang cakupannya lebih luas, yaitu pemanfaatan teknologi itu sendiri terutama dalam bidang fisik, digital, maupun biologi. Berbagai terobosan di berbagai bidang dalam revolusi 4.0 dapat segera kita rasarakan, diantaranya adalah mulai dari perubahan dari gene sequenting ke nanoteknologi, hingga 3D printing ke bioteknologi. Peranan teknologi lebih dikedepankan dibandingkan peranan manusia.

Revolusi industri 4.0 memiliki dampak positif dan dampak negatif jika diterapkan di negara berkembang seperti Indonesia. Dampak positifnya yaitu adanya perkembangan teknologi dan informasi yang semakin maju. Dalam hal ini lebih mengedepankan pemanfaatkan teknologi dalam bidang fisik, digital maupun biologi. Permasalahan di bidang kesehatan juga mampu diselesaikan dengan memanfaatkan bioteknologi yang dikembangkan. Sedangkan dampak negatif dari revolusi industri 4.0 yaitu  dengan segala kecanggihan teknologi dalam industri 4.0, peranan manusia akan bergeser sedikit demi sedikit dan digantikan oleh teknologi.

Hal yang sangat disayangkan dalam revolusi industry 4.0 ini adalah beberapa profesi akan menghilang secara perlahan-lahan. Beberapa profesi tidak akan ditemukan di masa depan. Hal ini dapat membuat lapangan kerja semakin sedikit karena tenaga manusia akan digantikan oleh teknologi. Dikhawatirkan akan semakin banyak pengangguran yang diakibatkan karena tergantikannya tenaga manusia oleh teknologi mesin dan robot. Lalu bagaimana manusia bisa survive dan bersaing dengan teknologi?

Robot dan mesin dianggap dapat bekerja lebih baik dari manusia karena tidak mengenal lelah dan dapat bekerja lebih cepat dibandingkan dengan manusia. Namun ada hal yang tidak dimiliki oleh robot tetapi dimiliki oleh manusia. Kreativitas dan soft skill manusia tidak dapat digantikan oleh teknologi. Adanya akal dan kreativitas manusia dapat menjadi modal utama untuk bersaing dengan teknologi di era industri 4.0. Dengan begitu, manusia dapat mengandalkan profesi-profesi yang menggunakan kreativitas agar tidak digantikan oleh teknologi.

Profesi-profesi yang akan selalu eksis di era revolusi industri 4.0 merupakan profesi yang mengandalkan kreativitas manusia. Profesi tersebut antara lain content creator, content writer, spesialis media sosial, SEO Spesialist, cyber security, Digital Public Relation, Manajer Permasaran Digital, Developer Software, dan yang terakhir adalah Web Developer. Profesi yang telah disebutkan ini merupakan profesi yang tidak bisa dilakukan oleh robot. Hal ini bisa dimanfaatkan oleh manusia untuk bersaing di era revolusi industri 4.0. Dengan adanya kreativitas dan akal yang dimiliki, manusia juga bisa membuka lapangan kerja baru bagi ribuan pengangguran yang berkompeten.

Dari profesi yang telah disebutkan di atas dapat disimpulkan bahwa di era industri 4.0 manusia dapat mengandalkan kreativitasnya sebagai profesi yang tidak akan tergantikan oleh teknologi. Manusia merupakan tenaga kerja yang paling berkualitas, bahkan robot yang canggih pun memerlukan bantuan manusia untuk mengoperasikannya. Jika dilihat dari sisi positifnya, teknologi yang ada sekarang dapat digunakan untuk menunjang kreativitas dan menjadi alat bantu dalam mengerjakan berbagai aktivitas manusia. Manusia tidak perlu menyalahkan keberadaan teknologi karena dianggap telah menggantikan tenaga manusia. Yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kualitas diri agar bisa terus bersaing di tengah perkembangan teknologi.

Sumber Referensi:

Naisbitt, John, Nana Naisbitt, dan Douglas Philips. (2001). High Tech High Touch. Bandung: Mizan Media Utama.

Schwab, Klaus. (2016). The Fourth Industrial Revolution. World Economic Forum.

Youthmanual.com

VIDEO PILIHAN