Mohon tunggu...
Adica Wirawan
Adica Wirawan Mohon Tunggu... Founder of Gerairasa | "Sleeping Shareholder" | Email: adicawirawan@gmail.com

Founder of Gerairasa | "Sleeping Shareholder" | Email: adicawirawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Finansial Artikel Utama

Kalau Urusan Cinta, Investor Lebih "Jantan" dari Keanu Reeves?

20 Mei 2019   09:01 Diperbarui: 21 Mei 2019   09:35 0 6 3 Mohon Tunggu...
Kalau Urusan Cinta, Investor Lebih "Jantan" dari Keanu Reeves?
Keanu Reeves| Sumber: Frazer Harrison/Getty Images/AFP

Sebuah pameo lama pernah berkata, "Kita tidak bisa menolak dengan siapa kita jatuh cinta." Saya rasa pameo tadi ada benarnya. Sebab, cinta tumbuh secara alami. Ia bisa berkembang tanpa direncanakan sebelumnya. Kita tidak bisa menduga sebelumnya dengan siapa kita akan tertarik, serta bagaimana rasa cinta tersebut "membanjiri" batin kita. 

Jadi, jangan heran, kita dapat tiba-tiba jatuh cinta dengan seseorang hanya karena kita menyukainya. Sesederhana itu. Cinta memang tidak butuh alasan yang terlalu rumit.

Makanya, kita bisa jatuh cinta kepada siapapun, termasuk rekan kerja sendiri. Hal itulah yang sempat dialami Keanu Reeves pada awal kariernya. Dalam sebuah acara talkshow Ellen DeGeneres Show, baru-baru ini, pemeran John Wick ini mengaku sempat naksir dengan lawan mainnya dalam film Speed. Ya, aktor berusia 54 tahun ini secara diam-diam menaruh hati dengan Sandra Bullock sewaktu keduanya beradu akting di film tersebut.

Hanya saja, setelah film tersebut selesai, Reeves tidak pernah menyatakan perasaannya kepada Bullock. Ia beralasan ingin tetap bekerja secara profesional tanpa melibatkan perasaan apapun. Makanya, ia terus merahasiakan perasaan tadi selama bertahun-tahun.

Biarpun hanya dipendam di dalam hati, bukan berarti cinta itu "mati" begitu saja. Buktinya, saat mengenang produksi film tadi, Reeves sempat terbawa perasaan. Apalagi ketika pembawa acara, Ellen, menayangkan video wawancaranya dengan Bullock pada tahun 2018 lalu.

Di video tersebut, Sandra Bullock menyampaikan pernyataan yang mengejutkan. Ia ternyata juga punya "perasaan spesial" dengan Reeves. Namun, seperti Reeves, ia cuma menyembunyikan perasaan tadi karena merasa ada sesuatu tentang dirinya yang tidak disukai Reeves.

Cinta memang terkadang aneh seperti itu. Setelah bertahun-tahun, keduanya baru mengetahui isi hati masing-masing. Itu pun terungkap lewat talkshow!

Ketika Investor Jatuh Cinta
Seperti disinggung sebelumnya, siapapun bisa jatuh cinta, termasuk investor sekalipun. Hanya, tidak banyak investor yang secara blak-blakan bercerita tentang kisah cintanya. Mungkin Warren Buffett adalah satu contoh yang unik. Sebab, ia punya "kisah cinta" yang layak disimak, terutama kepada saham.

Kalau menonton film dokumentar Becoming Warren Buffett, kita akan mengetahui bahwa Buffett punya "hobi" sarapan yang agak aneh. Pasalnya, pagi-pagi ia kerap menyantap makanan di McDonald's dan menyeruput segelas Coca-cola. 

Biarpun termasuk junkfood yang bisa merusak kesehatan apabila dikonsumsi dalam jangka panjang, nyatanya, Buffett telah mengonsumsi panganan tadi selama bertahun-tahun. Ia jarang sekali mengubah menu sarapannya.

Lalu, mengapa Buffett senang mengonsumsi makanan tadi? Alasan sederhana. Ia adalah pemegang saham terbesar dari perusahaan yang memproduksi makanan tersebut. Jadi, jangan heran, ia begitu "mengidolakan" makanan yang dibikin perusahaan yang dimilikinya tersebut. Ia merasa memiliki "ikatan batin" yang kuat dengan produk makanan tersebut hanya karena ia menyukai saham perusahaannya, yang terus bertumbuh melipatgandakan kekayaannya.

Tak hanya dengan makanan, Buffett juga jatuh cinta dengan surat kabar Washington Post. Semua itu bermula ketika ia menjadi loper koran Washington Post saat berusia remaja. Ia menggandrungi surat kabar tadi sampai-sampai ia membeli sahamnya sebesar 11 juta dollar pada 1973. Sejak saat itulah ia terus memegang sahamnya selama 40 tahun sebelum menjualnya pada tahun 2013 dan mendapat untung 9.000%!

Saya memahami perasaan Buffett karena saya pun mengalaminya juga. Saat membeli saham perusahaan jamu beberapa bulan lalu, misalnya, saya semakin tertarik pada produknya. Sudah sejak lama saya mengenal dan mengonsumsi produk yang dihasilkannya.

Namun, setelah memiliki saham perusahaan tadi, ketertarikan saya terhadap produknya jadi tambah kuat. Oleh karena sudah jadi fansnya, saya sampai-sampai merekomendasikan produknya kepada beberapa teman hanya untuk meningkatkan popularitas dan meningkatkan penjualannya!

Ketertarikan atas suatu produk memang bisa menjadi alasan seseorang dalam memilih saham. Kalau sudah "menggandrungi" suatu produk, investor kemungkinan besar akan turut mengoleksi sahamnya.

Hal itulah yang memengaruhi Sukarto Buyung sewaktu berinvestasi di saham Metrodata beberapa tahun silam. Bos PT Buyung Poetra Sembada Tbk ini mengaku membeli saham Metrodata karena sudah mengenal salah satu produk yang dipasarkannya, yaitu komputer IBM dan printer Epson.

Tak hanya aspek produk, Sukarto juga mempertimbangkan para pemegang saham lainnya. Mayoritas saham metrodata dipegang oleh perusahaan Ciputra, yakni Ciputra Coorpora. Ia jadi semakin yakin berinvestasi di perusahaan tersebut karena reputasi manajemen Ciputra yang terkenal punya kapasitas dan integritas.

Makanya, biarpun saat itu, harga saham Metrodata hanya Rp 70/lembar, Sukarto berani memborongnya hingga punya kepemilikan sebesar 7%. Bertahun-tahun kemudian Metrodata terus bertumbuh. Kini harga sahamnya sudah mencapai 1.000-an/ lembar dan ia berpotensi mengantongi keuntungan 1000% lebih!

Seperti Reeves, investor ternyata bisa jatuh cinta secara diam-diam. Uniknya, mereka tak perlu terang-terangan menyatakan cinta. Mereka cenderung lebih senang beraksi dengan membeli sahamnya daripada menunggu terlalu lama. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2