Mohon tunggu...
Adica Wirawan
Adica Wirawan Mohon Tunggu... Wiraswasta - "Sleeping Shareholder"

"Sleeping Shareholder" | Email: adicawirawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Ketika Alat Musik dari Relief Candi Borobudur "Bersuara" dengan Penuh Sukacita

15 Mei 2021   07:00 Diperbarui: 15 Mei 2021   07:00 1030
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Interpretasi Karmawibhangga

Relief alat musik tadi sejatinya banyak ditemukan di kaki Candi Borobudur. Hal ini bisa dimaklumi, mengingat kaki candi memuat ajaran tentang Karmawibhangga. Karmawibhangga adalah Ajaran Buddha yang menjelaskan topik tentang "karma dan buahnya".

Dalam sejumlah referensi yang bisa ditemukan secara bebas di internet, karma kerap didefinisikan sebagai "Hukum Sebab-Akibat" atau "Hukum Tabur-Tuai". Definisi ini sebetulnya kurang begitu tepat, mengingat konsep karma dalam Agama Buddha lebih menyoal tentang "perbuatan yang diniatkan".

Agama Buddha mengajarkan bahwa setiap perbuatan (baik atau buruk) yang dikehendaki "berpotensi" menghasilkan dampak tertentu. Oleh sebab itu, jangan heran, jika di bagian Karmawibhangga terdapat banyak sekali panel yang memperlihatkan perbuatan (baik atau buruk) yang dilakukan masyarakat Jawa Kuna beserta semua akibatnya.

Karmawibhangga di Candi Borobudur/ Sumber: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bkborobudur/kassian-cephas-fotografer-relief-karmawibhangga/
Karmawibhangga di Candi Borobudur/ Sumber: https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bkborobudur/kassian-cephas-fotografer-relief-karmawibhangga/
Terlepas dari ajaran moral yang terkandung di dalamnya, bagian Karmawibangga ini juga memuat informasi lain, seperti kegiatan bermusik yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Di sejumlah panel tampak gambar masyarakat yang sedang berkumpul memainkan alat musik, seperti suling, simbal, lute, ghanta, cangka, saran, dawai, dan gendang.

Dari situ bisa terlihat jelas bahwa seperti halnya masyarakat masa kini, orang Jawa Kuna ternyata juga suka bermusik. Bermusik agaknya menjadi sebuah hiburan di tengah rutinitas sehari-hari.

Dengan bermusik, mereka bisa melepas penat, sekaligus menjalin hubungan sosial dengan sesama. Alhasil, musik yang dimainkan secara bersama-sama menciptakan sebuah harmoni yang begitu kuat.

Sayangnya, kegiatan bermusik tadi kemudian lenyap disapu perubahan. Tak ada satu pun alat musik tadi yang tersisa. Semuanya hanya bisa terekam dan terkubur selama berabad-abad bersama relief Karmawibbhangga tersebut.

Replika Alat Musik

Setelah "hiatus" cukup lama, atas inisiatif sejumlah artis, seperti Trie Utami, Dewa Budjana, Purwa Caraka, dan lain-lain, akhirnya sejumlah alat musik tadi memiliki kesempatan untuk hadir kembali di atas panggung dunia lewat pagelaran Borobudur Culture Feast 2016.

Dalam acara tersebut, lagu "Padma Swargantara" yang digubah oleh Trie Utami dan Dewa Budjana sukses dipentas dengan iringan alat musik hasil replika dari relief Candi Borobudur. Alat musik itu di antaranya adalah Gasona, Solawa, dan Gasola, yang dibuat dari bahan kayu jati oleh seniman Ali Gardy.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun