Aditya
Aditya Ketum FORMADIKSI UNRI

Sang Pembidik Mimpi, Membidik Prestasi Membangun Negeri.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Mengeja Rasa

12 Juli 2018   11:31 Diperbarui: 13 Juli 2018   08:55 449 0 0
Mengeja Rasa
Senja di langit Dumai, Pantai Koneng l dokumen pribadi

Malam kian tenggelam dan mata tak kunjung terpejam. Jam di dinding berdetak begitu jelas terdengar. Suara jangkrik memecah keheningan malam. Kenangan tentangnya mengetuk jendela kamarku malam ini, lagi. Aku hampir lupa kapan terakhir mengulik rasa. Sebab sejak kepergiannya yang tanpa sedikitpun kejelasan, raga ini tak lagi bernyawa.

Kau menyapa dengan begitu lembut, membuatku melupakan sejenak keperihan yang kurawat sejak lama. Aku seakan dimabuk asmara pada pandangan pertama. Kita begitu dekat, layaknya sepasang sepatu, namun sayang, kamu bukan milikku. Mendambakanmu tanpa kau tahu mungkin adalah cara terbaik mencintaimu. Benakku begitu penuh tanya, apakah kamu memiliki rasa yang sama?

Waktu terus melangkah dan kita masih mengeja perihal rasa. Asal kamu tahu, rasa ini begitu sesak di dada tapi kupilih diam seribu bahasa sebab aku buta aksara rasa. Barangkali aku yang terlalu taku kembali patah sehingga keraguan bertahta di jiwa.

Makin kesini chat kita semakin singkat. Entah hanya aku yang merasa atau kau telah menemukan sosok yang lebih asik. Dikala malam tiba, aku kerap membisikkan pada angin malam bahwa aku tengah merindu dan tolong sampaikan padamu. Selamat terlelap, semoga kau benar jodohku. Pun jika tidak, biar keikhlasan menjadi sandaran bagi raga yang lelah.

Kini pesan darimu tak lagi terlintas. Dan malam benar-benar sunyi tanpa sedikitpun pesan darimu. Menatap layar HP berharap ada pesan darimu, entah sekadar memberi kabar atau mengucapkan selamat malam. Kini kita bagai dua asing yang tak saling bertegur sapa.

Malamku dipenuhi pertanyaan, mungkin kau telah menemukan sosok lain untuk berbagi cerita ketika malam tiba. Dan kini aku hanya bisa memperhatikanmu dari postingan snap  WA, barangkali kutemukan sisa-sisa renjana. 

Penyesalanku adalah menjadikanmu alasan dari tiap malamku menahan kantuk. Penyesalanku, adalah tak sedikitpun keberanian menyatakan rasa yang terasa sesak di dada. Dan kini aku kembali menemui sepi, kembali melangkah menjadi musafir cinta. Berharap menemukan cerita dengan akhir bahagia. Aku tenggelam dalam laut imaji, hingga tak sadar bahwa hari telah berganti.