Mohon tunggu...
Adrian Chandra Faradhipta
Adrian Chandra Faradhipta Mohon Tunggu... Menggelitik cakrawala berpikir, menyentuh nurani yang berdesir

Praktisi rantai suplai dan pengadaan barang/jasa di industri hulu minyak dan gas Indonesia. Penulis buku Horizon (Ellunar Publisher, 2020) dan urun menulis buku antologi puisi Elipsis (Ellunar Publisher, 2020) serta Di Balik Ruang Tanpa Garis Temu (Alinea Publishing, 2020). Pendiri dan penggiat literasi Pojok Baca Muaradua (POBAMA) ***semua tulisan adalah pendapat pribadi terlepas dari pendapat perusahaan atau organisasi

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Artikel Utama

Teruntuk Ayah dan Ibu di Kampung Halaman

9 Mei 2021   21:10 Diperbarui: 13 Mei 2021   05:45 791 23 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Teruntuk Ayah dan Ibu di Kampung Halaman
Momen Setelah Salat Ied Bersama Keluarga di 2019. Sumber: dokumentasi pribadi

Teruntuk Ibu dan Ayah di Kampung Halaman

Tak terasa sudah lebih dari setahun yang lalu kami mengabarkan bahwa kami sekeluarga di Bandung tidak dapat pulang ke kampung halaman karena wabah corona.

Ternyata tahun ini pun kami hendak mengabarkan hal yang sama. Kami tidak dapat menghabisakan waktu untuk berbuka puasa maupun sahur di akhir-akhir Ramadan seperti tahun-tahun sebelum pandemic melanda ataupun menghabiskan malam takbiran dan salat Ied dengan suasana syahdu di kampung halaman.

Tentu kami sedih, tentu kami rindu, tentu Idul Fitri kami tidak akan sepenuhnya bahagia tanpa kebersamaan kita di kampung halaman, namun semua memang harus dikorbankan demi kesehatan dan kemaslahatan kita bersama di tengah pandemi yang masih melanda.

Jika berkenan untuk mengulang momen-momen sebelum pandemic, tentu saya akan mengingat momen-momen kami harus berjibaku dengan kerepotan membawa beberapa koper pakaian dan oleh-oleh untuk dibagikan di kampung halaman dengan anak kami masih di gendongan.

Sesampainya di Palembang kami masih melanjutkna perjalanan 7-8 jam menuju rumah kita di Muaradua, OKU Selatan, Sumatra Selatan. 

Perjalanan yang melelahkan apalagi dalam keadaan berpuasa dengan membawa 1 anak balita. Tetapi, semua itu seakan sirna ketika kami disambut di rumah oleh Ayah dan Ibu.

Hari-hari menjelang Idul Fitri semakin semarak dengan aroma masakan khas lebaran yang disiapka Ibu, Adik dan istri saya seperti rendam daging, opor ayam, ketupat, sambal kentang, dan lain sebagainya. 

Sementara kami bermain bersama Athar yang saat itu belum pintar bercakap-cakap.

Oh ya momen salat Ied dan halal bi halal ke tetangga dan handai taulan juga sangat seru apalagi mencicipi berbagai camilan khas lebaran yang tentunya sukses membuat perut kenyang dan penuh sekali hahaha, tidak baik untuk dicontoh.

Saya juga mengingat kita juga berkunjung ke kampung halaman Ayah dan Ibu untuk berziarah sekaligus halal bi halal dengan keluarga di sana sekaligus mengunjungi kebun dan sawah yang sudah lama tidak kita kunjungi bersama.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN