Mohon tunggu...
Adrian Chandra Faradhipta
Adrian Chandra Faradhipta Mohon Tunggu... Menggelitik horizon cakrawala berpikir

Sehari-hari menjadi Kuli di Industri Migas Indonesia dengan ketertarikan pada dunia social volunteerism, kepemudaan, dan organisasi.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Ah, Sudahlah Aku Bagian Populasi Kartono, Bukan Kartini

22 April 2019   17:42 Diperbarui: 22 April 2019   18:10 0 3 1 Mohon Tunggu...
Ah, Sudahlah Aku Bagian Populasi Kartono, Bukan Kartini
Pejuang Literasi, Sumber: Dokumen Pribadi

Aku sering bingung mengapa Hari Kartini harus selalu dikaitkan dengan kebaya dan sanggul lalu diadu dalam sebuah kompetisi?
Memilih yang paling mirip Kartini?

Tapi aku pikir kita tidak perlu selalu bekutat dalam menjadi siapa yang lebih mirip Kartini ataupun siapa yang lebih Kartini

Aku pikir Ibu Kartini akan lebih bangga jika setiap pribadi menjadi diri sendiri

Namun, mengamalkan nilai-nilai perjuangan yang dirintisnya agar tetap lestari

Jujur aku tidak terkesima pada mereka yang mengklaim sebagai "Kartini Masa Kini", namun abai sebagai Ibu sekaligus Anak dan Istri

Aku merasa biasa saja kepada mereka yang merasa "paling kartini" hanya karena bersolek dan berposisi tinggi, namun tidak pernah ikut serta membangun keluarga, masyarakat, dan lingkungan sendiri

Aku lebih kagum kepada mereka perempuan yang berjuang keras membersihkan jalanan ibukota setiap pagi, hanya demi makan dan pendidikan anak-anaknya terpenuhi

Aku angkat topi kepada adik-adik perempuan kami yang selalu berjuang memperkaya khazanah keilmuannya sejak dini meski harus ke sekolah tanpa alas kaki, meski kerap tidak sarapan pagi, dan meski pula tidak dilengkapi fasilitas yang memadai

Aku harus merendah diri di hadapan para Ibu yang setiap hari dengan tulus dan ikhlas menyiapkan sarapan pagi, menyapu sana-sini, belum memandikan anaknya lagi, bahkan dia sampai lupa untuk mengurus diri sendiri; jika sakit dia berusaha membohongi diri sendiri dengan alasan semua dilakukan pakai hati

Namun, aku tidak menafikkan masih banyak perempuan-perempuan tangguh di negeri ini yang berjuang dengan jalannya sendiri

Dia perempuan yang terus melajang, seorang diri. Lalu, apakah dia kurang kartini? Bisa jadi dia sedang berjuang untuk menata diri, mendapatkan amanah untuk memang sendiri, atau karena itu pilihan dia sendiri.

Ada seorang Istri yang belum atau tidak memiliki keturunan. Lalu, apakah dia kurang "kartini"? Bisa jadi itulah yang menuntun dia dan keluarganya menjadi ahli syurgawi, bisa jadi mereka sedang berjuang mati-matian untuk mendapatkan buah hati, atau memang kembali itu adalah pilihanya sendiri karena alasan itu dan ini

Ah ...sudahlah aku kan bagian populasi Kartono bukan Kartini



*foto2 ini adalah murid-murid SD Negeri Tanjung Jaya, Tanjung Kurung, OKu Selatan yang awalny berstatus SD Swasta berada di daerah terpencil dengan akses jalan yang sangat sulit. Tetapi dengan kepedulian dari rekan co-founder Pojok Baca Muaradua - Pobama Kak Joe Willander serta relawan lainnya terutama Dhimas Dhoeloe akhirnya didirikanlah Program Pejuang Literasi dibawah binaan Pojok Baca Muaradua, dengan tujuan kami bisa memberikan bantuan baik buku2 bacaan, seragam, separu dan lain sebagainya kepada adik-adik kami di wilayah terpencil ini.

Sekarang dengan bantuan pemerintah Kabupaten OKU Selatan dan Pejuang Literasi dan POBAMA, SD Swasta ini sudah berubah statusnya menjadi SD Negeri Kelas Jauh di bawah binaan SD Negeri Tanjung Kurung. Berbagai peningkatan fasilitas dan program belajar mulai dilakukan.

Semoga Allah kiranya membantu kami dan para relawan lainnya serta masyarakat yang peduli dan terutama adik-adik dan pengajar disana dapat berjuang bersama untuk akses pendidikan yang berkeadilan dan sesuai dengan semangat Ibu Kartini, dan pada akhirnya dapat mengantarkan adik-adik kami tersebut meraih cita-citanya amin.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x