Mohon tunggu...
Adica Wirawan
Adica Wirawan Mohon Tunggu... Wiraswasta - "Sleeping Shareholder"

"Sleeping Shareholder" | Email: adicawirawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Financial Artikel Utama

Salahkah "Mengendorse" Saham?

11 Januari 2021   07:00 Diperbarui: 11 Januari 2021   09:39 757
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi pergerakan harga saham| Sumber: Thinstock via Kompas.com

Pertanyaan-pertanyaan di atas memang agak sulit dijawab, mengingat butuh analisis yang lumayan mendalam. Namun demikian, menurut saya pribadi, sebetulnya tidak ada yang salah dengan hal tersebut. 

Tidak ada yang salah kalau ada seseorang yang memutuskan berinvestasi di sebuah saham dan kemudian menceritakannya kepada orang lain. Yang salah adalah kalau ada sesorang yang langsung membeli saham tanpa disertai pertimbangan yang matang hanya karena ada orang lain yang memiliki dan merekomendasikannya.

Opini tadi mungkin terkesan "ketus", tetapi hal itulah yang mesti dicamkan sebaik mungkin, sebelum kita berinvestasi di sebuah saham. Jangan sampai karena kita mengidolakan tokoh tertentu, maka kita langsung mengikuti jejak investasi yang dilakukannya. 

Inilah yang selalu menjadi "barometer" saya dalam berinvestasi saham. Biarpun saya mempunyai investor idola, tapi bukan berarti saya akan ikut membeli saham yang dimilikinya begitu saja. Kadang selera saham yang disukai saya dan idola saya berbeda. 

Sebagai contoh, sudah sejak lama, saya mengagumi Lo Kheng Hong. Investor yang kerap dijuluki Warren Buffett-nya Indonesia ini memang begitu inspiratif. Saat awal-awal berinvestasi saham, saya belajar banyak hal darinya. 

Bahkan, boleh dibilang, Lo Kheng Hong-lah yang mulanya menanamkan mindset investor yang benar dalam batin saya. Kalau sebelumnya belajar pada orang yang salah, mungkin sekarang saya sudah menjadi trader yang hobi berdagang "saham-saham gorengan".

Lo Kheng Hong/ sumber: lifepal.co.id
Lo Kheng Hong/ sumber: lifepal.co.id
Lo Kheng Hong diketahui mempunyai beberapa saham dalam portofolio investasinya. Sebut saja PTRO, MBSS, dan BMTR. Meski ia memegang saham-saham tersebut dalam jumlah yang sangat besar, namun saya tidak serta-merta ikut memilikinya. Alasannya? Karena ketiganya bukanlah saham favorit saya. 

Alhasil, biarpun sama-sama beraliran "value investing", namun saya punya pertimbangan tersendiri dalam menyeleksi saham. Oleh sebab itu, sekagum-kagumnya saya pada sosok Lo Kheng Hong, hal itu tetap tidak memberikan pengaruh apapun terhadap pilihan saham yang ingin saya beli. 

Melakukan Analisis Secara Mandiri

Daripada sekadar ikut-ikutan membeli saham, lebih baik kita menganalisis saham secara mandiri. Bagi sebagian orang, terutama yang masih awam, menganalisis saham mungkin agak ruwet dilakukan. Maklum, ada berbagai aspek yang perlu dipertimbangkan, sehingga terkesan cukup rumit. 

Padahal, berdasarkan pengalaman, menganalisis saham tidak sesulit itu. Tanpa harus mempunyai latar belakang pendidikan ekonomi, sebetulnya seseorang masih bisa melakukan analisis dengan baik, asalkan ia mau membaca berbagai dokumen, mengikuti perkembangan perusahaan lewat berita, hingga menghadiri acara-acara yang diselenggarakan oleh emiten, seperti public expo dan rapat umum pemegang saham.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Financial Selengkapnya
Lihat Financial Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun